Sepakbola, Kebhinekaan dan Toleransi

Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi, ketika tiba-tiba Andik Virmansyah memboikot instruksi dari pelatih Alfred Riedl atau menolak kerjasama dengan Boaz Salossa dan Ferdinan Sinaga, karena mereka berbeda agama dan suku, atau tiba-tiba di final nanti, Kurnia Mega membiarkan bola tendangan Adul Lahso misalnya, karena pemain yang sempat menjadi punggawa Timnas Thailand ketika sukses menjuarai Piala AFF 2014 tersebut, kebetulan adalah muslim.

Namun, tentu saja hal tersebut tidak akan pernah terjadi di dunia sepakbola, meskipun pemain Timnas Garuda berasal dari latar belakang suku, agama dan keyakinan yang berbeda, mereka adalah orang-orang terpilih, sehat jasmani dan rohaninya, sehingga selain memiliki kebugaran fisik, mereka juga memiliki kebugaran pikiran dan kewarasan sehingga lebih mementingkan  solidaritas dan kerjasama untuk menajamkan serangan ketimbang membincang perbedaan dan berjuang sendirian atau sendiri-sendiri.

Timnas sepakbola adalah simbol toleransi, yang mampu menyatukan para pemain dengan latar belakang berbeda-beda, tanpa menghiraukan apakah ia beragama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, apakah mereka Papua, Batak, Bugis, Bali atau Jawa. Semua guyub-rukun holopis kuntul baris dalam ukhuwah-persatuan, solid atas nama kesebelasan dan tim. Bahkan bukan hanya itu, sepakbola tak jarang juga menyerukan nilai-nilai universal kemanusiaan, pertandingan amal untuk bantuan bencana, bela sungkawa dengan mengenakan pita hitam ketika ada musibah, semangat sportivitas fairplay, propaganda anti rasialis dan spirit perdamaian hingga kampanye-kampanye soal lingkungan dan kesehatan.

Sikap fairplay, juga terlihat dari tradisi nilai-nilai yang ditanamkan dalam setiap pertandingan, ketika terjadi kesalahan atau pelanggaran terhadap lawan, tak segan untuk saling memaafkan dengan bersalaman, membuang bola ketika lawan tengah tak berdaya karena ada salah satu pemain yang cidera, bertukar cindera mata atau jersey, juga saling bersalaman antara kedua kubu, sebelum dan sesudah kedua tim berlaga. Begitulah supremasi kebaikan, kebhinekaan dan toleransi ditegakkan.

Bahkan aturan-aturan hukum dari FIFA terlihat sangat perkasa di dunia sepakbola. Hukuman keras pada tindak rasialis, skandal permainan, pengaturan skor, dan berbagai rekayasa. Sanksi tegas bagi perusak semangat fairplay bermain sehat bermartabat, sebenarnya merupakan aktualisasi nyata dari fitrah hukum dan nilai-nilai agama. Agama semestinya juga niscaya mewujud sebagai agama kasih, rahmatan lil ‘alamin yang dijalankan secara fairplay, bermartabat dengan saling menghormati, bukan terhormat dengan saling menghujat.

Aturan hukum sepakbola, teknik dan taktik sepakbola yang lahir dari pemikiran bertungkus-lumus untuk  mengkaji sebuah strategi sekaligus penerjemahan solidaritas dan kerjasama dalam keberagaman di lapangan hijau, mematahkan argumentasi Antonio Gramsci yang memandang sepakbola sebagai model dari masyarakat individualistic, karena ia memandang setiap pemain harus menguasai satu spesialisasi, tak ada seorang generalis seperti halnya dalam industri, yang menjunjung tinggi spesialisasi.

Seperti ditulis oleh Zen Rachmat Sugito, Gramsci yang meninggal tahun 1937 dalam status tahanan politik di bawah rezim fasis Mussolini, memang tidak sempat menyaksikan bagaimana Gustav Sebes meletakkan dasar apa yang kini disebut sebagai total football, sebagai taktik yang menempatkan semua pemain dalam posisi yang setara dan bisa memainkan peran sama baiknya.

Taktik Sebes yang dikenal dengan formasi dasar 4-2-4, memaksa sekaligus mengizinkn semua pemain bisa bermain di berbagai area, bisa berperan dalam banyak posisi, dan sama-sama memiliki tanggungjawab yang sama dalam menyerang maupun bertahan.  Apa yang dilakukan oleh Sebes ini sukses membuat dunia terbelalak menyaksikan kemenangan Hungaria atas Inggris dengan skor telak 6-3 di Wembley tahun 1953.

Dalam sebuah tim sepakbola, nyatanya memang mampu menyatukan manusia untuk melupakan perbedaan agama, suku dan ras, sepakbola manusia relatif bersepakat dalam satu kata, kebersamaan dan kerjasama. Ketika dunia di sepanjang sejarah peradaban manusia tak pernah sepi dari konflik, pertikaian, dan permusuhan yang dipicu oleh perbedaan, sepakbola hadir sebagai ideologi alternatif, sarana pembauran-rekonsiliasi-toleransi terbaik di dunia. Sepakbola seolah hendak mengajarkan manusia untuk hidup memahami dan beragama dengan benar.

Sepakbola, sekali lagi jika dipahami secara benar tidak lagi sekadar menyehatkan jasmani (tubuh) manusia, sepakbola juga telah ikut menyehatkan peradaban manusia dan dunia, karena sejatinya sepakbola telah terbukti mampu menyatukan ragam perbedaan manusia dari berbagai belahan bumi, termasuk perbedaan agama sebagaimana terlihat dari pemain, penggemar dan fans club sepakbola.

Bahkan dalam sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Indonesia, sepakbola juga memiliki andil penting, tersebut nama MH. Thamrin dan Otto Iskandar Dinata yang –meminjam Istilah Zen- menginjeksi kebanggaan terhadap identitas nasionalisme melalui klub sepakbola Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ) pada tahun 1928 yang menjadi asal usul Persija dan Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923 yang menjadi muasal Persib Bandung.

Tan Malaka sendiri memosisikan sepakbola sebagai alat untuk mengkomunikasikan rasa nasionalisme, alat untuk berjuang melawan penjajahan, sebagaimana ditulis oleh Harry A Poeze dalam buku Tan Malaka, Gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946. Dalam Madilog, Tan Malaka juga menulis bahwa salah satu cara agar tidak terjadi kekacauan, ibarat menentukan pemain dalam sebuah pertandingan sepak bola. Ia menuliskan, “Apabila kita menonton satu pertandingan sepak bola, maka lebih dahulu sekali kita pisahkan si pemain, mana yang masuk klub ini, mana pula yang masuk kumpulan itu. Kalau tidak, bingunglah kita. Kita tidak bisa tahu siapa yang kalah, siapa yang menang. Mana yang baik permainannya, mana yang tidak.”

Sepakbola bukan hanya sebuah permainan, tetapi di dalamnya banyak hal yang bisa dipelajari. Kisah perjuangan para pemain Timnas Indonesia terdahulu, sebutlah misalnya selebrasi seorang Christian Gonzalez atau Irfan Bachdim yang “hanya” pemain naturalisasi, setiap mencetak gol reaksi pertama yang mereka lakukan adalah berlari ke arah tribun pendukung Indonesia dan mencium lambang Garuda di dadanya. Hal ini menunjukkan dalam sepakbola, tidak ada politik aliran dan identitas, karena mereka berbaur dalam satu skuad yang terlatih untuk sama-sama memenangkan pertandingan. Di sana tidak ada perbedaan suku, agama, latar belakang sosial. Bagi mereka, kaos berlambang garuda adalah penyatu untuk satu kebanggaan sebagai Indonesia, model kebangsaan dan toleransi yang juga kita rindukan mewarnai hari-hari kita, diikat dalam satu Indonesia.

Sepakbola mengajarkan bagaimana secara bijak menyikapi kebhinekaan sehingga tetap tunggal ika, mengajarkan solidaritas dan soliditas. Barangkali, persis dengan perasaan kita yang setia menunggu lagi final piala AFF 2016 antara Indonesia Vs. Thailand, tanggal 14 dan17 Desember, meski dengan latar belakang yang beragam tetap kompak untuk dukung Indonesia sebagai juara, dan pasti tetap waras, tidak sembrono dan ngawur untuk memboikot apalagi sampai berfatwa “haram” mendukung Timnas Indonesia, hanya karena pelatih dan kapten Timnas Indonesia, Alfred Riedl dan Boaz Sollosa tidak beragama Islam.

Rahmatul Ummah