Rodrigo Duterte : Saya Sosialis

Filipina baru saja selesai melangsungkan pemilihan presiden untuk menggantikan posisi Benigno Aquino III, yang menjabat presiden sejak 2010. Mantan Walikota Davao, Rodrigo Duterte mengungguli dua rival terdekatnya yaitu Grace Poe dan Manuel Roxas.Begitu membaca berita kemenangan Duerte , satu-satunya hal yang mengingatkan saya tentangnya adalah peran dan reputasi Davao Death Squad (DDS).

Kebetulan saya pernah mengunjungi Davao dua kali, masing-masing selama sebulan pada tahun 2012 dan 2013 untuk mengikuti suatu training.Davao City sendiri merupakan kota terbesar dan ibu kota utama di Pulau Mindanao. Kota ini merupakan pusat regional Region XI.  Sebagai kota pariwisata di Filipina, Davao adalah kota yang tak pernah mati. Pariwisata menjadi andalan kota ini, berbagai fasilitas bagi wisatawan tersedia di sini. Mulai restoran, klub malam, cafe, live musik, gym dan spa yang buka sampai pagi hari. Karena kenyamanannya, banyak orang memilih Davao sebagai tempat tinggal dan beraktivitas. Davao adalah sisi lain dari Filipina yang memberikan wajah yang lebih ramah dari daerah-daerah lainnya.

Pemerintah Kota Davao menyadari pentingnya pariwisata bagi pendapatan daerah, karenanya mereka berupaya memastikan bahwa Davao adalah kota yang aman bagi para wisatawan.  Kini, Davao merupakan salah satu kota paling aman di Filipina berbeda dengan kota-kota lain di Filipina yang sarat dengan konflik, grup pemberontak, kelompok penculik, pembunuhan, dan kekerasan politik.

Guna menjaga dan memastikan keamanan kota dari gangguan preman, sebuah unit khusus bernama  Davao Death Squad (DDS)  dibentuk untuk mencegah premanisme dan Gangster  di Davao. Mereka diberikan kewenangan untuk menembak orang-orang yang dianggap preman ataupun gangster yang mengganggu keamanan dan ketertiban. Informasi dari para peserta training asal Filipina saat itu antara 2005 dan 2008 saja, lebih dari 700 orang  dieksekusi oleh DDS.

Meski kontroversial dan mendapat kecaman dari para pegiat HAM, keamanan dan kenyamanan Davao saat ini tak bisa dilepaskan dari sosok Rodrigo Duterte yang menjabat walikota selama empat periode. Bagi para pendukung kebijakan Duterte kehadiran DDS disebut sebagai  Suluguon sa Katawhan alias “Pelayan Masyarakat”

Sesaat setelah Duterte diumumkan menjadi pemenang, Pendiri Partai Komunis Filipina (CPP) Jose Maria Sison mengucapkan selamat melalui akun facebooknya.  Sison yang kini berusia 77 tahun berharap terpilihnya Rodrigo Duterte sebagai presiden dapat mengakhiri masa pengasingan yang sudah berlangsung hampir tiga dekade. “Saya akan kembali ke Filipina jika Duterte memenuhi janjinya untuk mengunjungi saya,” tulis Sison yang kini tinggal di Belanda.

Gayung bersambut, Duterte dalam konferensi pers pertamanya sejak terpilih menjadi Presiden Filipina menyatakan bahwa kepulangan Sison ke Filipina penting untuk membantu menghentikan pemberontakan komunis. Hal inilah yang menyebabkan saya tertarik mencari tau sosok Duterte selain dari reputasinya di Davao.

Berbekal mesin pencari google diketahui bahwa Duterte merupakan teman baik Jose Maria Sison. Duterte pernah menjadi murid Sison di Lyceum University medio 1960-an. Pada awal masa kampanye, Sison mengatakan kepada Philippine Daily Inquirer bahwa pemberontak senang karena penerus Aquino akan mendukung perundingan damai. Kedekatan  Duterte dengan sayap kiri Filipina juga terlihat dari keberhasilannya membebaskan lima polisi Davao dan seorang warga sipil yang disekap oleh pasukan sayap militer Partai Komunis Filipina, New People’s Army (NPA).

Sebagaimana diketahui pemberontakan CPP dan NPA telah berlangsung selama puluhan  tahun. Presiden Benigno Aquino sempat berupaya untuk membuka pembicaraan damai namun terhenti pada tahun 2013. Kala itu, pembicaraan damai dengan Pemerintahan Aquino mengalami jalan buntu setelah permintaan pihak komunis untuk pembebasan rekan mereka yang dipenjara ditolak.

Selama itu, Duterte diketahui merawat hubungannya dengan Sison.Sebuah  jaringan televisi lokal ABS-CBN menyiarkan tayangan yang menggambarkan Duterte sedang berinteraksi dengan Sison melalui layanan Skype di laptopnya. “Saya sosialis,” ungkap Duterte kala itu. ABS-CBN menyebut percakapan kedua tokoh itu terjadi tak lama setelah kelompok komunis melepaskan lima sandera polisi di Davao.

Tak heran kedekatan Duterte dengan Sison ini akan mempengaruhi pembentukan kabinetnya. Seperti dilansir kantor berita AFP, pada kabinetnya Duterte juga berencana akan memberikan porsi empat departemen untuk Partai Komunis Filipina. Keempatnya yaitu, Departemen Reformasi Agraria, Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam, Departemen Tenaga Kerja, serta Departemen Pembangunan dan Kesejahteraan Sosial.

Duterte yang akan dilantik pada 30 Juni mendatang hadir di tengah frustrasi dan keputusasaan rakyat biasa terhadap pemerintah. Lima puluh tahun sudah Filipina hidup di bawah dinasti-dinasti, seperti Aquino, Arroyo, Estrada, atau Marcos. Kemenangan Duterte dianggap mendobrak tradisi “dinasti” dalam pemerintahan Filipina. Politik dinasti ini membuat  presiden dapat  menempatkan kolega atau kerabat dekatnya di posisi atau jabatan strategis yang pada akhirnya memperkuat kekuasannya. Hal inilah yang membuat Filipina terpuruk dan menempatkannya bertengger di posisi 95 dari 168 negara dalam daftar indeks persepsi korupsi Transparency International.

Kini Duterte menjanjikan aksi cepat  untuk melibas kejahatan dan kemiskinan di negaranya.  Satu hal penting lainnya adalah, Duterte dilihat publik Filipina sebagai orang luar di lingkaran politik nasional yang tidak takut menantang dominasi kaum kaya dan kuat.Duterte barangkali memang menyeramkan, tapi jutaan pendukungnya sama sekali tak takut. “Dia pemimpin yang hebat dan dia pemimpin rakyat sebenarnya…. Hanya pelanggar hukum yang harus khawatir terhadapnya,” ujar Lina Abunda, kepada Telegraph.

 

Penulis : Oki Hajiansyah Wahab