Pram, Samin, dan Kemarahan Jipang

“Keturunan orang Jipang itu orang-orang yang marah!.”

Seingatku begitu lah yang diucapkan-dengan nada hampir teriak-oleh nenek tua renta yang terbaring dalam kelambu di ruangan 3×3 meter itu dulu.  Beliau nenek buyutku dari bapak.

Sudah lama sekali, dan itu alasanku tak lagi berani dekat-dekat dengan nenek buyut, hingga berada di liang lahat, aku pun masih tak berani mendekati kuburnya.  Sampai aku lupa di mana letak nisannya.

Jipang adalah polemik dalam sejarah, menyimpan luka yang jauh lebih pedih dari sekedar usus yang terburai, lebih gelap dari penjara keterasingan, yang dihadiahkan semenjak Joko Tingkir memindahkan kekuasaan Demak ke Pajang, yang lalu dienyahkan oleh anak angkatnya sendiri, Sutawijaya, yang lalu mendirikan kerajaan Mataram.  Hingga tetap eksis sampai sekarang, bersama dengan masih utuhnya keterasingan itu atas kadipaten Jipang yang kini hanya tersisa nama buruk, yang masih juga menorehkan beban sejarah bagi keraton.  Lalu seakan dibiar tertinggal, terlupakan, terkucilkan..

Dalam sejarah populer, Adipati Jipang Panolan, Arya Penangsang, digambarkan sebagai pemberontak yang cepat naik darah serta merongrong kesultanan Demak dengan berusaha merebut tahta, dituduh melakukan pembunuhan terhadap sepupunya, Raden Mukmin, dan juga bertanggung jawab atas kematian sultan Hadiri, suami dari sepupunya, Ratu Kalinyamat.

Dosa yang demikian besar itu menjadi pelengkap syarat bagi Joko Tingkir yang merupakan wali sultan saat itu, untuk mengenyahkan Arya Penangsang dan sekalian, Jipang.  Yang selama bertahun-tahun menjadi musuh bebuyutan bagi kadipaten Pajang.

Sebagai pewaris sah atas mahkota kesultanan Demak berdasarkan silsilah, Arya Penangsang adalah satu-satunya kunci hidup matinya Demak.  Benar saja, keruntuhan Demak berawal dari ‘terbunuhnya’ Arya Penangsang di bengawan sore, yang gugur karena tipu daya.

Kadipaten Jipang, dengan tragedi bengawan sore, seakan luruh dan terhapus.  Dilupakan dan hendak dibuang.  Kini Jipang yang terisa hanya lah sebuah desa kecil di Cepu, Kabupaten Blora.  Padahal, Kadipaten Jipang dahulu meliputi Lasem, Pati, dan Blora.

Pramoedya Ananta Toer, lahir dari penjual nasi dan guru yang lalu mendirikan sekolah(akhirnya pun jadi tukang judi yang frustasi karena sekolah miliknya ditutup pemerintah) di Blora, bekas wilayah Jipang ini.  Dipenjara oleh tiga penguasa adalah bagian dari kisah hidupnya, penjaranya yang terakhir berada di pulau Buru.

Sepanjang hidup Pram diisi oleh getir dan kehinaan, sinisme dan tekanan.  Setelah dipinggirkan oleh sesama penulis orde Lama, Pram harus pula menerima karyanya dibakar, mengalami penyiksaan sebagai ‘tertuduh yang tidak tahu menahu’, dijadikan tapol, diadili tanpa proses pengadilan, dan kehilangan harta benda yang dirampas oleh negara.

“Sejarah hidup saya adalah sejarah perampasan,” ucap Pram

Saminisme berada dalam ruang lahir yang sama, memilih menyudut dan harmonis dalam keterasingan.  Cara hidup yang menjadi sistem sosial itu dilakoni dengan kaffah dalam lingkup masyarakat kecil di desa Jipang.  Berlandaskan tentang keteraturan dan sinergitas antar makhluk-alam, membuat Saminis layaknya Baduy bagi orang Jawa; naturalis, anti-kapitalis.

Memperpendek temperamen penguasa kolonial dengan menolak membayar pajak, menolak menebang hutan.

Hidup dengan menolak berdagang juga membuat Saminisme dipandang sebagai the way of life yang primitif, ketinggalan zaman, bodoh.

Orang-orang yang kelihatan lugu dan naif ini, sedang berjuang melawan rakusnya para penjamah lingkungan.  Perusahan-perusahaan semen dihadapi dengan perlawanan, tanpa kekerasan.

Konon, apa yang dilakukan orang-orang yang justru menolak disebut orang Samin ini menginspirasi bentuk perlawanan ibu-ibu dari lereng Kendeng; memasung kaki dengan semen.  Bentuk perlawanan tanpa kekerasan.

Kini Jipang mungkin hanya sekedar biji hitam pahit yang diludah ke tanah, menyaksikan pengingkaran demi pengingkaran terhadap eksistensinya.Jika ada rasa muak, adalah Pram yang dengan jujur mengusulkan bahwa sebaiknya pusat pemerintahan didirikan di luar pulau Jawa.

Tapi biji itu tumbuh perlahan, yang berserakan akan terkumpul kembali.  Orang Jipang memang dikenal eksentrik, tidak hanya karena ngoko, tapi jujur adalah simbol orang Jipang, tanpa basa-basi.Sebutlah orang Jipang naif, dengan begitu sama naifnya dengan Arya Penangsang yang percaya bahwa dia akan tarung satu lawan satu di bengawan sore, meski nyatanya tidak.  Karena itu orang Jipang marah terhadap tipu daya.

Orang-orang Jipang, sepanjang sejarah adalah orang-orang yang marah.  Marah dari ketidakadilan yang hadir dan merundungi mereka. Marah atas ketertinggalan yang bersebelahan dengan gemerlap citra Ningrat warisan feodalis.  Marah terhadap kesewenangan dan perampasan oleh kekuasaan.  Marah dengan penggelapan sejarah yang kabur dan didikte oleh kepentingan.

Manifestasi dari kemarahan itu adalah sebuah perlawanan. Perlawanan tanpa kekerasan.

 

Penulis : Bayu Setiawan