Tan Malaka

Sering kita jumpai berbagai ungkapan kenapa menulis itu penting. Disamping sebagai bentuk mengabadikan warisan ilmu seperti teks, menulis adalah kerja-kerja yang paling membutuhkan konsistensi dan tentu memaksa. Kita juga perlu membaca, bagaimana kerja-kerja para penulis masa lampau yang juga sebagai seorang pejuang lapangan, juga sebagai seorang pemikir yang ulung—kelak diantara mereka jamak disebut pahlawan di zaman ini. Aktivitas fisik yang begitu padat terus menghimpit kerja-kerja besarnya, namun pahlawan itu terus menyempatkan diri dan mencurahkan fikirannya untuk menulis. Memang benar sarana yang paling efektif untuk kita menyampaikan gagasan selain dengan bicara adalah menulis. Menulis ibarat membuat ‘api’ yang sewaktu berdampak bisa juga tidak.  Namun setidaknya 3 hal api menulis yang dimaksud yaitu; api yang mati, api yang menghangatkan, dan api yang membakar. Pertama, api yang mati karena cita rasa menulis tidak menimbulkan reaksi apapun, datar, tidak menimbulkan gairah dan kosong gejala. Kedua, api menghangatkan, dimana cita rasa penulis memberi energi baru, memberi kenyamanan, membuat kita serasa berbeda dan menggugah kesadaran.  Ketiga, api membakar, tulisan itu begitu memprovokasi hati dan fikiran kita untuk bergerak bukan hanya sadar, tulisan itu menggelora ke nadi perjuangan yang mampu membuat kita berjuang pada titik darah penghabisan.

Di Indonesia kita melihat, peradaban besar sangat dibangun oleh para pahlawan-pahlawan yang mampu menggetarkan jagad nusantara. Mari menengok salah satu tokoh pergerakan dimana kata “Indonesia” belum muncul sedemikian rupa sehingga disosoknya kita akan menemukan gugusan-gugusan nusantara untuk dinarasikan.

Tan Malaka, Pahlawan Indonesia yang kehidupannya berpindah-pindah dari Negara satu ke Negara yang lain. Tan Malaka adalah aktivis gerakan yang terlahir dan tidak untuk terlupa. Lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897. “Ilyas Husein itu nama yang kupakai ketika bepergian. Terpaksa harus menggunakan nama samaran, karena banyak orang mengincarku. Mereka menganggap pemikiran-pemikiranku radikal dan merugikan mereka.” Ucap Tan Malaka.

Selain nama Ilyas Husein, Tan Ho Seng adalah nama samara lain yang dipakai Tan Malaka. Sebagai aktivis komunis internasional, Tan Malaka melanglang buang berpindah tempat mulai dari Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Myanmar dan kawasan asia tenggara. Berjejaring secara internasional melawan imperalisme, menjadikan Tan Malaka tidak dapat berlama-lama tinggal disebuah tempat. Hebatnya, sebagai buronan agen rahasia Internasional yang berusaha untuk membunuhnya, Tan Malaka termasuk orang yang sangat kuat membaca dan menulis. Di Tahun 1925, dimana masyarakat belum melek membaca akibat penderitaan  penjajahan yang begitu panjang oleh barat, Tan Malaka adalah seorang yang menekuni pemikiran intelektualnya untuk diimplementasikan langsung dalam gerakan perlawanan yang dia bentuk. Dalam pelariannya, Tan Malaka harus rela meninggalkan beberapa peti yang berisi buku di negara yang dia singgahi untuk menjalankan aksinya bersama aktivis gerakan dari berbagai Negara.

Kita bisa merasakan bagaimana seorang Tan Malaka adalah tokoh yang sangat militan membaca buku. Yang menarik dari pemikirannya, Tan Malaka adalah seorang komunis religius yang begitu kuat memegang semangat revolusioner. Organisasi Komunis Internasional menjadi kendaraan gerakannya dan membangun jaringan pemberontakan dari berbagai aktivis di Asia. Tan Malaka juga tokoh revolusi yang memahami Islam cukup mendalam. Pada tulisannya Tan Malaka begitu fanatik dan mengagumi sosok Muhammad dan perjalanan hidupnya. Orang juga baru tersadar bahwa Tam Malaka begitu kuat membela dan mendukung gerakan Pan-Islamisme. Pada saat konferensi Partai Komunis Sedunia, Tan Malaka mengajak para pejuang revolusi untuk mendukung gerakan Pan-Islamisme yang juga menolak tegas Imperalisme.

Menulis itu kerja besar menegakkan peradaban. Orang yang menulis, berusaha membangun nilai-nilai yang tumbuh di alam pikiran. Seringkali para penulis selalu menawarkan gagasan-gagasan yang acapkali melampaui keadaannya saat itu. Gagasan itu melesat dan menyeret jiwa kita untuk selalu mengikuti magnet positif itu dan mendukungnya pada bentuk pengejawantahan. Menulis juga dimaknai sebagai cara menguak masa depan. Tradisi menulis seperti memanggil cahaya dan mengusir kegelapan. Cahaya itu dapat dirangsang keluar oleh jiwa yang menginginkan kehadiranya untuk menerangi jalan masa depan.

Tan Malaka sebagai tokoh revolusi, tidak terhalang oleh ruang dan waktu yang saat itu terlalu payah bahkan mustahil bermimpi tentang kemerdekaan. Keterbatasan informasi, transportasi, teknologi, yang jelas langka saat itu, tidak membuat Tan Malaka surut langkah untuk berjuang. Bergerak, berfikir, membaca, menulis adalah karakter genuin yang melekatinya erat. Tan Malaka berusaha menjamah semak-semak belukar yang masih tertutupi rimbunnya kebodohan. Karya Tan Malaka adalah energi dan inspirasi bagi pejuang-pejuang selanjutnya di negeri ini.

Tahun 1926 buku karya Tan Malaka, Massa Actie mampu menjadi pemantik kebangkitan dan kesadaran para pejuang termasuk Soekarno yang begitu terhipnotis dengan karya tersebut. Buku ini menjadi penyemangat baru bagi para pejuang-pejuang muda revolusi untuk merebut kemerdekaan yang di cita-citakan sejak lama. Tahun 1925 sebelumnya Tan Malaka menulis naskah kecil berjudul Naar de Republik (menuju republik Indonesia) terbit pertama kali di Kowloon, Hong Kong. Dalam tulisan itu terbukti pemikiran Tan Malaka paling otentik dalam mencita-citakan masa depan Indonesia yang merdeka. Disaat orang-orang linglung wacana, Tan Malaka mampu membangun peta jalan untuk membangun mimpi kemerdekaan dan menggagas republik Indonesia. Pantas kemudian hari ini Tan Malaka disebut Bapak Republik Indonesia. Seorang negarawan pertama yang memulai prahara besar menegakkan cita bersatunya nusantara dengan jalan sosialisme melawan hegemoni imperalisme barat.

Karya Tan Malaka yang sangat fenomenal adalah Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Karya ini begitu menarik karena ditulisnya dalam kepahitan. Genetika pemikiran Tan Malaka yang bercampur semangat Islam, sosialisme dan nasionalisme menjadikannya sosok yang mengerti benar taktik revolusi. Madilog adalah nafas perang yang mengajak Indonesia untuk optimis. Jalan sosialisme yang menuntut kesetaraan dan menolak bentuk perbudakan dengan logika terapan menyanjung cara fikir yang benar-benar memihak struktur keadilan.

Hampir lengkap tentang apa yang telah dicitakan Tan Malaka, dia tidak menguapkan tangis, dia selalu mendermakan logika berfikir yang mampu menutupi kemiskinan ide bangsanya saat itu. Sosok revolusioner itu menjadi pribadi pejuang yang mandiri tanpa terikat dengan sekat komunis yang dia bawa. Dia Islam, dia Sosialis tapi dia realistis memandang materialisme yang menjadi cita-cita harapan semua bangsa. Logika berfikirnya juga mengajak semua pihak untuk tidak menjadi bodoh tapi mengajak semua manusia mencerdaskan diri dengan dialektika-dialektika intelektual. Logika mengajak bangsa ini untuk menghindari hal mistik yang menina-bobokan otak dari cara kerjanya untuk progresif berfikir maju.

Tan Malaka adalah pahlawan yang keberadaan jasadnya bahkan baru ditemukan belum lama oleh Harry Poeze atas kesabaran penelitiannya bertahun-tahun. Namun Tan Malaka tetap mampu memperlihatkan keberadaan jiwanya yang merindui republik Indonesia yang harus benar-benar berdaulat. Tan Malaka adalah salah satu dari berbagai sumber pemikiran tentang gejolak perlawanan melawan imperalisme. Tulisan-tulisan Tan Malaka berbincang kepada semua pihak, memprovokasi pejuang masa depan untuk kembali pada nalar otentik Nusantara. Tan Malaka membantah celoteh yang mengkerdilkan semangat bangsa ini untuk merdeka 100%. Lebih giat membangun kembali pondasi-pondasi dan simpul kemerdekaan yang masih panjang jalannya.

Sedemikiran rapuhnya jika kita meremehkan arti penting menulis bagi sebuah upaya terciptanya perubahan. Dengan tulisan-tulisan, banyak pejuang yang mampu menggetarkan hati-hati yang diam. Orasi-orasi kita mungkin dapat hancur oleh gilasan waktu, tapi tulisan kita selama masih utuh akan tetap menjadi kerja-kerja keabadian. Tan Malaka yang hidup di bawah pekatnya penjajahan harus merelakan tulisannya hilang bersama dengan peti yang berisi ratusan buku. Bahkan Madilog hampir saja musnah manakala Tan Malaka melakukan kecerobohan dan berakhir dengan penangkapan. Tan Malaka tiada patah arang. Dia terus berjuang, berperang, berfikir dan menulis, demi hadirnya Naar de Republik yang merdeka seutuhnya.

“Tan Malaka adalah sosok yang berpikiran maju dan cerdas, salah satu putra bangsa yang memiliki ide dan pandangan luas. Sebelum kita memikirkan sesuatu, Tan Malaka telah memikirkannya lebih dulu. Selain itu, ia juga memiliki pergaulan yang luas di kancah dunia Internasional” (Ungkap Bung Karno).