Budaya Lampung

0
377

Kali ini tidak untuk dibincangkan lagi. Ari Budiman Sanjaya mahasiswa Ekonomi Syariah IAIN Metro angkatan 2015, berjuang menghidupkan budaya Lampung di Payungi. Sebuah inisiatif yang bukan hanya lagi konsep. Semua karena cinta, Minggu lalu Ari menjual jajanan tradisional asli Lampung seperti sekubal, legit, engkak, ghagbu ngnghang dan Minggu ini akan membuka spot selfie adat Lampung.

Payungi punya mimpi ada bangunan arsitektur adat Lampung yang bisa ditampilkan. Permainan gitar tunggal, tarian, kelas bahasa dan aksara Lampung. Saya pribadi miris banyak tempat wisata mengakomodir spot selfie adat Jepang tapi melupakan adat Lampung. Rumah depan Pak Tsauban diubah Ari dengan hiasan kain ornamen Lampung. Maghrib ini Nanda Megarati Suci diminta Ari untuk dandan pakaian Lampung dan tim memotretnya berulang-ulang.

Budaya pada dasarnya tidak bisa dijual. Karena itu menghidupkan budaya adalah sesuatu yang sangat mahal. Banyak tamu dari luar daerah bahkan di Jawa datang ke Payungi ingin melihat adat Lampung. Pasar Yosomulyo Pelangi sebuah gelaran pasar jajanan tradisional setiap Minggu jam 06.00-11.00 terus berupaya melakukan hal-hal baru. Tidak ada jeda untuk perubahan, warga penggerak terus menggali potensi apa lagi yang bisa dikembangkan.

Masyarakat budaya adalah masyarakat pasca kesejahteraan. Jadi jika hari ini budaya makin terkikis artinya bangsa kita pada titik kemiskinan, bisa diartikan kemiskinan imajinasi. Para leluhur yang mencipta banyak sekali alat musik, pakaian adat, tarian, kuliner, arsitektur, dan gelaran adat yang beragam adalah ciri masyarakat pra sejahtera. Apa yang akan manusia lakukan setelah kebutuhan dasar terpenuhi? Jawabannya adalah berbudaya.

Budaya lahir dari cipta, karsa dan karya. Budaya lahir dari pikiran-pikiran merdeka. Budaya dibangun dengan imajinasi entitas masyarakat. Aksara menjadi penanda bahwa leluhur berbagai suku bangsa ini adalah para pembelajar. Mereka lebih tua mengenal belajar dari pada institusi sekolah. Sekolah hari ini hanya bagian kecil dari proses belajar. Bahkan hasil sekolah belum bisa menandingi hasil kebudayaan Nusantara yang begitu mahal dan tidak bisa tertandingi.

Bangunan Borobudur yang megah itu tak ada lagi pimpinan proyek level pemerintah yang sanggup membangunnya. Maka Borobudur masuk bagian 7 keajaiban dunia. Menemukan racikan makanan pecel saja kita memikirkannya begitu rumit. Bagaimana racikan pecel itu ditemukan? Maka pantas jika rendang masuk makanan terlezat menurut beberapa survei. Bagaimana alat musik berbagai bunyi itu ditemukan kemudian dapat seirama? Sungguh bangsa kita adalah bangsa yang kaya dan imajinatif. Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi dan Warga Berdaya harus bersama-sama melestarikan adat Lampung dapat gerakan destinasi wisata budaya.

Dharma Setyawan
Penggerak Pasar Yosomulyo Pelangi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here