Tanya Kenapa atau Kenapa Tanya?

Anak dalam masa perkembangannya, biasanya merupakan sosok yang cerewet dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan demi memenuhi keingintahuannya.Tak jarang terkadang pertanyaan serupa ditanyakan lagi berulang-ulang kepada orangtuanya.“Kalau malam, mataharinya kemana? Mengapa kapal tidak tenggelam? Mengapa langit warnanya biru? Mengapa hujan bisa turun? dan mengapa begini, mengapa begitu lainnya.

Ketika orangtuanya tidak sabar menghadapi pertanyaan anaknya kemungkinan yang terjadi adalah  menyuruh anaknya diam dan berhenti bertanya. Jelas, hal tersebut akan memadamkan dan menyurutkan rasa keingintahuan sang anak.Ketika sang anak sering dipaksa diam dan tidak bertanya, maka hal tersebut bisa saja terekam hingga dewasa dan menjadi karakternya untuk tidak peduli dengan lingkungan sekitar sertatidak ingin tahu banyak hal.

Saat di sekolah,guru menyediakan waktu pada siswa untuk bertanya terkait pembelajaran yang disampaikan.Nyaris bisa dipastikan suasana hening beberapa saat,tidak ada siswa yang mengacungkan tangannya untuk bertanya.Padahal tugas seorang siswa adalah belajar, dengan bertanya siswa dapat mengasah kemampuannya berbahasa, melatih keberanian, memikirkan suatu teori lebih dalam atau menyangkal suatu pernyataan.

Namun, yang terjadi bila ada siswa yang bertanya seringkali, siswa lain mengatakan “ya ampun, gitu aja ditanyain?”Siswa lain beranggapan bahwa pertanyaan temannya terlalu mudah atau sangat sepele. Di beberapa kesempatan, ketika ada siswa yang terus bertanya, ada yang menduga sedang cari perhatian, sehingga sering dilabeli sebagai anak rese’ atau sok kritis.Dan hal tersebut menyebabkan siswa menjadi enggan untuk bertanya lagi, karena dianggap bodoh, dianggap remeh pertanyaan yang diajukan ataupun dicap sok pintar.

Siswa yang tidak pernah bertanya dapat mencetak guru yang merasa benar dan tidak pernah belajar lagi karena menganggap ilmunya sudah cukup, siswa juga aman dan dapat dikondisikan serta tidak pernah dikritik. Walhasil, ouput pendidikan yang dihasilkan akan semakin tumpul yaitu melahirkan siswa yang tidak pernah bersuara di dalam kelas, apalagi akan bersuara di lingkup masyarakat. Hal tersebut jelas menjadi awal bencana minimnya budaya berpikir dan belajar dengan semakin hilangnya budaya bertanya di dalam proses pembelajaran.

Tak beda jauh dengan siswa di sekolah, budaya bertanya juga semakin minim di kalangan mahasiswa. Pelajar yang berusia produktif ini seharusnya dapat mengeksplor pengetahuan lebih dalam, menyangkal suatu pendapat, berargumen dengan sistem berpikirnya, ataupun menyangsikan suatu perkara dengan teknik bertanya yang mendalam. Dalam suatu perkuliahan, sering dijumpai diskusi hanya berjalan satu arah tanpa adanya estafet pertanyaan, sanggahan ataupun masukan dari mahasiswa lain dalam satu kelas. Seharusnya kita malu jika menyebut mahasiswa sebagai kalangan intelektual, karena kurangnya proses intelektual yang dilatih selama perkuliahan.

Apa yang terjadi jika guru, dosen, dan akademisi tidak lagi bertanya? Mungkin tidak akan adalagipenelitian yang akan dikembangkan. Apa yang terjadi jika seorang wartawan, tidak lagi bertanya? Mungkin berita hanya ditulis sambil lalu tanpa adanya verifikasi data.Apa yang terjadi jika dalam presentasi perusahaan, tidak ada yang bertanya? Maka bisa jadi tidak pernah ada inovasi dalam produk perusahaan tersebut. Dan apa yang terjadi jika tidak ada lagi yang bertanya dalam hidup ini? Mungkin tidak akan ada lagi pengembangan ilmu, penemuan yang inovatif dan lain-lain.

Bertanya sejatinya adalah olah pikir secara individu, rangkaian dari proses kognitif yang terjadi dalam tubuh seseorang. Senada dengan Jacques Rolland, yang menyatakan, latihan berpikir adalah bertanya. Sehingga aktifitas bertanya mengindikasikan seseorang sedang berpikir atau memikirkan sesuatu yang sedang menjadi persoalan dirinya. Bertanya itu adalah berpikir.

Kalau budaya bertanya memang dianggap penting, sudah seharusnya anak didik dari sejak pendidikan dasar sampai ke perguruan tinggi, perlu diberi kebebasan bertanya seluas-luasnya. Sebaiknya kita juga membudayakan untuk mengajukan pertanyaan yang berbobot, dan tidak hanya asal bicara.Kita jangan mencemooh orang yang sedang bertanya karena sejatinya dia sedang melatih kemampuan berpikirnya. Lebih baik kita juga bertanya untuk mendapatkan proses mental yang sama, bukan hanya menimbun jawaban dari pertanyaan orang lain.

Ungkapan Descartes yang menyatakan, “aku berpikir, maka aku ada”.Semoga dapat menyulutkan semangat kita untuk terus berproses mengolah informasi dengan sistem koordinasi yang luar biasa.Kita juga perlu untuk menyimak pertanyaan, menganalisis dan memikirkannya sebelum menjawab, daripada memberi jawaban atau komentar yang tidak jelas atau asal-asalan.

Kemampuan bertanya perlu dilatih dengan kemampuan pendukung seperti observasi, membaca buku, bergaul, bereksperimen, dan lain-lain. Masing-masing dari kita bertanggungjawab untuk mengisi setiap pertemuan atau pembelajaran dengan sebanyak mungkin mengajukan pertanyaan agar gagasan, ide maupun praktik yang sedang berlangsung bisa dikembangkan lebih lanjut.

 

 

 

Penulis : Hifni Septina Carolina (Mahasiswa Paska Sarjana UMM)