Samin dan Ibu Bumi

Belakangan ini isue tentang komunitas Samin atau Sedulur sikep banyak berseliweran di media. Demam Samin ini dipicu oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar yang tiba-tiba getol membahas Wong Samin. Wacana yang hendak dibangun adalah bahwa Wong Samin seharusnya tidak berpolitik. Wong Samin harus netral. Ujungnya bisa ditebak: Wong Samin tidak usah menolak semen di Kendeng.

Gampang ditebak pula kenapa gubernur yang suka menyatakan bahwa dirinya adalah sarjana hukum ini tiba-tiba berperilaku bak antropolog. Semua orang juga tahu bahwa ini tak lepas dari tarik-menarik urusan pabrik semen di Kendeng, khususnya paska putusan MA yang memenangkan warga Rembang. Alih-alih segera melaksanakan putusan MA, Ganjar justru sibuk menggembosi gerakan penolakan semen di Kendeng, di mana komunitas Samin atau Sedulur Sikep menjadi salah satu motornya. Dengan mengalang opini bahwa Samin harus netral dan tidak berpolitik, Ganjar hendak melakukan delegitimasi gerakan penolak semen di Kendeng.

Membidik komunitas Samin dalam gerakan penolakan semen di Kendeng tidaklah terlalu tepat. Komunitas Samin adalah aktor utama dalam konflik semen di Sukolilo Pati pada tahun 2006 s/d 2012 yang dimenangkan oleh warga. Tapi konflik semen di Kendeng kini telah melebar ke Rembang yang melibatkan PT Semen Indonesia dan menyeret warga Pati yang berhadapan dengan anak perusahaan Indocement. Penolakan tidak hanya melibatkan komunitas Samin, tapi juga warga lainnya. Para penolak semen di Gunem Rembang, juga di Kayen, Tambakromo, dan Mbrati di Pati adalah petani yang santri. Perlawanan juga meluas ke segala lapisan hingga di kalangan mahasiswa, aktivis lingkungan, seniman, budayawan dan cendekiawan. Ini bukan hanya perlawanan Samin, bung!

Meskipun menghadirkan para tetua Samin, statement bahwa wong samin tidak seharusnya berpolitik dan netral adalah pernyataan ahistoris. Gerakan Saminisme yang dicetuskan oleh Samin Surosentiko dari awalnya adalah sebuah perlawanan politik melawan hegemoni Hindia Belanda. Tindakan menolak pajak dan segala peraturan adalah bentuk pembangkangan terhadap kekuatan politik Hindia Belanda. Meskipun berkembang menjadi kelompok dengan spiritualitasnya sendiri, ajaran Samin dilahirkan dan besar dalam rahim perlawanan atas ketidakadilan. Pramoedya Ananta Toer mencatat Samin adalah gerakan perlawanan terorganisir pertama, yang justru lahir di luar tembok kraton dan jubah kebangsawanan. Siapa bilang Samin non politik dan netral?

Kritik yang dilempar oleh barisan di belakang Gubernur Jawa Tengah terhadap praktek perlawanan Samin terhadap industri ekstraktif di Pegunungan Kendeng sesungguhnya hanya menyasar tataran atributif sekitar metode dan cara perlawanan mereka. Selain harus netral dan a-politik, mereka beranggapan aksi demo bukanlah cara Samin.

Ini adalah wacana remeh temeh kalau mau membicarakan ajaran Samin. Bicara soal cara Samin adalah ahli dalam membongkar tata cara. Pemakaian Bahasa Jawa Ngoko dan menolak Boso Kromo adalah dekonstruksi besar dari stratifikasi masyarakat yang dibangun kraton paska lenyapnya kasta seiring surutnya Hindu di Jawa. Wong Samin menolak stratifikasi karena bagi mereka semua manusia itu sama. Dibanding aksi ngoko, demo mah bukan apa-apa.

Salah satu ajaran inti Samin adalah kejujuran dan kesederhanaan. Mereka menolak perdagangan dan eksploitasi alam secara berlebihan. Mereka bahkan menganggap bumi tidak hanya sebagai benda mati. Bagi Wong Samin Bumi adalah ibu yang menghidupi. Rasa cinta dan pembelaan terhadap ibu bumi adalah inti perlawanan komunitas Samin dewasa ini. Kecintaan terhadap ibunyalah yang memberi energi terus menerus kepada mereka untuk melawan. Perlawanan dan demo membela Bumi Kendeng bukannya menggerus ajaran Samin. Perlawanan untuk membela Bumi justru aktualisasi ajaran Saminisme itu sendiri. Ngerti ora Son?

“Ibu Bumi wis maringi, Ibu Bumi dilarani. Ibu Bumi kang ngadili.”

Eggy Yunaedi (Aktifis Tolak Pabrik Semen di Rembang Jawa Tengah)