Politik 212 dan Maafkan Aku yang Dulu

Pernah mendengar istilah politik 212? Atau pernah tahu tokoh Wiro Sableng yang dikenal sebagai pendekar kapak maut naga geni 212 murid dari Shinto Gendeng dalam karya Bastian Tito? Saya tak ingat pasti, serial Wiro Sableng ini berhenti di episode ke berapa, serupa dalam praktik politik 212, sejak kapan dan akan berakhir dalam episode keberapa, juga tak pasti.

Tak perlu repot mengernyitkan dahi, berpikir keras atau searching buku yang menjelaskan teori politik 212 ini, pertama karena memang belum ada teori apalagi buku yang menjelaskan tentang politik ngawur ini, kedua, tulisan ini tidak bertujuan memaksa anda untuk berpikir hal-hal yang berat tentang teori-teori politik dan seluruh tetek bengeknya. Soal tetek bengek ini juga tidak usah dibahas, tidak bakal ketemu rumusnya, tetek yang bengekan!

Politik 212 ini hanyalah obrolan warung kopi, meluncur dari seorang politisi yang sering bicara ngawur, tapi terkadung masuk akal, mirip kisah si Pandir atau si Bahlul, yang kadang terlihat bego tapi kata-katanya sering tepat dan diaminkan orang dengan dengan desisan “iya, juga ya!”

Politik 212, menurut si politisi yang (mungkin) juga pernah mempraktikkannya adalah untuk menjelaskan laku politisi saat terpilih, dalam rentang jabatan selama lima tahun sering menggunakan jurus Si Kunyuk Memetik Buah dengan pola 212, dua tahun pertama mengembalikan modal kampanye, satu tahun berikutnya pura-pura (baca; pencitraan) mengurusi dan melayani rakyat, dan dua tahun terakhir kejar target mengumpulkan modal untuk mencalonkan diri lagi.

Lah, kalo politisinya saja berani merumuskan politik secara sableng dan gendeng, kenapa rakyat dan kamu, ya kamu, masih saja ngotot menjadikan demokrasi seperti berhala, diperjuangkan dan dibela mati-matian seperti jihadis Afghanistan atau militan Palestina memperjuangkan kemerdekaannya, sehinga rela menuding kafir, sesat dan ahli neraka, gara-gara orang lain berbeda pilihan politik dan partai politik dengan kelompokmu.

Agar kurap dan kudis di otakmu itu bersih, dan berhenti menjual ayat-ayat Tuhan untuk memaksa orang memilih atau menikmati demokrasi menurut istilah ustadzmu itu, bacalah Demokrasi La Raiba Fih, karya Cak Nun. Semoga, setelah membaca buku itu kamu menjadi paham, memilih partai itu tidaklah sama seperti memilih agama dan keyakinan, bukan soal memilih salah dan benar, tetapi soal merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Jika tak juga cukup, lihatlah penampilan para pejabat dan wakil rakyat berperut buncit karena kekenyangan makan uang rakyat itu, bangdingkan dengan rakyat berperut buncit karena busung lapar.Setelah mereka berkuasa, tidak ada lagi simbol-simbol kejelataan dalam atraksi politik ketika mereka kampanye, tidak ada lagi drama nasi aking dan tukang becak, sayup-sayup jeritan kemiskinan di pedesaan tenggelam dalam hentakan syahwat politik yang tak lagi terbendung.

Memahami politik 212 ini,  tidak perlu membaca Machiavelli, karena pengalaman langsung akan selalu membuktikannya. Amartya Kumar Sen dengan masygul menunjukkan bahwa tak ada korelasi konklusif antara pertumbuhan ekonomi dan demokrasi, meski di sisi lain Sen juga mengakui bahwa kelaparan yang dahsyat tak pernah terjadi di negara merdeka, demokratis, dan memiliki pers yang bebas.

Kemiskinan adalah kekerasaan dalam bentuk yang paling buruk.” Kalimat itu pernah diucapkan oleh Gandhi. Kita memang tak tahu persis bagaimana orang miskin harus dilindungi. Menyedihkan. Orang miskin adalah ilustrasi hidup tentang nasib buruk.

Bagi rakyat, kemiskinan bukan sebuah vakansi dari kejenuhan hidup mewah, atau kegenitan mencari yang lebih “alami” di tengah kesumpekan materialisme. Kemiskinan bukanlah sebuah kesudahan yang tragis. Ia adalah keseharian yang harus dijalani. Tak heran, jika dalam satu masa rakyat berjejal-jejal, saling himpit dan injak, begitu ada orang kaya yang berbagi sedekah, berbagi sembako. Festivalisasi kebajikan.

Termasuk bagaimana antusiasnya rakyat bergerak dan menyerahkan nasib dan masa depannya kepada politisi yang membarter suaranya seharga sembako, gula, minyak goreng atau uang senilai seratus ribu rupiah ketika musim pemilu.

Serupa kekasih yang bosan hidup dalam keterbatasan, kepedihan dan penderitaan sehingga harus meninggalkan kekasihnya demi materi, memilih yang bersepeda motor karena bosan berjalan kaki, memilih yang bermobil karena takut kepanasan atau malu dengan wajah kekasih yang pas-pasan karena jarang dirawat sehingga memilih yang klimis dan berbau wangi. Suatu saat, ketika kekasih yang ditinggal dan tak dipilihnya itu menjadi lebih baik, telah memiliki segala yang membuatnya berpaling, kemudian berkata Dear Mantan, Maafkan Aku Yang Dulu!

Rakyat yang dulu pernah menerima minyak goreng, sembako dan imbalan rupiah, jika hendak menagih janji peduli pada mereka yang kini terpilih, duduk di kursi empuk di ruang berpendingin, jangan kaget jika mendapatkan kata-kata, “Dear Rakyat, maafkan aku bukanlah yang Dulu. Dulu, aku butuh kamu dan telah ku bayar lunas. Sekarang saatnya aku mengembalikan modal, tunggulah tahun ketiga aku menjengukmu, mengupayakan anggaran yang sebenarnya juga uangmu, mampu menjangkaumu. Tapi, maaf, di dua tahun terakhir, jangan mengganggu karena aku harus mengumpulkan modal untuk kembali membeli suaramu, tunai!

Begitulah filosofi politik 212 itu, si miskin ya bertemanlah dengan sesamamu. Kata Mamah Dedeh, jika ada politisi yang berkata: “Ku wakafkan tubuhku untuk rakyat!” Jawablah dengan lantang, “Prettt!! Kagak percaya gue!!”

 

 

Penulis : Rahmatul Ummah