Penista?

Sudah beratus kali mungkin dalam kehidupan media sosial, kita berdebat soal tafsir keagamaan. Terutama perdebatan soal Penistaan Ahok, konflik ekonomi—penggusuran kaum miskin—dan keputusan hukum yang terus memihak elit. Di satu sisi, perdebatan itu memunculkan kesengitan yang mendalam terkait bagi banyak pihak, terutama bagi mereka yang berbeda pilihan politik, perbedaan agama, bahkan perspektif kebijakan pemerintah.

Kebencian di media sosial sampai berujung pada keretakan hubungan kita di kehidupan nyata. Walau saya secara pribadi juga seringkali bisa menghargai mereka yang berbeda pandangan dan tetap menghormati perbedaan itu dalam kehidupan nyata. Lebih tepatnya kita bisa bekerjasama dengan hal yang disepakati dan bersikap toleran terhadap hal yang tidak kita sepakati.

Sebagai contoh; saya melihat perdebatan sengit para ahli waris, dua arus besar pro Jokowi dan pro Prabowo di pemilihan Presiden. Kalangan Muslim juga terpolarisasi dengan berbagai varian. Pertama, Ada yang memandang bahwa pemerintahan Jokowi dengan segala yang berhubungan dengannya adalah batil. Semua kebijakan mereka adalah kebatilan itu sendiri. Kalangan muslim pada golongan ini cenderung nihilis terhadap kebijakan-kebijakan yang baik di pemerintahan Jokowi. Mereka dengan tegas bersebrangan akibat pandangan politik pada posisi ekstrem. Dengan memainkan peran di media sampai lapangan sosial. Kedua, kalangan muslim yang membela mati-matian Jokowi. Kalangan ini juga sama-sama memiliki sikap bengal yang sama dengan mereka yang membenci Jokowi secara membabi buta. Ketiga, adalah kalangan muslim cenderung rasional, mereka bisa mengriktik jika memang harus kritik dan mendukung kebijakan jika memang rasional untuk di dukung. Kalangan muslim ini lebih cair dalam komunikasi terutama di media sosial. Cukup mudah melihat kalangan ini, yaitu mereka tidak sembarang menge-share berita yang berisi kebencian. Lebih lagi adalah berita yang berasal dari media abal-abal. Mereka melakukan verifikasi terhadap berita yang bertebaran di media sosial. Kalangan muslim ini juga memiliki pengetahuan jurnalistik yang baik.

Saya pribadi memiliki teman dengan 3 tipikal di atas. Sering juga ketika saya melakukan sikap pada posisi muslim pertama, seperti mengritik kebijakan Reklamasi Ahok yang dibacking Jokowi, kita dianggap pembenci Pemerintah dan seolah Pro Prabowo. Kemudian jika saya memilih sikap membela Jokowi pada pilihan ke dua, saya dianggap bagian dari pro-Jokowi secara total. Yang menarik jika kita memilih pada posisi ketiga, media sosial kita akan dikomentari sesuai  polarisasi dua arus. Media sosial kita akan dipenuhi cacian, bahkan sebagai muslim kita tertuduh dengan berbagai macam stigma—seperti membela salah satu kebijakan Ahok dalam membersihkan sampah Jakarta.

Penista? Pada dasarnya ‘kata’ tersebut menjadi alasan yang paling kuat, oleh mayoritas muslim untuk menyerang Ahok selama ini. Ketimbang penista yang lebih substansi yang dikupas oleh Al-quran dalam surat yang lain—menistakan kaum lemah. Penista ini menjadi kehilangan substansi arti, mengingat ‘penista’ disematkan untuk memberi daya dorong maksud politiking. Sedangkan Al-Quran misalnya bicara, Siapakah yang mendustakan—menistakan—agama? Mereka yang menghardik  anak yatim. Dan tidak memberi makan orang miskin. (Al-Maun)

Energi kita terkuras, kata-kata kita berhamburan di media sosial. Lalu lintas informasi tentang penistaan itu kita telan dan kita perdebatkan sedemikian rupa. Jangan-jangan kita telah salah kaprah dan sama-sama menjadi pelaku penista itu sendiri. Pada saat energi kita itu bisa kita berikan untuk menolong orang lain yang perlu di tolong, saat itulah kita benar-benar bergerak untuk tidak menistakan ummat.

Energi kita yang sangat terbatas ini boleh saja diluapkan untuk membangun pemikiran kritis. Berdebat untuk melatih budaya kritik tentu baik, kritik sebagai pesan koreksi bagi gerakan sosial kita yang memang butuh pematangan. Yang saya takutkan, kita sudah berdebat banyak hal, tapi dilapangan sosial kita nihil melakukan sesuatu dan tidak membangun aliansi gerakan dengan entitas lain untuk bekerjasama berbuat kebaikan. Mereka beragama dalam pemahaman ritual, dan menjadikan agama menjadi bersekat dan berjarak dengan realitas. Bukankah itu adalah bentuk Penistaan?

Dharma Setyawan