Pramoedya Ananta Toer

“Kalau kaum politik tidak mengindahkan kepentingan rakyat, mestilah kaum penulis mengindahkannya.” (Pramoedya Ananta Toer)

Tahun 1999, Asap-asap rokok itu begitu tebal memenuhi ruangan yang penuh dengan rak-rak susunan berjilid-jilid kertas. Di ruangan itu, berserakan buku dan tulisan-tulisan lamanya walaupun dia tahu umur telah membuatnya kualahan tidak seperti masa muda yang tekun dan mencandui bacaan-bacaan. Maklum kini umurnya sudah sangat tua dan seringkali matanya meneteskan air mata karena tidak mampu lagi membaca, kekuatan tangannya pun semakin lemah sehingga tidak mampu untuk menulis. Di ruangan itu ada meja dan kursi, di atas meja ada mesin ketik usang yang dengan itu dirinya menghasilkan puluhan karya hingga melambungkan namanya di jagad sastra dunia. Tahun pasca reformasi itu, begitu sengit mengingat keadaannya yang hanya bisa sesekali komentar atas kacaunya negari ini. Yang bisa dilakukan hanyalah mengliping koran yang sampai panjangnya 7 meter. Dan kelak gagal karena 30 April 2006 usianya tuntas 81 tahun sudah sampai pada ajal.

Tahun 1999 itu, wajahnya yang renta dan kulitnya yang semakin lembek pertanda dunia sudah lama digeluti. Terlalu lama hidupnya dihabiskan di dalam jeruji besi. Namun bisa dipastikan jiwa Pramoedya Ananta Toer telah mengembara puluhan tahun ke negeri nusantara zaman Arok Dedes—sebagaimana novel ini melambungkannya—di belawan bumi Jawa Timur. Lewat karya ini Pram seakan menggugat tradisi Jawa yang penuh dengan sejarah berdarah-darah dan bentuk nyata kudeta politik yang menyeramkan. Cerita panjangnya dalam karya Arok Dedes ini menjadi imajinasi Pram sebagai orang yang memahami betul konteks kebangsaan Indonesia, karakter masyarakat Jawa yang menjadi mayoritas dan pemahamam holistik tentang Indonesia dan tentu belum bersapa dengan proklamasi kemerdekaan.

Saat akhir orde lama dan dimulainya orde baru, sikap represif angkatan darat begitu pahit memperlakukan Pram. Pram tidak membenci Soekarno, dia begitu yakin Soekarno adalah orang baik. Popor senjata yang tiap hari menindas kepalanya di penjara Buru adalah murni kekejaman angkatan darat yang menjadi antek-antek imperalisme modern. Namun Pram muda tetap bengal dan terus melakukan perlawanan-perlawanan terhadap otoritarianisme. Perlawanan itu semakin kencang dengan tulisan-tulisan yang dihasilkan lewat penjara Buru.

Pram tidak pernah takut dengan ancaman, penjara Buru tidak mampu memaksanya diam. Kebencian Pram terhadap otoritarianisme membentuk pribadinya sebagai pendobrak lewat narasi. Pram juga manusia yang rumit, sejak kecil hingga umur 28 tahun, jika dirinya membenci sesuatu dia tidak mampu melawan dengan kata-kata. Untuk itu dia hanya mampu melawan dengan menuliskannya. Hingga akhirnya dia putuskan untuk ke Belanda merantau ke negeri yang menjajah Indonesia 350 tahun lamanya. Pengalaman di Belanda inilah yang diyakini telah mewarnai sebuah cerita, karya monumentalnya yang menjadi bagian dari tetralogi buru “Bumi Manusia”. Aktor Minke dan Annelise begitu hidup dan memprovokasi pemikiran para pembaca untuk merasuk dalam kehidupan pra kemerdekaan. Minke adalah kisah fiksi seorang jurnalis pribumi Indonesia pertama yang sering disematkan kemudian kepada seoarang R.M. Tirto Adi Soerjo. Sebelum menulis “Bumi Manusia” Pram mendongengkan cerita Minke pada sesama tahanan di Buru. Namun 10 tahun kemudian, Pram berada pada pengelihatan dunia internasional. Penjara Buru memang kejam dan penuh dengan penyiksaan. Pram kemudian dihadiahi oleh penulis Prancis Jean Paul Sartre sebuah mesin ketik baru. Faktanya, mesin tik baru tidak pernah diberikan kepada Pram. Angkatan Darat telah menggantinya dengan mesin tik rusak, yang pitanya harus dibuat sendiri oleh para tahanan itu dengan bahan seadanya. Karya ‘Tetralogi Buru’ juga hampir saja tak dapat diselamatkan seperti banyak karya-karya Pram lainnya yang dibakar oleh tentara. Tetapi jasa-jasa orang asing seperti seorang pastor Jerman dan seorang warganegara Australia bernama Max Lane yang berhasil menyelundupkan keluar dan akhirnya menerbitkan Tetralogi Buru itu di luar negeri.

Pram pernah berkata, “Karya saya sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa, tapi saya tidak pernah dihargai di dalam negeri Indonesia.” Bumi Manusia (1980; 1981), Anak Semua Bangsa (1981; 1981),  Jejak Langkah (1985; 1985), Rumah Kaca (1988; 1988) adalah Tretalogi Buru yang membuatnya melambung nama di jagad sastrawan dunia. Di penjara buru Pram sangat menderita, bahkan usia tuanya diyakini akibat berkah kerja paksa yang dialaminya saat di penjara Buru. Setiap hari Pram mencangkul, rezim represife telah meremukkan dan merenggut kebebasannnya sebagai warga Negara. Tuduhan orang komunis PKI melekat padanya seolah Pram adalah warga yang mengancam keutuhan NKRI. Memang Pram aktif de LEKRA (lembaga kesenian rakyat) sebagai sayap gerakan PKI, namun Pram bergabung di lembaga tersebut untuk memberi teladan bahwa seni harus hadir untuk rakyat. Suara seni adalah suara jeritan, perlawanan terhadap ketidakadilan dan kekuasaan yang sama kejamnya seperti imperalisme. Kekuasaan apapun bentuknya jika tidak diberikan pada pemimpin yang amanah akan menghancurkan keadilan dan membangun tirani. Begitulah Pram, para sastrawan yang tidak mau membawa seni untuk meneriakan perlawanan baginya adalah omong kosong. Hantaman popor senjata yang menghampiri kepalanya telah berimbas pada berkurangnya pendengaran Pram. Pram dalam usia tua saat itu tetap semangat dan tanpa putus asa menyerukan kebenaran-kebenaran sejarah. Kebenciannya terhadap angkatan darat yang telah menyiksanya, membuatnya melawan dengan tulisan-tulisan. Karya sastra itu menyemburat kehidupan, “Bumi Manusia’ yang penuh dengan eksploitasi, rasisme, otoritarian, dan pengekangan-pengekangan rezim hingga berdarah-darah.

Karya-karya itu hidup untuk mengatakan yang sebenarnya kepada masa depan tentang masa lalu yang penuh dengan narasi palsu. Pram berucap “Mereka (tulisan) itu adalah anak-anak rohani yang keluar dari jasad saya. Anak-anak rohani itu ada yang mati muda dan ada yang masih hidup sesuai dengan umur zamannya”. Karya Pram memang ada yang mati muda akibat dibakar oleh angkatan darat, setidaknya 9 karya yang dibakar dalam bentuk naskah ketikan. 38 Karya Pram telah diterjemahkan ke puluhan bahasa asing. Tulisan-tulisan yang masih hidup itu pun sekarang dapat kita baca sebagai buah fikir dan juga anak-anak rohani yang mengajak kita bercengkerama kembali dengan nurani kemanusiaan yang semestinya. Nilai-nilai keadilan, kebenaran, ketulusan dan perjuangan yang membangun sisi humanisme. Bahkan ada karya Pram yang ditemukan di Pasar senin dan berhasil diselamatkan dalam bentuk masih naskah ketik.

Total karya Pram disinyalir sekitar 200-an. Namun banyak karya Pram menjadi anak-anak rohani yang berumur pendek. Akibat rezim yang terus melarang beredarnya buku-buku Pram yang mereka anggap berbau Marxisme, Komunis, dan lain sebagainya. Namun zaman tetap memintal ingatan, walau Pram sudah tiada, saat ini Karya Tetralogi Buru tetap menjadi bacaan yang mampu memenuhi toko-toko buku. Karya Pram berjejer seakan menyombongkan diri untuk mengatakan pada orang-orang orde baru. “Hai… lihatlah walau aku sudah mati, anak-anak rohaniku masih gagah mengatakan tentang kemanusiaan, tentang keadilan, tentang Indonesia yang selama ini kau injak nuraninya dan kalian ganti dengan perilaku tiran”. Sebagaimana Pram berucap dalam novelnya“Dia selalu bilang pada anak-anak itu: kalau mati dengan berani, kalau hidup dengan berani. Kalu keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”

Dharma Setyawan