Rekonsiliasi Genjer

Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar

Emake jebeng padha tuku nggawa welasah

Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer, genjer…

Lagu yang dinyanyikan merdu oleh Bing Slamet itu berakhir menguap, malam semakin dingin.  Ibu melanjutkan potongan-potongan memori yang masih dia ingat, “dulu mbah putri itu ikut Gerwani, sering pidato di depan orang banyak, sama mbakku yang mbarep(sulung),” ujar ibu sambil menjahit kebaya persiapan hari kartini adik perempuanku.

“Lagu itu(genjer-genjer) sering dinyanyikan ketika pawai,” lanjutnya, dahinya mengerut, berusaha menggali apa yang bisa teringat, waktu itu umur ibu masih sekitar 5 tahun.

mbah putri itu ngajar orang-orang buta huruf, petani-petani, orang-orang tua.”

Menurutnya, setiap ada acara kumpulan Gerwani, mbah putri selalu hadir, sering pula menyanyikan lagu genjer-genjer.  Dan seluruh hadirin bertepuk tangan untuknya.

Semasa sebelum gestapu, diceritakan oleh beliau bahwa orang-orang di Malang Selatan aktif mengadakan kegiatan semacam penyuluhan dan mendengar pidato.

“Memang boleh ndengerin lagu itu?,” ibu bertanya.  Aku mengangguk, mengiyakan.

Beliau melanjutkan, pasca gestapu, keadaan berubah drastis.  Banyak sekali orang-orang yang ikut dalam Gerwani dan PKI, menghilang.

“Jaman itu, semua yang terkait dengan PKI, Gerwani, ditangkapi.” Katanya, “kepala sekolah, sarjana, pejabat, guru-guru ditangkapi, dan gak kembali.”

“Sering rumah-rumah digambari palu arit di temboknya, lalu besoknya ditangkap, padahal gak ikut-ikut.  Yang gambari juga gak tau siapa.”

Beliau melanjutkan menjahit, malam semakin dingin.

Ibu juga bilang, pada waktu itu, setiap menjelang magrib selalu ada rombongan jeep menyisir rumah di pinggir jalan besar.

“Jadi orang-orang semua pada takut, ngungsi dari rumah, ke rumah-rumah yang ada jauh di dalam pelosok, tiap malam rumah itu kosong ditinggal, takut ditangkap.”

“Mbah putri gak ditangkap?,” tanyaku, heran, sebab dengan perannya yang mencolok dalan organisasi wanita kiri itu, mustahil rasanya untuk bisa ‘dilangkahi’.

Nggak, tapi disuruh berhenti sama mbah kakung.” Ibu melanjutkan, “mungkin juga karena mbah kakung masih kerabat keraton, ada pertalian silsilah dengan Hamengku Buwono IX.”

Aku mengangguk.

Cuplikan lirik di awal adalah bagian dari lagu Genjer-genjer, sebuah lagu rakyat yang ‘keramat’ akibat kesalahpahaman sejarah yang menyertainya.

Diciptakan oleh Muhammad Arif pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, lagu genjer-genjer ini dengan satir melukis bagaimana tanaman gulma yang biasa dimakan itik dan tumbuh di rawa kemudian menjadi santapan orang desa karena kondisi yang semakin sengsara.  Di masa demokrasi terpimpin(sekitar tahun 1959-1966), lagu ini semakin populer di tengah keadaan krisis ekonomi yang membelit Indonesia saat itu, sehingga menjadi semacam alatkritik sosial.  Ideologi komunis yang saat itu lebih menyentuh kaum bawah, orang desa, dan perjuangan kelas, menjadikan lagu ini sebagai propaganda.

Sang pencipta lagu, akhirnya meninggal dalam serangkaian upaya pembantaian orang-orang yang dituduh komunis yang berlangsung sepanjang tahun 1965-1966.  Tragedi paling memilukan dan mencekam sepanjang sejarah Indonesia.

Hari ini(19/4) adalah hari terakhir digelarnya Simposium Nasional “Membedah Tragedi 1965”, yang dimulai sejak senin(18/4/2016).  Simposium yang dilaksanakan selama dua hari ini bertujuan untuk mempertemukan pelaku-pelaku sejarah ’65 dan mendengarkan fakta-fakta sejarah yang ada pada masing-masing pihak.

Gestapu, dan tragedi demi tragedi yang menyusulinya masih menjadi misteri hingga kini.  Propaganda yang didengungkan selama puluhan tahun membekas dalam bentuk rasa benci dan jijik bagi orang yang tidak tahu, dan menggumpal sebagai trauma bagi yang menjadi korban dalam tragedi tersebut.

Simposium yang bertujuan untuk berdamai dengan masa lalu ini bisa kusebut sebagai langkah pembuka pintu sejarah ’65 lebih dalam.

Setelah puluhan tahun dicekoki dengan satu versi sejarah yang memabukkan, dimonopoli, dilegitimasi, maka sudah saatnya fakta-fakta yang lain berbicara atas nama kebenarannya.  Dengan bebas, tanpa musti terus berada dalam kerangkeng pencekalan dan penolakan.

Tragedi ’65 adalah sebuah cara sistematis untuk membuat masyarakat kembali ke jaman batu.  Pikiran dikekang, kebebasan dipenjara, dan rasa takut diolah menjadi komoditi.

Melalui simposium ini, diharapkan terwujud bentuk rekonsiliasi sebagai solusi awal.

Tentu saja, hal paling penting adalah meluruskan sejarah.  Orang bilang,

“Sejarah ditulis oleh pemenang,”

Maka dari itu, rekonsiliasi hendaknya melahirkan win-win solution agar semua pihak mendapatkan keadilan.

Tragedi ’65 bukan seperti kejadian yang bisa dilupakan begitu saja, tragedi ’65 adalah cermin, katakanlah, spion.  Bukan tanpa sebab mengapa harus ngotot supaya masalah ini cepat clear, tidak lain adalah agar kejadian serupa tidak terulang kembali.  Kita harus melihat sejarah dalam bentuk yang sebenar-benarnya, sebagai acuan, apa yang sudah kita lewati membentuk diri kita yang sekarang.

“Mereka yang tidak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya.” – George Santayana

Generasi muda harus paham akar masalah, serta kronologi yang lahir mengikutinya.  Berangkat dari situ, diharapkan menjadi pelajaran.

“Jangan sekali-sekali melupakan sejarah!.” -ujar Bung Karno

Melawan lupa, memelihara ingat, memberitahu, adalah rangkaian kewajiban yang musti dilakukan.  Yang jelas, simposium bersejarah telah dilaksanakan.  Tidak boleh berhenti di situ, sampai waktu di mana kita mengenal sejarah tanpa prasangka.

Layaknya lagu Genjer-genjer, sebuah lagu rakyat yang disalahpahami puluhan tahun karena tersematnya identitas penuh praduga.  Perlu rekonsiliasi agar genjer tidak lalu dianggap sebagai tanaman PKI.

 

Penulis : Bayu Setiawan