Penulis : Dharma Setyawan

Pendidikan seni kita itu lebih baik banyak kembali ke akar budaya. Membangkitkan lagi tradisi, akan menjadi magnet bagi bangsa lain untuk datang, belajar, dan jadi kompas peradaban. Seni yang selama ini masih diberi ruang sedikit pada tingkat SD, SMP dan SMA adalah kritik kepada dunia pendidikan kita. Dana Bos yang katanya hanya jadi sarang bancakan kepala sekolah dan bendahara itu, harus mulai dibelanjakan ke alat alat seperti gamelan, angklung, baju adat, dan alat musik berbagai daerah yang lengkap.
Anak-anak yang diajari seni, mereka akan halus makna. Peka terhadap irama, hidupnya akan luwes dengan tangga perbedaan. Beberapa anak SD Muslim, kita dapati sudah anti agama lain padahal dia masih mengenyam pendidikan dasar. Agama diajarkan untuk diobok-obok perbedaan sejak dini. Seharusnya manifestasi agama lebih ke persoalan moral yang serius. Berbakti ke orang tua, menghormati kawan, berbuat baik ke tetangga, tidak membuang sampah sembarangan dan lainnya.
Hafalan Al Quran anak-anak yang sering difestivalkan oleh sekolah-sekolah Islam memang menarik. Tapi lebih menarik lagi, nilai kebangsaan dan kecintaan terhadap saudara se-Pancasila juga wajib dianggit. Lebaran kemarin sangat terasa saat kumpul keluarga. Beberapa ponakan yang sekolah Islam, begitu agresif dengan non Islam. Tapi keluarga besar harus pelan-pelan memberi pengertian apa itu perbedaan. Apa itu non muslim, apa itu kafir, apa itu surga dan neraka.
Apa hubungan dengan musik di atas? Veteran gagal Suriah yang belum lama ini viral jadi pelajaran. Gagalnya menjalani seni dalam hidup, dan terlalu semangat memaknai hijrah tanpa kecerdasan, yang muncul adalah kekakuan. Saya masih ingat video youtube HRS yang mendukung ISIS (semoga sekarang tidak). Pengikutnya tentu mengikuti sang Imam. Menyedihkan lagi saat keluarga veteran bercerita terkait anaknya yang masih SD ditanya pasukan ISIS sudah menstruasi atau belum.
Jauh mulia para Exsil pendukung Bung Karno. Mereka mencintai tanah air tapi tak bisa pulang dan akhirnya menua di belahan bumi lainnya. Kalau Veteran gagal ISIS ini tentu secara kemanusiaan saya iba dengan kebodohannya. Namun jika budaya kita diharamkan, bahkan angklung itu dianggap barang tak berguna misalnya. Pandangan tipikal muslim yang jongkok itulah yang membuat kita panas di hati dan pikiran.
Budaya kita dienyahkan sejadi-jadinya. Lalu keragaman kita ingin dibuat homogen, dan kelak berakhir mereka menawarkan perang, haram, dan stigma kafir kepada yang berbeda. Kehidupan yang kompleks ini, Nabi banyak cara untuk menjinakkan dunia dan membangun tujuan akhirat. Misal jika memang budaya itu dihancurkan sejadi-jadinya, tentu di Timur Tengah sudah musnah tarian perut, tabuhan alat musik, lagu, nyanyian, syair dan seni lainnya.
Hidup adalah seni. Seni adalah hidup. Berkomunikasi dengan orang lain adalah seni. Berpakaian dengan tampilan yang berbeda adalah seni. Membaca Al Quran dengan berbagai nada berbeda adalah seni. Membeli gamis hijrah yang katanya jutaan itu hakikatnya adalah seni. Dan seni memang mengakomodir perbedaan. Berbeda bahan, berbeda kualitas kain, berbeda ukuran, motif, berbeda yang endors (Syahrini misalnya). Tanpa perbedaan dalam seni tak ada irama. Karena perbedaan itulah muncul harga, kualitas dan jumlah produksi. Point pentingnya di dalam ketinggian seni, maka akan semakin tinggi nilai perbedaannya. Pertanyaanya, jika gamis yang mengandung “perberbedaan” kualitas itu saja harganya jadi mahal, kenapa mereka harus menuntut kesamaan dalam budaya sehari-hari?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here