Pentingkah Fir’aun Bermakam di dalam Piramid?

Agaknya inilah pertanyaan yang terlintas di benak penulis Al-bania Ismail kadare saat menulis novel Piramidnya. Pentingkah Fir’aun bermakam di pyramid?

Dulu, sebelum membaca novel ini pemahaman saya tentang piramid begitu sederhana. Hanya makam Fir’aun, tidak lebih tidak kurang. Sama halnya dengan istananya yang megah, makam pun tidak boleh kalah megahnya. Simpel bukan? Tentu saja, bagi seorang raja apa pun bisa dilakukan. Sekadar membangun makam yang megah, cih itu mudah jangan menghina.

Namun di tangan Ismail Kadare -melalui novelnya- pyramid disulap menjadi gambaran yang mencengangkan sekaligus menyedihkan. Sangat jauh dari bayangan kebanyakan orang. Alih-alih melihat piramida sebagai nostalgia sejarah, piramid dalam gambaran kadare adalah sebuah bentuk upaya pembungkaman nalar berfikir.

Novel ini dibuka oleh kadare dengan kegenitan Fir’aun Cheops, yang berfikir tidak akan membangun piramid baginya. Tentu saja, kebanalan berfikir Fir’aun ini membuat kerajaan gempar seketika. Para petinggi, penasihat, abdi dalem pusing bukan main dibuatnya. Bagaimana mungkin seorang Fir’aun bisa berfikir sebegitu bodoh? Apakah ia telah siap menghirup daki manusia? Sialan.

Mulailah para petinggi membuka papirus-papirus lama, membaca ulang sejarah yang diwariskan. gerangan apa kiranya maksud dan tujuan dibangunnya piramid. Mungkinkah sekadar berlagak kuasa? untuk mempertontonkan kemegahan tempat pusara. Saat papirus-papirus itu diperlihatkan, barulah si Fir’aun Cheops taubat. Tidak membangun piramid sama halnya dengan bunuh diri. Kerajaannya tak akan bertahan lama.

Kata kadare, ada suatu masa dimana rakyat akan mandiri. Maka pada saat itulah malapetaka akan hinggap di kerajaan. Nampaknya, bukan hanya pemerintahan yang berbentuk kerajaan saja. Pelbagai bentuk apapun sebuah pemerintahan, selama memegang perinsip otoritarianisme maka kemandirian rakyat adalah malapetaka. Makanya, menghisap habis darah rakyat adalah cara efektif untuk mempertahankan pemerintahan yang otoriter. Buat mereka berkelahi satu sama lain untuk mengisi perut maka pemerintahan akan langgeng. Usia mereka akan habis hanya untuk mencari pengganjal perut, tidak akan sempat memikirkan banyak hal.

Berbeda halnya ketika rakyat sudah mandiri, tidak lagi berjibaku dalam urusan perut. Maka pemerintah harus bersiap-siap. Akan terjadi goncangan. Orang-orang mulai menggeliat dan menjalar dimana-mana. Perut yang tidak kosong lagi, akan mengeluarkan sendawa beraromakan perlawanan, malapetaka. Bencana yang lebih mengerikan dibandingkan meluapnya sungai nil.

Maka dari itu sebelum rakyat menggeliat, harus sejak dini ditumpas habis. Jangan biarkan bara api tertiup angin, siram selagi masih sempat. Jika tidak, kobaran perlawanan bukanlah hal yang mustahil. Maka menurut papirus-papirus yang diperlihatkan kepada Fir’aun, pembangunan piramida dalah sebuah strategi politik untuk membenamkan rakyat. Seluruh rakyat akan disibukkan untuk membangun piramid.

Bukanlah waktu sebentar untuk membangun sebuah pyramid, butuh waktu puluhan tahun lamanya. Dan selama itu pula seluruh rakyat akan bekerja tanpa henti siang dan malam. Tatkala seorang Fir’aun sudah menitahkan pembangunan piramid, itu artinya sama dengan menyuruh menyabuti nyawa secara massal. Seoang anak akan berfamitan kepada ibunya sambil berujar “ibu sayang, ijinkan aku mengakhiri hidup dengan membangun makam”

Manakala raga dan jiwa rakyat telah dikikis habis, maka pada saat itu mereka tidak akan sempat untuk berfikir banyak hal. Tidak mati digelindingi batu saja sudah syukur, jangan berfikir macam-macam. Walaupun kaki diamputasi tidak mengapa, asal nyawa masih lengkap dibadan. Jangan menambah masalah dengan berkomentar sumbang tentang pemerintah.

Ketika mendengar penjelasan ini dengan serta merta Fir’aun menitahkan agar segera dibangunkan pyramid untuknya. Termegah dan tertinggi yang pernah ad. Tak sekadar penting, bermakam di piramid bagi seorang Fir’aun wajib hukumnya. Pantang untuk dilanggar!

 

Penulis : Ali Akbar Hasibuan (Seorang mahasiswa yang berkeinginan jadi Arya Dwi Pangga dalam kisah tutur tinular)