Pendidikan dan Panggung Politik

Penulis : Budy Sugandi (Alumni Marmara University, Turki)

Timbul pertanyaan di benak kita, “apakah para koruptor itu, dulu pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah?”, Jika ya, lalu apakah itu berarti sekolah gagal menciptakan manusia-manusia yang cakap berpikir dan peka nuraninya. Sejak SD kita diajari oleh guru-guru kita bahwa mencuri, menyuap, membunuh itu merupakan perbuatan buruk. Lalu adakah efek dari itu semua?

Berbicara mengenai pendidikan tentu tidak akan lepas dari sekolah, orang tua dan lingkungan masyarakat, seperti kata Nietze Education is what you learn from school, from home and more importantly, between school and home. Nietze mengisyaratkan bahwa selain sekolah dan keluarga ada wilayah yang paling penting bagi anak dalam membentuk karakter, yaitu masyarakat.

Di sinilah patut menjadi perhatian bersama bahwa segala tindak tanduk yang terjadi di masyarakat memiliki tanggung jawab riil dalam menciptakan generasi bangsa yang unggul dan bermartabat.Sebelum melihat fenomena masyarakat, mari kita melirik ke lingkungan sekolah. Para guru sebaiknya tidak sekedar mengajari materi pelajaran yang sudah ada, namun juga harus diajarkan nilai-nilai karakter dan kepekaan sosial.

“apakah para koruptor itu, dulu pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah?”, Jika ya, lalu apakah itu berarti sekolah gagal menciptakan manusia-manusia yang cakap berpikir dan peka nuraninya.

Sesekali anak perlu diajak melihat fenomena sosial masyarakat kelas bawah sehingga anak bisa melihat langsung bahwa masih banyak anak-anak seumuran mereka yang lebih memilih bekerja ketimbang sekolah karena tuntutan ekonomi. Juga mengajak anak melihat ke wilayah perkampungan bahwa masih banyak keluarga yang janganpun berpikir untuk membeli mobil, membeli lauk-pauk untuk makan esok hari pun masih susah. Ini juga dampak dari politik kita yang tidak sehat, yang belum mampu bekerja maksimal dalam mensejahterakan rakyatnya.

Di lingkungan keluarga, setidaknya orangtua menanamkan nilai-nilain kejujuran sejak dini. Jujur pada diri sendiri dan jujur untuk mau mengakui kesalahan, bukannya malah mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahan. Orangtua tidak hanya sekedar menitipkan anak di sekolah dan melepas seluruh tanggung jawab ke pihak sekolah. Dengan alasan sibuk bekerja maupun sudah membayar biaya pendidikan dan seterusnya.

Di lingkungan elit, sudah menjadi rahasia umum di negeri ini untuk menjadi pejabat harus menggunakan uang bahkan untuk lepas dari jeratan masalah uang juga bisa dijadikan pelicin. Uang seakan-akan menjadi solusi segala macam urusan. Budaya ini harus dirubah. Bagi mereka yang menggunakan uang ketika berusaha meraih ambisinya untuk duduk sebagai pejabat, maka ketika terpilih kelak program kerja pertamanya ialah mengembalikan uang yang telah habis dikeluarkan pada masa kampanye. Lalu apa yang bisa kita harapkan dari pejabat dengan model seperti ini?

Ketika masyarakat acuh tak acuh membiarkan money politics merajalela itu sama halnya dengan mengajari anak bahwa korupsi itu bukanlah hal kotor karena merasa itu merupakan hal yang lumrah terjadi. Sudah menjadi keharusan bagi masyarakat untuk aktif mengawal percaturan politik. Dengan terbukanya ruang informasi, majunya teknologi, adanya kebebasan pers dan semakin kritisnya masyarakat seharusnya mampu menjadi tameng dalam mengawal para pejabat.

Setiap kejanggalan yang terjadi kini dengan mudah diketahui khalayak umum baik yang bersumber dari berita di TV, koran maupun dari media sosial yang begitu cepat menyebar. Begitu pula ketika merasa ada hal-hal yang perlu dikritisi, jika tak mampu melaporkan kepada penegak hukum, mengumpulkan massa maka setidaknya ikut berkicau di dunia maya, juga bagian dari upaya kecil, selain itu juga tentu perlu dicarikan terobosan-terobosan kongkrit untuk menyelesaikan kejahatan ini.

Anak butuh figur pejabat untuk dicontoh. Di sini lah, momentum yang tepat bagi para pejabat yang sedang berkuasa maupun sedang meraih ambisinya untuk mampu menjadikan diri mereka mereka figur yang dibangga-banggakan, figur yang bisa dijadikan hero bagi anak bahkan mampu menjadi role model di atas panggung politik. Coba kita perhatikan ketika anak kecil sudah mengagumi bintang dari film yang mereka tonton, mereka tak segan menirukan gaya, menceritakan kehebatan sang hero kepada orang lain hingga mengabadikan dalam alam pikirannya bahwa kelak mereka akan menjadi seperti sang hero.

Boleh kita berandai-andai, jika setiap anak bersaing menentukan hero mereka dari kalangan pejabat. Sangking banyaknya para pejabat yang hebat, sehingga mereka sibuk menentukan mana yang harus mereka pilih. Di lapangan, bagaimana kenyataannya? Anda pasti sudah tahu jawabannya.

Namun kita patut optimis menatap masa depan bangsa. Sudah terlihat beberapa perjabat kita yang mampu tampil sebagai sosok yang memang pantas dicontoh. Mereka berani keluar dari pakem yang selama ini biasa dilakukan. Pengabdian menjadi dasar mereka maju sebagai pejabat. Mari kita tunggu waktu yang tepat ketika anak-anak serius memikirkan siapa figur mereka dari kalangan pejabat. Saking seriusnya hingga mereka meminta pertimbangan ke para guru dan orang tua.[]