Pendidikan Radikal

Penulis: Ahmad Jilul Qur’ani Farid

Salah satu yang membuat saya bersyukur menjadi bagian dari Indonesia adalah sebab sejarahnya yang luar biasa, the most fascinating history kata Om Benedict Anderson. Bagaimana tidak, sejarah pendidikannya saja adalah sejarah tentang perjuangan radikal. Bagi yang mengaku kalangan terdidik lantas menjadi medioker, berpikir biasa-biasa saja, ikut arus utama, bahkan menjadikan pendidikan sebagai instrumen kemakmuran privat, selayaknya malu.

Soewardi Soerjaningrat seperti namanya adalah seorang ningrat, tapi radikal, yang memilih untuk hidup tidak nyaman, istilahnya bunuh diri kelas. Memilih hidup melawan ketimbang hidup mapan di lingkungan Pakualaman Yogyakarta.

Seorang bangsawan muda berusia 24 tahun, memilih untuk tidak diam atas kemungkaran Belanda yang berpesta-pora merayakan kemerdekaannya diatas tanah jajahannya. Kalau tak radikal, anak muda mana yang berani menulis tulisan tajam berjudul “Andai Aku Seorang Belanda” lalu lantas menginspirasi seantero Nusantara akan cita-cita untuk merdeka.
Konsekuensinya tidak mudah, Soewardi tahu beban yang harus dia tanggung akibat sebuah pemikiran kritis nan radikal, ia diasingkan ke Belanda, keluar masuk penjara.

11 tahun kemudian, di usia yang juga masih terbilang muda, ia mengganti namanya sebagai tanda untuk terus menggenggam kebijaksanaan, Ki Hajar Dewantara. Lalu karena gelisah akan akses pendidikan yang hanya terbatas untuk kalangan Belanda dan priyayi, ia buka akses dengan mendirikan sekolah liar bernama Taman Siswa.

Siapapun berhak atas pendidikan yang baik, walau tak punya uang dan dari kelas rendahan. Itulah perlawanan baru Ki Hajar Dewantara. Dalam 10 tahun berdiri Taman Siswa telah memiliki ratusan sekolah cabang dan meresahkan pemerintahan kolonial. Lalu dikeluarkan regulasi dan pengawasan ketat terhadap sekolah dan guru-gurunya, diberlakukan wajib lapor, denda dan ancaman penutupan.
Dan bukan Ki Hajar Dewantara kalau tak melawan, ia tuliskan sebuah protes,
“Excellentie! Ordonnantie jang disadjikan amat tergesa-gesa dan didjalankan dengan tjara paksaan …” tulis Ki Hajar, “Bolehlah saja memperingatkan, bahwa walaoepoen machloek jang ta’berdaja mempoenjai rasa asali berwadjib menangkis bahaja oentoek mendjaga diri dan demikianlah djoega boleh djadi kami karena terpaksa akan mengadakan perlawanan sekoeat-koeatnja dan selama-lamanja…”.

Setiap 2 Mei, kita peringati hari pendidikan, hari lahirnya Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara sembari membiarkan pendidikan yang baik dipatok dengan harga yang mahal. Sembari mengaminkan bahwa pendidikan jadi industri meraup keuntungan, instrumen dan kebutuhan untuk mencapai kemakmuran dan mendapat prestise dan kehormatan.

Upacara dan peringatan hari pendidikan nasional seolah sama sekali tak membuat kita merasa perlu untuk berpikir, menulis dan bertindak seradikal Ki Hajar Dewantara. Atau hanya jadi ajang narsis belaka, dimana hari-hari seremonial jadi tema foto apa yang harus kita pamerkan di sosial media.
Dan kita bersorak sorai menyambut datangnya otomasi dalam balutan judul seolah keren bernama industri 4.0, yang tanpa kita sadari akan menggerus kelas pekerja, sementara kelas terdidik cukup bercuap-cuap tentang bagaimana menyambut bonus demografi dimana pendidikan ialah instrumen patokan dalam persaingan, yang kalah dan tidak beradaptasi akan tersingkir.

Lantas kita bertanya-tanya, mengapa keributan akibat politik tak kunjung surut. Dan tidak berkaca ternyata pendidikan yang jadi ajang persaingan, untuk lebih unggul dari yang lain dan telah mengakar di sanubari bangsa ini yang jadi salah satu sebabnya.

Yang unggul, tak pernah berpikir bagaimana merangkul yang tersingkir. Padahal hal itulah yang jadi agenda perjuangan pendidikan Ki Hajar Dewantara.
Kini kita enteng saja mengucapkan, mejargonkan falsafah juang Ki Hajar Dewantara tanpa berpikir dan bertindak. Padahal dalam falsafah jawa ilmu iku kelakone kanthi laku. Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani seharusnya tak boleh kita ucapkan tanpa perenungan mendalam. Sebab ia adalah falsafah juang yang terabstraksi dari laku di medan juang. Bukan sekadar komedi omong atau pemanis merk dagang berkedok pendidikan.
Selamat sekali lagi melewatkan Hari Pendidikan, tanpa berpikir dan bertindak radikal.