“Mas, mubaadalah, dong!” tegur saya suatu sore, ketika melihat tumpukan baju belum dijemur, lantai belum disapu, dan piring kotor yang belum dicuci. Dengan sigap suami pun menjawab, “Klo berat dilakukan sendiri nanti cari orang lain aja (red.asisten), jadi kamu bisa ngerjain yang lain dan ga capek dek”, tegasnya. “Sebenarnya dia paham ga sih, arti mubaadalah”, gerutu saya dalam hati.

Kejadian tersebut terjadi ketika saya baru kenalan dan mendengar perspektif mubaadalah namun belum mengerti dengan baik. Dan baru kali ini saya mengerti bahwa cara yang saya lakukan adalah salah besar. Hehe. Karena tugas kita adalah mengajak orang untuk bermubaadalah, bukan memaksa.

Pandangan yang mengakar di masyarakat, pekerjaan domestik adalah kewajiban seorang istri (perempuan), sebagai ladang pahala yang melimpah karena membantu suami dalam meng-handle segala urusan rumah tangga. Bisa dibayangkan bukan? Betapa keletihan menjadi berlipat ketika seorang istri pekerja di ruang publik, juga dibebankan pekerjaan domestik ditambah pula dengan pengasuhan anak? Sedangkan bagi suami pekerja tidak ada beban (tanggungjawab) sama sekali terhadap pekerjaan domestik? Adilkah relasi suami dan istri seperti ini?

Atau ketika suami pekerja dan istri hanya bekerja di ruang domestik? Bagaimanakah relasi yang sebaiknya terbangun antara suami dan istri? Bagaimana bila kedua suami istri memang hanya bekerja di ruang domestik, bisa jadi karena bisnis yang berkembang dan bisa di handle oleh orang lain, atau warisan yang banyak sehingga tidak perlu lagi bekerja di ruang publik. Bagaimakah relasi yang adil antara suami dan istri tersebut?

Maka praktik mubaadalah menjadi penting untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mubaadalah merupakan perspektif kesalingan antara relasi laki-laki dan perempuan, baik dalam relasi keluarga, relasi kerja, relasi politik dan seluruh lini kehidupan. Dengan memahami dan menerapkan perspektif mubaadalah, berarti mengamini bahwa laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang sama-sama bisa menjadi subjek, dan bisa sama-sama aktif menebar kemaslahatan di muka bumi, baik di ruang domestik maupun publik. Sehingga kebermanfaatannya bisa memberikan sumbangsih bagi orang lain.

Kodrat perempuan di dapur, sumur dan kasur merupakan konstruksi sosial yang menyebabkan perempuan mengalami subordinasi sebagai manusia wingking (belakang) karena tidak diberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya di ruang publik. Bahkan untuk sekedar menjamu tamu, terkadang istri (perempuan) tidak diberikan akses untuk hal tersebut.

Ketika mengikuti kajian gender Islam, Bu Nur Rofiah menyampaikan bahwa urusan domestik bukanlah kewajiban seorang perempuan saja, butuh kesalingan dengan partner di rumah, pun jika tidak bisa dilakukan keduanya, sah-sah saja jika kita mendelegasikan urusan domestik kepada pihak ketiga (asisten). Hal inilah yang perlu didiskusikan antara suami dan istri sehingga tidak ada salah satu orang yang akan terbebani lebih berat. Karena lelaki dan perempuan adalah sama-sama subjek dalam keluarga. Dan berkewajiban melanggengkan kesalingan agar terbentuk keluarga yang maslahat.

Bapak Mubaadalah, Kyai Faqih Abdul Qodir menjelaskan “Sejatinya dalam praktik mubaadalah jangan menggunakan dalil (ayat) untuk mendiskreditkan seorang perempuan sehingga geraknya terbatas dan termarginalisasi. Sebaliknya jangan menggunakan kajian-kajian gender, untuk mendiskreditkan laki-laki sehingga menjadi terpojok”. Mari kita mengajak praktik kesalingan, agar bahagia dan membahagiakan.

(Hifni Septina Carolina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here