Tugas Menulis Makalah dan Perannya dalam Menyuburkan Plagiasi

Oleh: Lien Iffah Naf’atun Fina (Master Islamic Studies and Christian-Muslim Relations di Hartford Seminary, AS.)

Ada problem besar dan mendasar dalam metode belajar yang diterapkan di kelas kita. Tugas penulisan makalah (baik individu dan apalagi kelompok) sebagai bahan presentasi dan revisinya sebagai tugas akhir, selain tidak mencerdaskan (atau membodohkan), karena tidak mendorong mahasiswa untuk berpikir orisinil, juga turut menyumbangkan budaya plagiasi di pendidikan tinggi kita. (Tolong ambil napas. Saya tahu kalimat ini panjang).

Sekarang coba bayangkan. Saya ambil contoh mata kuliah “Pemikiran Tafsir Kontemporer.” Mata kuliah ini, atau semisalnya, diajarkan di tingkat S1, S2 dan S3. Biasanya dosen akan membagi mahasiswa sesuai dengan jumlah materi perkuliahan. Tugas mereka adalah menulis makalah tentang materi tersebut dan mempresentasikannya di kelas. Setiap tahun, dan di masing-masing strata, silabinya sering tidak terlalu berbeda. Bayangkan, akan ada berapa makalah tentang Pemikiran Tafsir Nasr Hamid Abu Zayd yang ditulis, dikalikan jumlah strata pendidikan, jumlah kelas masing-masing angkatan, jumlah PTAI di seluruh Indonesia, dan jumlah tahun!

Sistem ini tak jarang memakan korban. Skripsi dan tesis saya, keduanya, pernah diplagiasi (baik ide maupun tulisan). Produknya bisa skripsi, tesis, atau makalah-makalah. Bahkan ada beberapa tulisan hasil plagiasi itu dikirimkan penulisnya ke jurnal. Dan ya terbit. Penulis tersebut tidak selalu dari kalangan mahasiswa S1, ada yang S2 dan S3. Tahu tulisan mereka itu lahir dari mana? Yup! Tulisan mereka lahir dari rahim-rahim kelas, baik S1, S2 maupun S3, yang menerapkan metode penulisan makalah sebagai bahan presentasi. Saya yakin pengalaman saya tidak unik. Anda yang senasib dengan saya, bisa angkat tangan.

Toh pun demikian, sayangnya, metode ini tetap yang paling banyak digunakan di kelas-kelas! Sampai sekarang!

Di kelas, saya menggunakan metode alternatif, dan ini sudah saya lakukan sejak awal saya mengajar di UIN. Metode ini berangkat dari pengalaman saya kuliah di US dan bersama Pak Ahmad Rafiq. Ini juga berangkat dari kegelisahan ketika saya kuliah dulu: selama satu semester, saya merasa tidak belajar apa-apa (tentu ini sedikit hiperbole) selain makalah yang saya tulis.

Sebagai gambaran, berikut saya ceritakan pengalaman di kelas saya, Pemikiran Tafsir Kontemporer.

Pertama, Kegiatan setiap pertemuan. Setiap pertemuan, saya telah menugaskan satu bacaan wajib dan masing-masing mahasiswa saya minta untuk menulis respon paper atas bacaan itu. Kecuali pada pertemuan kedua, saya meminta mahasiswa untuk menonton film Tai Chi, untuk membantu mengimajinasikan dan merefleksikan bagaimana tradisi berbentur dengan modernitas. Tugas harus ada di meja saya sebelum kelas dimulai. Saya mendorong mereka untuk menuliskan gagasan mereka sendiri, entah berupa persetujuan, kritikan, pertanyaan, ekspresi ketidakpahaman atau apapun, sejauh itu lahir secara murni dari pikiran mereka sendiri. Kalau ada yang berhasil membuat analisis dengan menjelaskan keterhubungan-keterhubungan, akan lebih baik. Tentu saja harapan dan arahan saya tidak selalu berhasil. Segalanya butuh waktu. Kadang sudah berkali-kali ditekankan, ada teman-teman mahasiswa yang tetap saja belum mengikuti arahan, tidak tahu, sengaja atau terpaksa melakukan kecurangan akademik. Tetapi banyak juga di antara mereka yang mulai belajar dan menikmati proses ini.

Saya memanfaatkan waktu presentasi mahasiswa untuk membaca respon paper mereka. Tentu saja dalam hal ini saya mengandalkan kemampuan multi-tasking. Ini hanya demi efisiensi waktu, juga agar saya bisa mencakupkan komentar-komentar mereka dalam sesi terakhir setiap perkuliahan. Terkadang respon mereka tidak selesai saya baca di kelas dan saya lanjutkan di luar kelas. Terkadang saya baca beberapa saja secara bergilir. Saya bubuhkan catatan terkait kesalahan ketik, kesalahan penulisan, dugaan plagiasi, kemiripan dengan pekerjaan teman yang lain, sampai pertanyaan atau pernyataan sentilan sebagai respon saya atas tulisan mereka. Tak jarang saya menuliskan apresiasi positif, bahkan sering. Kertas pekerjaan mereka yang sudah saya corat-coret, saya kembalikan ke mereka.

Bagaimana dengan presentasi? Saya tetap membagi mahasiswa sesuai dengan materi perkuliahan. Setiap kelompok bertugas memahami materi/tokoh yang dibahas pada pertemuan itu dan mempersentasikannya kepada teman-teman kelas. Saya membuat outline apa saja aspek yang musti digali. Tentu mereka bebas melakukan improvisasi. Saya tunjukkan buku-buku yang bisa dirujuk di silabi, baik yang primer maupun sekunder. Saya minta mereka untuk membuat media presentasi. Mereka bisa menggunakan media apapun, baik ppt., papan tulis atau yang lain, senyampang materi sampai dan mereka melakukan presentasi dengan berdiri, tidak duduk. Intinya, mereka tidak saya minta menulis makalah yang ujung-ujungnya hanya mengulang-ulang dan menyuburkan plagiasi itu!

Di sesi terakhir, saya menambahkan catatan-catatan yang disampaikan presenter, sharing pemahaman saya sendiri atas materi pertemuan kali itu, mengundang teman mahasiswa untuk membuat hubungan-hubungan, atau sekedar menjadi moderator untuk mengelola argumen teman-teman mahasiswa. Tak jarang, kita bertemu pertanyaan-pertanyaan baru yang layak dijadikan topik penulisan tugas UTS dan UAS.

Kudua, Tugas UTS. Saya meminta mereka untuk menulis esai terkait tema apapun sejauh masih dalam lingkup pemikiran tafsir kontemporer. Niatan awal saya, tulisan itu harus dipublish ke media massa online sebagai sumbangan dunia akademik untuk khalayak umum (Ini masih perlu saya evaluasi karena tampaknya semester ini belum begitu berhasil).

Saya selalu mendorong mereka untuk mengonsultasikan ide tulisan mereka dengan saya. Tentu saja, ada yang menggunakan kesempatan ini dan banyak yang tidak.

Yang pasti, untuk tugas ini saya membaca pekerjaan mereka satu per satu, lebih teliti. Hingga akhirnya, saya temukan masih banyak yang melakukan plagiasi. Dan ini mendorong saya untuk memanggil mereka satu per satu, atau memberikan penjelasan panjang di kelas, sebagaimana saya ceritakan di tulisan bagian 1.

Ketiga, Tugas UAS. Ada dua jenis ujian: ujian tertulis di hari H (sebagian besar berupa refleksi kritis) dan pengumpulan karya tulis. Untuk yang kedua, saya memberikan dua opsi. Opsi pertama adalah menulis esai (500-800 kata) dengan tetap mengindahkan etika penulisan ilmiah, termasuk menyertakan footnote. Opsi kedua adalah menulis makalah (4500-6000 kata). Saya menyiapkan dua opsi karena saya menyadari potensi masing-masing teman mahasiswa berbeda. Poin utama saya adalah mendorong mereka menelurkan gagasan orisinil mereka. Sebagaimana tugas UTS, saya membebaskan mereka untuk menulis tema apapun, asal masih dalam lingkup Pemikiran Tafsir Kontemporer, terutama yang berangkat dari kegelisahan dan rasa penasaran mereka.

Saya juga tantang mereka, “Siapapun di antara kalian yang siap menempuh jalan yang lebih berat, sila memilih opsi kedua. Tulisan itu harus kalian proyeksikan untuk diterbitkan di jurnal. Asik kan kalau sebelum lulus sudah mempunyai karya yang diterbitkan? Jika memang diperlukan, saya siap menemani kalian merevisi paper kalian agar layak diterbitkan, bahkan setelah UAS berakhir.” Syaratnya sederhana. Saya minta mereka memastikan bahwa rencana tulisan mereka mengandung unsur kebaruan, tidak mengulang-ulang (apalagi plagiasi!). Sekali lagi, saya juga menyampaikan saya siap diajak ngobrol terkait rencana mereka, termasuk untuk membantu memastikan apakah rencana tugas itu sudah memenuhi syarat atau belum.

(Ala kulli hal, tentu saja masih banyak yang perlu saya evaluasi dari metode saya di atas. Masih terus trial and error)

Saya paham metode yang saya terapkan ini membutuhkan energi dan waktu ekstra. Saya diuntungkan karena kelas yang menjadi tanggung jawab saya masih sedikit. Namanya juga dosen baru. Saya memahami, metode ini, dengan intensitas sebagaimana yang saya lakukan, akan lebih sulit diterapkan oleh dosen-dosen senior yang sudah doktor/professor dan mengajar di tingkat S1-S3, apalagi yang mempunyai tugas plus sebagai pejabat struktural. (Meskipun saya tahu ada di antara mereka yang menerapkan metode ini). Dalam kondisi demikian, metode belajar dengan presentasi makalah memang paling menggiurkan; praktis dan mudah.

Namun demikian, apapun kondisi khusus dosen, saya yakin dosen masih tetap punya pilihan metode lain yang mencerdaskan dan mendorong/menantang mahasiswa untuk berpikir orisinil, tentu saja selain metode klasik yang sudah jelas-jelas terbukti madharatnya itu. Apa iya kalau sudah tahu begini masih akan terus dilanggengkan?

Akhir kata, Bapak/Ibu dosen yang kebetulan membaca ini, saya mengundang dan menantang Bapak/Ibu untuk merenungkan kembali metode belajar yang kita terapkan di kelas. Plagiasi sudah semakin menggila. We need to do something, together.[]