Rayuan Pulau Palsu,Sebuah Ajakan Perlawanan

Lagi pengen jadi mah menta-menta, dukung saya-dukung saya, pas sudah jadi mah rakyat kecil ditindes” (Cuplikan dalam Trailer Film Rayuan Pulau Palsu)

Jujur, film ini adalah film yang saya nantikan. Dari pengumuman di media sosial film produksi WatchdoC Documentary ini baru akan diputar perdana pada , Sabtu 30 April 2016 di Muara Angke. Dari lokasi pemutaran perdananya saja kita sudah dapat memprediksi  bagaimana spirit dari film ini.

Terlebih tidak seperti biasanya dimana film-film produksi  WatchdoC Documentary setelah penayangan perdana akan diunggah ke youtube dan orang dimanapun bisa menyaksikannya. Saya dan teman-teman di Lampung misalnya beruntung menonton film-film produksi  WatchdoC Documentary akibat kemudahan yang diberikan youtube.

Kali ini WatchdoC Documentary menyatakan tak akan mengandalkan youtube. Kami juga tak ingin film ini diputar di pusat-pusat kebudayaan dan sekedar jadi tontonan atau bahan perbincangan kaum terpelajar saja. Kami memilih jalur distribusi yang berbeda. Bukan karena soal eksklusif atau sekedar gaya-gayaan. Bersama kawan-kawan komunitas, kelompok warga di kampung-kampung, organisasi-organisasi rakyat, hingga lembaga kampus, kami akan memutar film dokumenter ini, meski ala layar tancep yang sederhana. Bagi kami, layar dan gedung yang megah tak akan berarti apa-apa, jika setelah film selesai lalu kita pulang ke rumah masing-masing dengan hati riang,” demikian pengumuman WatchdoC Documentary melalui media sosialnya.

Pesan kuat yang hendak disampaikan WatchdoC Documentary  ini sesungguhnya mengajak kita semua untuk berefleksi. Menyaksikan trailer film ini tampak jelas semangat “menagih” komitmen Jokowi terhadap rakyat. Pidato pelantikan Jokowi yang mengatakan bahwa kita telah lama memunggungi laut,memunggungi samudera, memunggungi selat dan teluk  dan janji untuk mengembalikan kejayaan di lautan menjadi pembuka film Rayuan Pulau Palsu.

Menagih Janji dan komitmen Jokowi adalah pesan  ditengah perdebatan dan kekhawatiran publik soal proyek reklamasi di berbagai daerah. Menurut penulis pesan tersebut hendak mengatakan bahwa ini bukan  sekedar film sebagai salah satu media pendukung advokasi penolakan reklamasi tapi lebih jauh dari itu, film ini adalah media pengorganisasian untuk melakukan sebuah perlawanan.

Bagi penulis , film ini sekaligus sindiran dimana penulis biasanya menggunakan film dikelas-kelas sebagai media pendidikan dan pembangunan empati saja. WatchdoC Documentary  benar bahwa persoalan reklamasi dan persoalan-persoalan rakyat tidak selesai hanya dengan sekedar berempati. Bagi kalangan intelektual, memutar film-film semacam ini juga tak cukup hanya dimaknai sebagai upaya memberikan informasi tentang apa yang sedang terjadi.

Rezim yang populis memang membuat kebanyakan orang justru kehilangan daya kritis dan kadangkala mengamini berbagai kebijakan penguasa yang sesungguhnya zalim. Pada konteks ini media-media mainstream sesungguhnya berperan membentuk persepsi publik yang demikian. Beruntung, kehadiran media-media alternatif, film-film dokumenter sesungguhnya menjadi wacana tanding terhadap berbagai puja-puji terhadap penguasa.

Terlebih, Film Rayuan Pulau Palsu juga hadir pada momentum yang tepat ketika reklamasi pada akhirnya dipersoalkan publik secara luas. Benar sebelumnya ada gerakan-gerakan penolakan reklamasi di berbagai tempat, terutama di Bali. Namun, ketika reklamasi di Teluk Jakarta terungkap sarat dengan manipulasi dan korupsi, seketika isu reklamasi diberbagai tempat bermunculan dan menjadi perbincangan publik secara luas.

Film Rayuan Pulau Palsu hadir untuk menjadi film yang tak sekedar memberikan informasi dan membangun empati. Lebih dari itu, bagi saya film ini hendak menyampaikan pesan ajakan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan penguasa. Sebuah ajakan perlawanan yang dikemas secara apik, tekun dan yang paling penting memiliki sikap dan keberpihakan yang jelas.  Salah satu cuplikan komentar nelayan dalam trailer film ini jelas menyampaikan pesan perlawanan seorang nelayan. ”Perahu saya tiap hari bolak-balik, diusir-usir melulu, cuma saya ngelawan,jujur aja.”

Strategi distribusi film yang dipilih juga patut diapresiasi. Pemutaran  ala layar tancap di kampung-kampung, organisasi rakyat, komunitas, kampus akan membuat film ini “naik kelas” dari sekedar film dengan hits penonton yang tinggi di media sosial menjadi film yang mengorganisasikan sebuah perlawanan. Isu yang hendak disampaikan film ini pada gilirannya kelak akan menjadi perbincangan publik di berbagai kalangan, di desa-desa, di kampung-kampung, dikampus-kampus, di kantor-kantor organisasi rakyat dan akan terus meluas.

Film Rayuan Pulau Palsu tampaknya juga akan membawa dampak yang  lebih kuat dibanding film produksi WatchdoC Documentary  sebelumnya yakni Kala Benoa. Lewat strategi distribusi film yang cerdik, film ini selain berupaya menyasar mereka yang menjadi korban dan terpinggirkan tapi juga sekaligus menjangkau  khalayak luas yang harapannya tercerahkan lewat film ini. Bagaimanpun, kehadiran kelas menengah dalam mendukung perjuangan rakyat menolak reklamasi tetap dibutuhkan.

Terima kasih para pembuat film Rayuan Pulau Palsu  yang telah membuat film ini menjadi pengingat bagi penulis sendiri.  Meski belum menontonnya, penulis optimis dari pengalaman film-film produksi WatchdoC Documentary, film ini akan mampu menjadi media yang memperkuat pengorganisasian dan perlawanan terhadap kebijakan penguasa yang sewenang-wenang.

Sekali lagi pesan WatchdoC Documentary patut kita refleksikan “Layar dan gedung yang megah tak akan berarti apa-apa, jika setelah film selesai lalu kita pulang ke rumah masing-masing dengan hati riang.”

 

 

Penulis  : Oki Hajiansyah Wahab