Syahwat Cinta dan Memaksa Takdir

Ini kisah lampau. Ada sebuah fase dalam hidup saya sangat mencintai seseorang. Demikian juga sebaliknya, dia seperti mencintai saya. Kata “seperti” ini muncul karena saya pernah membaca potongan ucapan Rasul, “Nahnu nahkumu bidz dzawahir, kami menghukumi seperti yang terlihat.” Kadang kita tidak tahu apa yang ada di balik pikiran seseorang.

Saya mencintai dia, dia juga begitu. Kami memulai sebuah proses saling tergantung. Saya menunggu sapaan, candaan atau cerita hari-hari. Kadang bertema khusus, kadang membicarakan kejadian aktual, atau hal lain seperti tentang teman kami masing-masing.

Saya menjadi termotivasi saat berdiskusi. Bersemangat melakukan sesuatu: kebaikan atau prestasi. Kami saling membantu menyelesaikan pekerjaan. Kami saling melarang dan menasehati, atas fakhsya atau kejelekan. Kadang kami mendiskusikan mimpi atau ke depan seperti apa. Meski, masa depan adalah misteri takdir.

Dia pun sebaliknya, dalam lahiriah, ucapan, tindakan dan tulisan menampakkan cinta kepada diri saya, atau apa yang ada pada diri saya. Dia menelpon, mengetik pesan, sekedar berbagi kisah, atau suasana hati.

Bila satu hari tidak berkomunikasi (via apapun itu), ada yang hampa dalam hidup. Bila tidak mendengar kabar aktivitas, rasanya khawatir dia di sana. Ada rindu, kangen dan seabreg asa jumpa.

Degg! Saat itu, di suatu waktu, kami sebetulnya mulai sadar, bahwa ini muncul sebuah ketergantungan. Ketakutan akan perpisahan. Masing-masing bertanya, apakah kita siap berpisah hati suatu saat? Tidak mampu bersatu karena kerelaan orangtua tidak didapat.

Tapi, dasar manusia yang punya ingin dan cita, kami berkeras memaksa takdir. Namun agak gamang juga sebab pernah membaca ridla Allah adalah ridla orangtua. Kami sesama sadar tanpa restu, maka rasa cinta itu terlarang: tanpa stempel ridla! Inilah syahwat cinta, satu tapak menuju syirik.

Kami ada di fase menambatkan hati kepada manusia. Seakan yang di seberang sana, si dia itu, adalah segala-gala. Saat ini, ke depan dan selamanya.

Di sebuah titik, ada pencerahan. Ilmu tentang berpasrah itu banyak. Terhampar di kitab-kitab. Namun, yang jadi teks kadang lepas konteks. Yang tertulis berhenti di kitab, karena perilaku sering menjadi khilaf.

Saat jiwa lelah mengejar cinta manusia, saat restu tak kunjung hadir, kala itulah larinya pilihan hanya dua: Allah atau dunia yang lain. Khaliq atau makhluq. Pencipta atau ciptaan-Nya yang lain.

Saat itu, kami berdua memilih untuk berjeda: baik jarak, waktu, maupun komunikasi langsung. Jeda ini memberi nafas agar gejolak teredam oleh waktu. Hewan kurban pun akan berontak sebelum disembelih. Tidak apa, toh sapi itu akhirnya tumbang bercucur darah. Dia menjadi tumbal ibadah.

Akhirnya, tahap pembersihan harus dilakukan. Di sebuah fase, si dia membaca tentang tajrid dan asbab, sebuah maqam kaum sufi yang diajarkan Ibn Athaillah Assakandari dalam Kitab Hikam. Bahwa dunia itu adalah alat menuju Allah. Kekhawatiran atas rejeki, jodoh dan penghidupan tidak penting selama kita yakin Allah ridla. Satu kuncinya: ridla Allah ada pada ridla orangtua. Saat itulah, ilmu birrul walidain harus mewujud, bukan hanya dibaca.

Maka dia berlari kepada Allah. Fafirru ilallah! Mungkin hampir pada fase tajalli atas segala. Dia melepas dan merasa lega. Bagaimana saya saat itu? Tidak terima. Menolak. Menyanggah ketetapan Tuhan. Berusaha tetap berjuang.

Saya pikir, apalah arti satu tahun kita? Kemana hati dan perasaan kita? Dia menjawab, “Yang terjadi menjadi pelajaran. Jangan menangisi pintu yang tertutup. Selesai sudah, Mas.”

Hati tidak bisa dipaksa. Persis juga takdir. Allah yang punya, bukan manusia.

Maka saya kemudian duduk termenung. Membaca diri, bahwa pertama, tugas saya menyibak tirai takdir telah selesai. Menemukan bahwa di sebalik tabir itu, bertemu tembok kokoh. Tidak kuasa memaksa untuk menjebolnya.

Kedua, syahwat cinta menjadi landasan perasaan saat itu. Akibat syahwat, netra fisik dan mata hati, tertutup debu. Tidak mampu melihat yang lain, membuka hati ke yang lain. Makhluk sepertinya hanya satu. Bahkan jalan benar menjadi mlengkar alias membengkok.

Ketiga, berhati-hati atas ketergantungan terhadap manusia. Menyantolkan harapan dan mimpi terlalu tinggi kepada manusia, adalah kesalahan fatal. Dia pun makhluk, suatu saat bisa berubah batin, berubah arah, bahkan berubah akhlak. Kalau fisik, sunnatullah pasti berubah.

Keempat. Saya makin memakani hakikat kesementaraan (fana) dan esensi keabadian (baqa). Hanya Dia yang abadi. Manusia boleh kaya, cantik, molek, tampan, punya aset dunia, pangkat titel dan segala ciptaan, itu semata sementara. Yang sementara, jangan terlalu digondeli. Tidak penting, karena kita hidup mengejar keabadian.

Terakhir, saat itu di satu fase dia memilih bersama hati yang lain. Berbagi hari dan menitipkan hati kepada lelaki yang lain. Remuk redam suasana hati? Pasti. Cemburu? Iya.

Namun, apalagi yang mau dikejar? Hati dan perasaan itu semua sementara.

Saat membaca yang lampau, kisah dan catatan lama, tampak seakan menggebu atas cinta dan tak dapat membuka hati ke yang lain. Namun, tidak butuh lama, bisa kok berubah. Hanya hitungan bulan, seperti sesuatu yang pasti, bisa berbelok dan berpaling. Itulah kesementaraan.

Apakah dia ternyata selamanya akan mencintai lelaki itu? Belum tentu. Karena rasa dan hati milik Allah. Manusia hanya menuruti saja. Itu, bila manusia memiliki hubungan dengan Allah. Bila tidak, judulnya adalah memaksa takdir dan semata menaiki syahwat cinta.

Saya pernah mengalami itu, paham rasa getirnya dan saya mencatat baik-baik. Agar sadar betapa rapuh batin manusia, betapa ringkih jiwa insan, dan cinta manusia tiada abadi. Jangan terlalu mencintai, sebagaimana tak perlu membenci keterlaluan. Batasnya: setipis ari. Wallahu a’lam.[]

Penulis: Amin Sudarsono