Terburu, Bergegas

30 Juni 2016, Bu Nyai Hajjah Siti Fatmah Mustofa Bisri mangkat. Bu Nyai teladan pendamping Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Mustofa Bisri (Gus Mus) berpulang ke rahmatullah di RSUD Rembang sekira pukul 14.30 WIB. Semua, kami, kehilangan Bu Nyai teladan. Dalam hati, aku berulang membatin, “Ya Allah… Ya Allah…”. Risauku itu merujuk kepada Mbah Mus. Simbah kakung terlalu sering mengunggah foto bersama Ibu, hampir-hampir dalam setiap momen apa saja. Mulai dari memasak di dapur, mencandai cucu, pamer lukisan, foto bersama keluarga besar, hingga perjalanan ke Mekkah Al Mukaromah (Sampaikan, sampaikan kami semua untuk menziarahi Makam Rasulullah dan para Sahabat.)

Pagi betul keesokan harinya aku bergegas meninggalkan Solo menuju Blora. Kupacu motorku lekas-lekas. Sepanjang jalan, bayangan yang bergelayut adalah bagaimana Bapak jika tanpa Ibu, atau bagaimana Ibu jika tanpa Bapak. Aku ingin menjawab, sepertinya Bapak lebih bisa bertahan tanpa Ibu, ah, tapi buru-buru kutepis. Ibuku itu, hidupnya adalah hari-hari dengan nama Bapak. Hampir 24 jam yang ia miliki adalah untuk kopi bapak, menu makan bapak, pakaian kotor dan pakaian bapak yang harus ia setrika (oh, perabotan bapak itu menjemukan. Ukurannya besar-besar: Jubah gamis, jas, pantalon, surban, dan sarung. Semuanya berukuran panjang dan lebar). Pada berkali waktu, di hadapanku, Ibu sering mengelus pipi bapak sambil berucap terimakasih.

“Aku wong hino. Yen ora ketemu awakmu, mungkin sampe saiki isih hino. Matur nuwun ya, Pak, kowe wis ngangkat drajatku.”

Aku ini orang hina. Kalau tidak bertemu dirimu, mungkin sampai sekarang aku masih hina. Terima kasih ya, Pak. Kamu sudah mengangkat derajatku.

Sedikit banyak, aku tahu perjalanan mereka di masa lalu. Masa-masa yang digambarkan Bapak, masa ketika ia mengoplos ciu, autan, obat nyamuk dan bahan kimia lain untuk ditenggaknya sekali waktu namun ia tidak mati-mati.

“Bapak sering terbangun ketika matahari sudah tinggi. Bapak mendapati diri terkapar di tepian jalan dengan pakaian awut-awutan bahkan tanpa pakaian…,” Bapakku itu menghela napas.

“Pernah suatu kali Bapak ambruk di tengah jalan besar setelah mabuk tinggi. Datang truk besar sekali. Kupikir, sebentar lagi tamat riwayatku. Tapi truk yang seukuran truk gandeng itu berhenti. Sopir dan keneknya turun. Menyeretku, lalu membuang begitu saja tubuh hampir sekaratku ke tepian parit. Kalau ingat bagaimana mereka membuang tubuhku itu…Bapak tahu mengapa khamr itu diharamkan…Memang Bapak sudah seperti bukan manusia kala itu…” Tuturnya.

Pada usiaku yang jelang 25, aku sering ndusel di sisinya ketika ia dzikiran sore-sore di samping rumah. Cerita masa lalu Bapak selalu membuatku percaya bahwa hidayah itu wujud. Cerita masa lalu Bapak selalu menjadi pengingat buatku bahwa manusia tidak memiliki kekuatan sedikit saja untuk mengubah apapun, meski untuk satu kedipan, atau satu tarikan nafas. Cerita Bapak yang membuatku geram kepada orang-orang yang gemar menghakimi dan merasa bahwa shalihnya adalah berkat dirinya sendiri. Lahaula walaquwwata illa billaah.

“Pada sebuah pagi yang biasa Bapak terkapar di tepi jalan. Hari sudah terik. Dan banyak manusia sudah lalu lalang: ke kantor, ke pasar, ke sekolah. Hiruk pikuk. Tapi mereka semua tidak ada yang peduli pada Bapak. Sebelum terbangun, suara-suara itu adalah kesadaran pertama yang menghampiri Bapak. Tepat ketika Bapak membuka mata sambil terpicing sebab cahaya pertama sangat tajam, Bapak menangis. Dada Bapak gemuruh.”

“Ibumu kemudian menyaksikan Bapak mencukur rambut yang gondrongnya sudah nggak nyantai itu. Lalu dengan sisa uang yang habis buat main kartu dan alkohol, Bapak beli becak. Esok harinya, Bapak mengayuh becak itu untuk menjumpai KH Muharror Ali. Belajar Al Fatihah. Tiga bulan. Hanya untuk Al Fatihah.”

Bapak dan Ibu saling membutuhkan. Salah satu yang kehilangan lebih dulu, pasti akan menjalani hari-hari yang berat. Bagaimana Mbah Mus tanpa Bu Hajjah Nyai Siti Fatma?

Jumat siang itu aku menatap lekat-lekat sebuah papan panjang bercat hijau di kompleks pemakaman Kabongan Rembang. Papan bertuliskan nama-nama mereka, Al Maghfurlah: KH A Cholil Harun& Nyai, KH Chamzawi& Nyai, KH Bisri Mustofa& Nyai, KH Suyuti Cholil, KH M Cholil Bisri, KH Adib Bisri, KH Umar Faruq, Hj Faridah. Makam sudah sepi. Aku sempat tergugu mendengar talqin beberapa menit sebelumnya. Kusempatkan membatin rentetan doa tahlil di muka pusara Bu Hajjah Nyai Siti Fatma. Sebentar lagi, namanya akan tercantum di papan hijau itu.

Kompleks pusara para allamah itu biasa saja. Tanpa nisan yang megah. Tanpa pagar besi besar-besar. Sungguh sederhana. Di rumah, nama Mbah Bisri Mustofa (Romo dari Abah Mustofa Bisri), ada dalam lemari dalam lembar-lembar tafsir Al Ibriz dan Kitab kesayangan Bapak: Kitab Imamuddin. Di masa SD, kerapkali ketika sore-sore, Bapak duduk di samping rumah, mendaras Al Ibriz. Diriku yang berkeringat selepas main lompat tali atau mengejar kupu-kupu menghampirinya.

“Sini Kalis yang baca.”

“Bisa?”

“Bisa laaaah. Sudah makin lancar.”

“Eit. Dicium dulu kitabnya lalu alfatihah.”

Berbelas tahun selepas sore yang semacam itu, aku menjumpai banyak tempat dan banyak orang. Aku mendengarkan banyak gosip dan gagasan. Semua menempaku. Bising yang menambah percaya diri di ruang publik, namun menghadirkan sepi yang begitu meruyak ketika kembali hanya mengakrabi dinding kamar. Tanpa ruh. Kosong.

Barangkali karena belasan tahun ini aku begitu terburu, begitu gegas.

Dari makam Kabongan, aku berjalan kaki. Ramadhan masih beberapa hari lagi. Nafasku putus-putus dan keringatku mengucur di sela-sela rambut yang rapat oleh kerudung panjang warna abu-abu muram. Di tiap langkah menuju kompleks PP Roudhotut Thalibien, Leteh, Rembang, aku meminta kepada Maha pemilik langkah agar diperjalankan kembali ke tempat ini.

Aku menengok kanan dan kiri, tanpa terburu, tanpa gegas. Aku menghirup seluruh udaranya hingga di hadapanku nampak sosok Kiai Ulil Abshar Abdalla dengan batik warna coklat. Kuraih tangannya dan kuhirup punggung tangannya dalam-dalam. Aku akan kembali. Aku ingin selalu rindu. Aku ingin selalu mencecap manis perjumpaan, seperti air mataku yang tiba-tiba jatuh deras dan panjang saat mendengar suara pertama Abah Habib menyeru “Al Faaatihah” pada kliwonan lalu.

Ya, ada Bapak dalam Al Fatihah. Ada Bapak dalam wajah-wajah itu.

Kalis Mardiasih