Tentang Plagiasi

Ceramahku” ke Teman-teman Mahasiswa terkait Plagiasi: Panjang

Jujur dalam menulis karya adalah bentuk kerendahhatian. Semua yang kalian tulis, kecuali yang berada dalam tanda kutip, atau berupa catatan perut (dan tentu saja disertai footnote), berarti adalah bahasa kalian sendiri. Bahkan ketika itu bahasamu sendiri, tetapi kalian mengambil ide itu dari orang lain, kalian tuliskan kalian mengambil ide itu dari mana. Ketika kalian menuliskan ide orang lain tanpa footnote, atau ketika kalian menulis ide dan bahasa orang lain secara persis tanpa tanda kutip atau tidak dalam catatan perut disertai footnote, berarti kalian sedang mendaku ide atau bahasa orang lain sebagai ide dan bahasa sendiri. Hati kecil kalian tentu tahu bahwa tindakan demikian bukanlah tindakan yang mulia.

Lalu bagaimana caranya? Kecuali menuliskan dalam tanda kutip atau catatan perut ketika itu kutipan langsung alias copy paste, ya dengan teknik parafrase. Dan kalian bisa membaca sendiri bagaimana cara memparafrase yang benar. Setelah memparafrase, apakah lalu kalian sudah tidak perlu menulis footnote? Tentu tetap, karena kalian meminjam ide itu dari orang lain. Kalian ingat, setiap kalian menulis, kalian sebenarnya sedang membuat pengumuman “Halo para pembaca, semua bahasa di tulisan ini ada bahasaku, kecuali yang aku kasih tanda kutip atau kumasukkan di catatan perut.” “Semua ini adalah ideku, kecuali yang kutunjukkan dengan footnote.”

Problem plagiasi adalah problem yang sangat akut dalam dunia pendidikan tinggi kita. Selain ada yang memang sengaja melakukan tindakan curang/tercela, masalah utamanya adalah banyak di antara kita yang belum tahu: plagiasi itu yang seperti apa sih(?) Kalian tahu saya tahu etika prinsipil ini kapan? Setelah lulus S2 UIN! Parah kan? Jangankan kalian mahasiswa S1, mahasiswa S2, S3 bahkan dosen pun ada yang belum tahu apa itu plagiasi. Saya tidak ingin kalian mengulang kesalahan saya. Karenanya, saya tekankan prinsip ini dari awal.

Saya tahu menderitanya menulis menggunakan bahasa sendiri. Menderita dan sulit kan? Tapi saya harap itu jalan yang kalian tempuh mulai saat ini dan ke depan. Kalau tidak dimulai sekarang, kalian tidak akan beranjak sedikitpun. Percayalah.

Kalian tahu mengapa ada karya kalian yang penuh coretan saya dan ada yang bersih? Tugas teman kalian, X, penuh coretan saya. Kalian menganggap tulisan itu lebih buruk dari yang lain? Sama sekali tidak. Meski kalimat-kalimatnya masih banyak yang perlu diperbaiki dan saya kerepotan membacanya, saya luangkan waktu saya untuk membaca dan memberi catatan dengan teliti, karena saya tahu itu bahasa dia sendiri. Saya hargai usaha serius dia. Untuk kalian yang tulisannya bersih, ngapain saya repot-repot membaca tulisan yang bukan tulisan kalian sendiri? Sejak pertemuan pertama sudah saya tekankan, saya tidak peduli sehancur apa bahasamu, tulislah tugas kalian dengan bahasamu sendiri. Saya akan jauh lebih menghargai itu dibanding jika kalian copy paste ide dan bahasa orang lain.

(Di semester kemarin, sebagai refleksi dari respon paper mingguan dan esai UTS, aku habiskan waktu kurang lebih 5 jam, sebagian besar di luar jam kuliah, untuk memanggil satu persatu teman mahasiswa. Aku tanyai mereka satu per satu apakah mereka tahu apa itu plagiasi — Sebagian besar ternyata belum– Lalu kubantu menunjukkan dan menjelaskan mana tulisan dia yang mengandung unsur plagiasi sembari sesekali menuliskan tanda silang yang besar dan panjang di atas kertas mereka. Termasuk membantu menunjukkan bagaimana cara menjadikan tulisan mereka suci dari plagiasi.)

Tugas ini saya kembalikan. Saya harap kalian sucikan tulisan kalian dari noda dan dosa plagiasi. Dua minggu ke depan kalian kembalikan. Cetak dengan spasi satu dan gunakan kertas bekas.

Saya sudah menekankan ini sebegininya, sejak awal dan berkali-kali. Kalau di tugas akhir nanti kalian masih melakukan tindakan plagiasi, itu artinya kalian sudah siap sejak awal menanggung risikonya. Nanti, saya minta kalian untuk menuliskan nomor HP kalian di lembar kerja UAS. Dengan itu, saya bisa memanggil kalian untuk melakukan verifikasi jikalau saya mencium bau-bau plagiasi.

Tolong ingat pesan ini. Bahkan jikapun ke depan kalian bertemu dengan dosen yang tidak menghiraukan atau meloloskan plagiasi, tolong ambillah jalan ini, meski saya tahu, di awal, ini berat.

Selamat menempa diri, teman-teman! Doaku menyertaimu selalu.

Lien Iffah Naf’atun Fina