Setia Bermimpi (Cerpen)

Bagi Abdul, hari-harinya adalah proses bermimpi. Bahkan detik, menit, siang dan malam-malamnya selalu diselimuti impian untuk kembali duduk di bangku sekolah—mimpi itu tidak hanya hidup dalam lelap dan tak mudah dipaksa keadaan untuk lenyap. Bukan karena ia tidak pernah mencecap bangku pendidikan formal. Sebab dua tahun sudah berlalu saat pihak sekolah mengambil sikap untuk mendepak yatim piatu itu karena alasan perekonomian.

Usianya belum-lah genap sembilan tahun saat kedua orang tuanya melakukan perjalanan berujung maut. Ditelan bulat-bulat kesedihan itu usai pemakaman ibu bapaknya. Kini hidupnya sebatang kara. Tidak ada lagi para tetangga yang simpatik seperti disaat berita duka berkumandang dari pengeras suara masjid.

Awalnya, tanah sepeninggalan orang tuanya dicaplok jengkal demi jengkal. Dipaksa menandatangani surat yang tidak ia mengerti dan justru membuatnya kehilangan semua peninggalan. Kini ia tidak lagi memiliki apa-apa, kecuali mimpinya untuk mengenyam pendidikan.

Kalau orang lain memilih berani mati dalam bermimpi; Abdul berani hidup demi memperjuangkan mimpi. Kalau orang lain memilih enggan; ia memakai sedikit penghasilannya dari menyemir sepatu untuk makan dan sebagian disimpan untuk mimpinya tentang pendidikan. Kalau orang lain tenggelam dalam lelah dan lelap di atas dipan; ia tak pernah menyoal kerasnya hidup di antara pertokoan dan tidur berteman dinginnya lorong serta beralas koran.

***

Kegiatan rutin Abdul di malam hari adalah menipu perut laparnya dengan kantuk. Setelah menggelar alas tidur mewah berhias promosi bisnis prostitusi, Abdul tetap bermimpi tentang hal yang sama: sekolah. Baru tujuh belas menit ia terlelap. Dan kini harus terbangun oleh suara pemabuk bersama wanita penghiburnya yang sedang asik mendaki puncak hasrat sesaat. Meski tidak ada ketertarikan pada perilaku yang seolah lazim dilakukan di kalangan manusia tak bermoral itu, Abdul memandang lekat pada lakon pria berjenggot dan kepala yang dipenuhi uban.

“Pak Baharrudin,” gumamnya selirih desah pasangan yang sedang menjemput klimak itu. Lantas dicobanya lagi untuk lelap.

Entah apa yang berhasil membuat Baharrudin mempercepat prosesi yang sedang ia nikmati. Dengan terburu-buru, setelah menutup rollsletingnya, Baharrudin meninggalkan wanita penghibur itu dan lebih memilih mendekati Abdul.

“Abdul, kan?” tanya lelaki tua yang menghabiskan waktu selama hidupnya untuk mencari kedudukan, kehangatan wanita dan harta semata.

Dengan nada agak terkejut—karena mengira tidak akan lagi mendengan suara kepala sekolahnya dulu yang sempat berkhutbah tentang alasan kenapa tidak adanya toleransi sehingga uang harus terlebih dulu ada untuk menunjang pendidikan—Abdul memandang lekat-lekat kembali Baharrudin sembari berkata, “bapak masih mengenal aku?”

“Seluruh guru bicara tentang kamu, Dul, sesudah kamu ‘gak lagi masuk sekolah.”

Ada sedikit sesal dalam suara Baharrudin. Bagaimana tidak, ia sudah berhasil mengeluarkan siswa yang namanya hangat dalam pembicaraan guru-guru di sekolah. Tidak hanya dalam dialog rapat guru, pun saat setiap berpapasan dengan setiap guru yang memandangnya sinis, Baharrudin tahu betul hendak apa yang ingin disampaikan itu.

Belum lagi Abdul menanggapi pernyataan Baharrudin, malah ia disodorkan dua lembar uang kertas berwarna merah dengan gambar pahlawan yang tak lagi mengabadi dalam ingatannya.

“Untuk kamu jajan, Dul,” ujar Baharrudin.

’Gak usah, Pak.”

“Kenapa?” tanya lelaki tua itu penuh selidik.

“Saya belum nyemir sepatu bapak, kenapa sudah dapet uang? Bayarnya juga lebih mahal, Pak.”

“Untuk kamu aja. Nih!

“Maaf, Pak. Aku kerjanya nyemir, ‘gak minta-minta.”

Pagi harinya suasana pertokoan berangsur ramai. Abdul lagi-lagi diusir oleh petugas keamanan pasar yang gagah lengkap dengan perut buncitnya ditahan kancing yang mengait kemeja dengan was-was karena hampir lepas.

“Sudah pagi! Sudah pagi! Dasar gelandangan!”

Abdul pun bergegas bersiap untuk menjajaki pengunjung pasar untuk menawarkan jasanya. Belum juga memberikan satu pelayanan kepada konsumen matahari sudah bertengger di ubun-ubunnya yang ditutupi rambut kemerahan terbakar terik. Satu, dua, dua puluh toko tak dirasa sudah dilalui. Satu, dua umpatan dari konglomerat yang mengira bubuk semir murahan milik Abdul akan merusak sepatu made in Paris juga sudah akrab di telinga. Setelah melewati koridor yang keberapa—Abdul tidak khatam pernah menghitung—ia tersenyum lega melihat keramaian.

Ada pertunjukan topeng monyet, pasti beberapa ada yang mau semir sepatu sambil lihat pertunjukan, pikirnya saat itu.

Alangkah terkejutnya Abdul saat mendekat dan melihat bahwa yang menjadi pusat perhatian adalah Baharrudin. Tidak hanya karena Baharrudin yang terus menerus bersikap takut tapi juga ditangkap oleh matanya ada dua petugas keamanan pasar—satu dengan perut buncit adalah yang setiap pagi menjadi alarm. Abdul lantas menyusup lebih dekat.

“Kenapa Pak Bahar?” selidiknya penuh kepolosan.

Sembari petugas keamanan pasar yang buncit itu menggantung senyum sinis, ia pun berkata, “Kamu kenal dengan orang gila ini?”

Si pemilik mimpi untuk bersekolah itu menarik-narik baju Baharrudin yang kini menjadi gila. Pengunjung yang berkerumun itu memandang kasihan pada Abdul. Salah satu diantaranya ingin menarik Abdul, tapi keinginan itu tak kunjung terwujud. Salah seorang lagi, meneriaki untuk tidak usah memperdulikan si gila, namun tak pernah diindahkan Abdul.[]

Afriyan Arya Saputra (Penggiat Sastra Kampus)