Viral Wanita Bercadar Pelihara Belasan Anjing, Ini Komentar Tokoh MUI

Wanita bercadar bernama Hesti Sutrisno (37) punya hobi yang anti mainstream: memelihara anjing. Bagi non-muslim, memelihara anjing mungkin tidak menjadi persoalan, namun bagi yang beragama islam, pilihan Hesti bisa dibilang melawan pakem umum, apalagi dirinya memakai cadar.

Saat ini Hesti yang tinggal di Pamulang tengah ini memelihara 11 ekor anjing dan 30 kucing yang didapatnya di jalanan. Hobinya yang unik tersebut menuai banyak komentar di media sosial. Ada yang menghujat, tetapi ada juga yang mengapresiasi tindakannya ‘menyelamatkan’ hewan-hewan jalanan tersebut.

Terkait fenomena Hesti, dilansir dari kumparan.com, Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Asrorun Niam memberi tanggapan. Menurut Niam yang juga doktor hukum Islam, apa yang dilakukan Hesti dengan memelihara anjing sah-sah saja, tetapi ada adabnya.

“Pada prinsipnya, Islam mendorong umatnya untuk berbuat ihsan (kebaikan) pada sesama makhluk, termasuk kepada hewan dan tumbuhan. Kita wajib untuk menjaga keseimbangan ekologis, merawat lingkungan hidup agar lestari dan mencegah terjadilah kerusakan alam,” kata Niam, Rabu (28/3).

Menurut dia, habitat hewan termasuk anjing mesti dijaga keberlangsungan hidupnya.

“Melindungi dari kepunahan, tidak boleh menyiksa, dan tidak boleh melakukan perbuatan aniaya,” tambah dia.

“Khusus untuk anjing, secara umum, dia haram untuk dikonsumsi. Liurnya najis berat, atau dalam istilah fikih, najis mughallazhah. Pencuciannya membutuhkan tata cara khusus, dibasuh tujuh kali, salah satunya didebu,” imbuh dia.

Namun menurut Niam, anjing bisa dimanfaatkan diantaranya untuk berburu dan untuk menjaga rumah. Dengan demikian, pada hakikatnya ada jenis anjing yang boleh untuk dipelihara.

“Ada juga jenis anjing yang diperintahkan untuk dibinasakan, yaitu jenis al-kalb al-akuur. Intinya, anjing ada beberapa jenis juga. Anjing yang mendatangkan bahaya, tidak boleh. Sedang anjing yang memiliki manfaat khusus, bisa dipelihara sepanjang memahami komodor dan ketentuan hukum Islam,” jelas Niam.

“Dan yang tak kalah penting, tidak mengganggu lingkungan, tidak meresahkan masyarakat dan merusak kerukunan,” tambahnya.

Niam juga mengingatkan, apabila ada anjing yang kelaparan atau membutuhkan makanan, jangan sungkan untuk memberikan makanan.

“Kalau ada anjing liar kelaparan, kita punya tanggung jawab untuk menyelamatkannya. Tapi harus dicatat, harus memahami koridor hukum Islam dan etika bertetangga saat memelihara anjing,” tutupnya. (*)