Pertanyaan George Junus Aditjondro?

Etiskah bila pekerja di negara-negara Utara mendapatkan gaji tinggi dari industri yang memproduksi senjata yang dijual ke negara-negara Selatan, yang akan digunakan oleh angkatan bersenjata di masing-masing negara tersebut untuk membunuhi rakyat sipil tak bersenjata? Di sisi lain, etiskah meminta wajib-pajak di negara-negara Selatan dan Utara untuk membayar pajak atas persenjataan itu?

Etiskah memberi kesempatan konsumen Amerika untuk membersihkan pantat mereka dengan kertas toilet dari bahan eucalyptus, yang diolah dari pepohonan di hutan tropis New Guinea Selatan, yakni pepohonan yang bisa diolah menjadi produk obat, misalnya minyak kayu putih, oleh penduduk di sekitar hutan itu sendiri, tanpa perlu mengundang perusahaan kertas Amerika Utara untuk menanamkan modal dan mengubah penduduk sekitar dari petani mandiri menjadi kuli perkebunan?

Etiskah memaksa masyarakat luar Jawa yang tidak memakan nasi, untuk mengubah ladang sagu dan ladang mereka yang lain menjadi persawahan, yang berarti memaksa mereka untuk semakin tergantung pada rumitnya distribusi beras pemerintah dan penanaman padi? Di sisi lain, etiskah membabat ladang sagu yang telah disediakan oleh “alam” bagi manusia, dan menggantinya dengan tanaman pangan baru hasil percobaan laboratorium?

Etiskah menyediakan burung surga (bird-of paradise) yang diawetkan untuk menghias rumah-rumah kelas menengah di perkotaan, tanpa memahami bahwa seluruh mata rantai makanan akan terganggu oleh perburuan besar-besaran terhadap spesies jantan dari jenis burung itu? Dalam pada itu, etiskah memisahkan burung surga betina dari sang jantan, akibat perburuan besar-besaran untuk tujuan komersial? Dan dalam kaitannya dengan penangkapan komersial burung surga itu, etiskah kalau hanya satu kelompok pemburu yang diawasi dengan ketat, sementara kelompok lain– yang mampu memburu burung itu dengan cara yang jauh lebih efektif– dibiarkan bebas beroperasi di Irian Jaya?

Etiskah jika para penghuni hutan tropis Kalimantan Barat harus menanggung dampak buruk dari penambangan uranium, demi terpenuhinya kebutuhan konsumen listrik di Jawa akan apa yang disebut “bersih” dan “murah” dari pembangkit listrik tenaga nuklir yang akan dibangun di Semenanjung Muria Jawa Tengah? Demikian pula, etiskah jika para nelayan di Kepulauan Natuna, atau pulau lain yang jauh letaknya, harus diusir supaya ada tempat bagi penimbunan limbah nuklir yang “aman”, karena penduduk Jawa tidak menghendaki limbah itu ditimbun di tempat mereka?

Etiskah jika petani miskin di Jawa mesti dimukimkan di pulau lain, agar lahan mereka dapat diubah menjadi lapangan golf 184-hole? Atau, apakah pengusiran para petani itu bisa dipertanggungjawabkan dari segi etika, jika lahan mereka kemudian diubah menjadi sirkuit balap mobil formula kaliber internasional?

Etiskah memboikot produk dari industri yang mencemari sumber air petani, dan yang pemiliknya dengan mudah memecat pekerjanya dengan alasan biaya produksi meningkat? Di sisi lain, etiskah bagi pemilik industri itu untuk memecat sejumlah pekerjanya guna mempertahankan tingkat keuntungan dari produk mereka?

Etiskah membendung sungai tertentu, dengan risiko menurunkan kesejahteraan penduduk setempat yang mengandalkan sungai itu sebagai mata pencaharian mereka, agar segolongan orang kota bisa memperoleh pasokan listrik yang dibangkitkan dengan bendungan itu? Di sisi lain, etiskah menolak semua jenis listrik yang dibangkitkan dari sejumlah sungai, meski sungai-sungai itu tidak dibendung karena pertimbangan ekologi dan sosial?

Etiskah tindakan pemerintah kotamadia menggusur pedagang kaki lima demi memperindah kota mereka, dan demi mendapatkan penghargaan Adipura dari pemerintah pusat? Atau, etiskah jika para pedagang kaki lima itu harus digusur, karena pemerintah kotamadia ingin memperlebar jalan agar para pemilik mobil pribadi bisa memacu kendaraannya lebih cepat menuju pusat-pusat perbelanjaan yang kian marak di kota itu?

Etiskah membangun gedung bertingkat tanpa elevator, guna menghemat energi (listrik), tanpa pertimbangan bahwa para pelayan, penjaga, dan pegawai rendahan yang lain di gedung itu harus naik-turun tangga lebih dari enam kali sehari? Atau, etiskah membangun gedung baru, sebagai bagian dari pengembangan universitas, di sekitar perbukitan dan persawahan, tanpa mempertimbangkan dampak ekologi dan tersingkirnya para buruh sawah dan pekerja ladang?

Buku: George J Aditjondro, Pola-pola Gerakan Lingkungan: Refleksi untuk Menyelamatkan Lingkungan dari Ekspansi Kapital, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003

Marlon Mochtar