Hari ini 1 tahun lalu, 9 hari kemudian tepat 28 Oktober 2019 kami nekad melaunching Payungi. 1 tahun yang lalu saya dan Pak Tsauban mengumpulkan warga RW 07 RT 19, 20 dan 21. Semalam pemuda-pemuda pertanian organik datang, dan saya mengatakan gerakan tanpa media itu nothing. Ingatan facebook di atas tanda kita tidak jeda mengabarkan ke publik apa yang kita kerjakan. Kenapa aktivis harus bisa menulis? Jawabannya, dengan tulisan imajinasi anda dilempar ke publik.

Lalu bagaimana jika tidak bisa menulis? Belajar. Jika anda hanya pandai bicara, suaramu akan hilang, kecuali setiap anda diskusi, ngobrol saat rapat-rapat di videokan, upload dan sebagainya. Tapi berbeda dengan tulisan, setiap gerakan sosial yang dikabarkan dengan tulisan, pasti mengandung ajakan, pengertian, informasi dan mimpi masa depan gerakan.

Di era media digital, anda tidak perlu berkirim surat secara manual untuk mengundang orang-orang datang pada kegiatan yang anda lakukan. Jika memang menarik–tulisan, desain grafis, video, berita, daya tarik lokasi, acara yang variatif–tentu orang-orang dari mana saja akan datang. Maka menulis bukan lagi hal yang tabu, menulis adalah cara kita menjelaskan ke publik maksud dan tujuan pikiran komunitas yang kita bangun.

Saya masih ingat saat semester V kuliah S-1. Setiap mading kampus saya tebar tulisan, kritik sana-sini. Lalu semester VII saya mulai menulis di Lampung Post dan Radar Lampung. Honor nulis Lampost 150 ribu sekali terbit dan 75 ribu di Radar Lampung. SPP kuliah saat itu 600 ribu pada semester ganjil dan 400 ribu pada semester genab. Jadi 1 juta satu tahun total SPP. Jika saya menulis Lampost setiap satu minggu sekali maka 4 minggu cukup untuk bayar SPP. Bahkan 14 tulisan saya di Radar Lampung hangus karena lama tidak diambil.

Setelah itu saya S2 di UGM dan mulai keranjingan menulis di koran-koran Jawa. Menulis di Bali Post, Solo Post 250 ribu, Media Indonesia 250 ribu, Republika 500 ribu, bahkan pernah media online detik.com 400 ribu. Hari ini saya lama tak menulis untuk koran, mungkin karena bersama kawan-kawan saya punya media online sendiri. Di luar itu saya hari ini memang menulis hanya untuk gerakan yang saya lakukan. Saya menulis cukup di dinding facebook dan media online yang kami kelola sendiri.

Point penting bukan pada uang honor menulis, tapi bagaimana tulisan kita bisa menginspirasi, memberi gagasan dan menjadi dinamika antar penulis. Menulis di koran pada saat itu menarik, karena akhirnya kita berkenalan dengan banyak penulis-penulis koran lainnya. Kita juga akhirnya juga harus banyak membaca buku. Saya membaca banyak jurnal dan opini berbagai tokoh. Saya menyukai Ignas Kleden, Radhar Panca Dahana, Romo Sindunata, dan penulis-penulis lainnya.

Era sekarang lebih mudah, menulis opini, cukup dengan HP di tangan, sambil rebahan bahkan sambil nonton video youtube. Dulu saya setiap sore jam 17.00 selalu di depan laptop menulis tema apa saja yang ingin saya tulis. Saya juga heran, dari 8 ribuan anak IAIN Metro, banyak yang susah menulis di Lampung Post. Khusus anak ESy jika terbit di koran, akan saya tambahi 200 ribu, kawan organisasi Direktur Adzkiya Saiful Anwar akan tambah juga 200 ribu dan dari koran dapat 150 ribu. Lumayan sebenarnya anak-anak Ekonomi Syariah IAIN Metro akan dapat 550 ribu. Heran memang, belum ada yang berani mencoba militan menulis.

Dharma Setyawan
Penggerak Wisata Desa #AyokeDamRaman dan Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here