Sarung

Remaja kecil saya punya sarung kesayangan. Sarung ini diterimanya sebagai hadiah dari omanya saat dia pertama belajar mengaji dulu. Saya masih ingat wajahnya yang kegirangan saat oma (yang adalah Ibu saya) menyodorkan sarung. Sang oma yang seorang Katolik selalu mengantar cucunya mengaji saat saya berhalangan. Sarung itu memang kebesaran dan baru pas saat ia pakai sekarang, tapi Ibu saya memang ingin agar sarung itu bisa terus dipakai sampai dia besar. Jadi, dulu ketika mengaji, sarung dilipat dua oleh beliau supaya tidak kedodoran.

Ketika kami pindah ke Amerika, sarung itu dia bawa. Suatu hari di sekolah (saat itu dia kelas 4 SD), ada pelajaran pengenalan budaya. Pelajaran ini menarik karena setiap anak diminta untuk memperkenalkan budaya mereka masing-masing, seperti makanan, tarian, pakaian, dan tradisi/kebiasaan. Anak saya punya 4 sahabat: satu dari Cina, satu dari Samoa, satu dari Meksiko, dan satu dari Amerika. Keempatnya mengesankan, kenapa? Karena keempat anak yang suka menginap di rumah ini masih terus bersahabat sampai sekarang, dan selalu menanti anak saya untuk kembali ke Amerika dan kuliah bersama suatu hari nanti. Karena bersahabat juga, maka kelima anak  ini di sekolah mengambil bahasa pilihan (selain bahasa Inggris yang digunakan sehari-hari) Spanyol dan Cina. Pada hari pengenalan budaya itu, orangtua boleh hadir jika mereka ada waktu. Karena saya sedang tidak ada kuliah hari itu, saya putuskan untuk datang.

Anak saya sudah punya 2 hal yang ingin dia perkenalkan ke kelas: SARUNG dan KLEPON (yang artinya tugas ekstra buat saya). Untuk klepon, dia memberi syarat, “harus ‘meledak’ loh ma!” Maksudnya, kalau klepon digigit, maka gula merah di dalamnya harus bisa muncrat ke dalam mulut. Jadi, malam sebelumnya saya sibuk membuat klepon sementara si anak kecil ini sibuk di kamar untuk latihan memakai sarung.Melihat kerepotannya berlatih,  saya berkata, “Lha mbok wis, nggak mau cerita batik saja lik?” Dia menjawab, “Nggak ah, batik udah. Aku mau cerita sarung. Mau ngajarin temenku pakai sarung!” Seharian dia berlatih melipat sarung di perut, mengukur dan mengepas supaya tidak kepanjangan atau cingkrang. Malam sebelum tidur, dia minta izin membawa 2 sarung ekstra berukuran kecil yang dibawakan Ibu saya. “Lho kok bawa sarung banyak buat apa?”, celetuk saya. “Kalau ngajarin pakai sarung kan harus bawa sarungnya mama, jadi temenku bisa ikutin aku” katanya. “Oh iya, betul nak.” Kadang…otak mahasiswa doktoral suka mampet. Demo masak juga kan, kalau yang demo cuma ngomong pasti susah…lebih gampang kalau sama-sama belajar.

Suasana kelas hari itu memang meriah. Nah, kelima sahabat ini punya cerita mengesankan. Yang dari Samoa mengajarkan tarian rakyat yang biasa ditarikan oleh laki-laki Samoa. Yang dari Cina mengajarkan kaligrafi, dibantu Ibunya. Yang dari Meksiko memperkenalkan tradisi Piñata, dan serunya sang ayah betul-betul menyiapkan piñata berbentuk ayam berwarna biru yang berisi mainan kecil-kecil dan permen. Seru sekali! Yang dari Amerika memperkenalkan makanan khas Oklahoma, ‘corn dog’ (hotdog besar yang dibalur corn crunch atau tepung dan dibentuk seperti jagung lengkap dengan tusukan satenya). Karuan anak-anak berebut corn dog yang dibuat oleh sang Ibu. Giliran anak Indonesia ini, dia maju ke depan dengan sepiring besar klepon dan sarung andalan. Sebagai pembukaan si klepon ambil peran duluan untuk mengatasi rasa grogi. Sensasi ledakan gula merah di mulut membuat anak-anak tertawa. Perut mereka yang sudah diisi corn dog sepertinya memang masih muat untuk klepon (ukuran ekstra) dan berbagai makanan tradisional yang mengantri di meja kelas. Peragaan sarung dimulai dan tanpa diminta, sahabat Samoa dan Amerika anak saya maju untuk belajar. Mereka terbahak-bahak karena menggulung sarung di perut itu memang butuh sedikit kesabaran dan latihan. Kalau gurunya saja bingung, tentu muridnya makin bingung. Tapi akhirnya….dengan tampilan yang asimetris, naik turun, kanan kiri tidak imbang, mereka bertiga berhasil juga pakai sarung!

Yang mengesankan adalah pertanyaan anak-anak ini. “Kapan kamu pakai sarung? Ini kan kaya rok ya..?” Anak saya bercerita, dia pakai sarung kalau sedang sembahyang atau mengaji. “Oh, kamu Islam ya?” “Can you show us?” (mereka minta anak saya memperagakan cara dia sembahyang). Dia minta izin gurunya ke kamar mandi (untuk wudhu) dan dengan cepat kembali ke kelas. “Lho kok basah rambutnya?”, seorang cewek penasaran. “I need to clean up before I pray,” anak saya menjawab pelan.

Dengan sedikit ragu dia menatap saya…dan memulai peragaan. Singkat saja, tapi teman-temannya memperhatikan sungguh-sungguh. Mereka ingin tahu, ingin belajar, dan sangat menghargai apa yang mereka pelajari hari itu. Selesai acara, kedua sahabat anak saya meminta sarung yang mereka gunakan di kelas. Obrolan lima anak kecil ini terus terngiang, “Rav, so you have religion?”, salah satunya berujar. “Yeah, why?”, anak saya bertanya. Sahabat Amerikanya merespon, “I don’t have any. I haven’t decide. But you’re cool. I learned about Islam once, but I don’t know. I might want to be like you one day, but…yeah…have’t decide.” Yang dari Cina ikut nimbrung, “That’s cool dude. And tell your mum next time can we have grilled bread (roti bakar isi meisis maksudnya) and that green explosive thing (klepon) when we stay over at your place?” Dan sahabat Samoa-nya yang pendiam tapi lucu kalau nyletuk tiba-tiba nimbrung, “Halal one!” Ketika foto dia dan sarungnya dikirim ke sahabat-sahabatnya, salah satu berkomentar, “The sarong has travelled again? Where this time?” “Australia, dude!!” anak saya menjawab.

Persahabatan mereka masih terus terjalin…facetime, email, chat, bertukar cerita, mulai sekolah, cewek, sampai kampus impian. Terlepas dari hasil pemilihan di Amerika, saya belajar banyak dari anak-anak ini tentang penghargaan, persahabatan, dan toleransi. Sesuatu yang di negara saya sendiri makin kabur dan hilang. Mudahnya terprovokasi dan membenci hanya karena sebuah roti membuat saya termangu. Mungkin semboyan negara ini dan kata toleransi sudah tidak ada lagi artinya. Hanya jika kita mau belajar dan membuka wawasan, kita tidak akan tertinggal sebagai bangsa. Dan selama kita masih terus mengkotak-kotakkan orang dengan kata ‘mayoritas’ dan ‘minoritas’ kita akan selamanya terpecah.

Oh ya, keempat anak laki-laki ini masih suka menyapa saya , ‘Hi, Ravi’s mum miss your roti bakar!’ (saya edit dan tambahkan kalimat terakhir ini karena anak saya yang baru bangun setelah ditelpon sahabatnya dari Oklahoma bilang, “Ma, ma…nih dicari Carlton!)

Dyah Pitaloka (Bermukim di Sydney)