Palu Arit dan Perlawanan

Dalam tulisan sebelumnya Hegemoni Sejarah dan Seribu Pertanyaan, saya membahas bagaimana sejarah ditulis oleh pemenang, hingga lahir sejarah yang berisi puja-puji atas rezim kekuasaan, maka dalam tulisan ini saya mencoba memulai tulisan ini dengan mengajukan pertanyaan mengapa simbol palu arit bersilang ini sebagai simbol bersatunya petani dan buruh untuk melawan pemodal, kapitalisme dan imprealisme justeru menjadi hal yang menakutkan? Apakah makna dan bagaimana sebenarnya sejarah palu arit ini?

Pertanyaan ini menjadi begitu penting untuk diajukan, karena terlalu banyak orang mengalami ketakutan-ketakutan terhadap hal-hal yang sesungguhnya tidak diketahuinya.

Saya membutuhkan beberapa hari untuk membaca dan mengambil posisi tidak ikut anggapan banyak orang bahwa simbol palu arit bersilang ini lahir tahun 1917 di Rusia, ketika Revolusi Bolshevik yang dipimpin oleh Vladimir Lenin untuk menggulingkan Kekaisaran di Rusia yang telah berkuasa selama ratusan tahun, dan didukung kaum buruh dan petani.

Dan akhirnya saya menemukan muasal sesungguhnya, bahwa gambar palu arit bersilang itu sebelumnya memiliki variasi yang beragam di Eropa, seperti palu dengan sekop, atau palu-arit dengan bajak untuk menyimbolkan para pekerja, buruh dan petani secara keseluruhan. Kemudian tahun 1917, Lenin dan Anatoly Lunacharsky, kerabat Lenin yang kemudian menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan, menyelenggarakan lomba untuk menciptakan lambang Soviet baru paska keruntuhan Kekaisaran Rusia, dan desain lambang palu-arit dengan sebilah pedang menjadi pemenangnya.

Lenin kemudian memutuskan untuk menggunakan palu-arit dan membuang gambar pedang, untuk mengesankan bahwa bangsanya adalah bangsa yang damai.

Kemudian secara resmi seniman Yvgency Ivanovich Kamzolkin asal Moscow merancang sebuah gambar palu-arit bersilang untul poster hari buruh pada bulan Mei tahun 1918. Soviet kemudian mengadopsi versi palu-arit bersilang ini pada tahun yang sama, tahun 1918.

Munculnya ragam variasi palu-arit sebelum yang dibuat bersilang oleh Kamzolkin, memunculkan banyak pendapat bahwa sesungguhnya Kamzolkin juga terinspirasi dari logo yang sudah ada, dan berusaha menyempurnakan bentuknya. Kamzolkin sebagai seniman magisme dan anggota Perkumpulan Seniman Mistik Leonardo Da Vinci tentu memiliki alasan yang kuat untuk memilih desain simbol ini, dan tentu saja Kamzolkin memilih desain itu bukan karena ia berpikiran komunis atau penganut Marxisme-Leninisme, karena ia dikenal sebagai orang yang taat beragama.

Namun, apapun alasannya sesungguhnya palu-arit ini menyimbolkan alat yang sering digunakan oleh buruh dan petani, sehingga dimaknai sebagai perlawanan kaum buruh terhadap mandor-mandor dan pemodal di pabrik-pabrik dan perlawanan petani melawan pemilik tanah yang menyewakannya dengan zalim atau para pembeli dengan sistem ijon. Simpulnya, palu-arit yang bersilang adalah simbol persatuan kelas (buruh-petani) melawan kaum kapitalis dan borjuis.

Pertanyaannya, kenapa tidak semua simbol pekerja tidak dimasukkan kepada lambang, logo dan gambar sebagai logo perlawan kelas pekerja terhadap pemodal? Tentu saja jawabannya sederhana, akan terbentuk logo dan simbol yang ribet dan rumit karena banyaknya simbol yang digunakan kelas pekerja, di samping sesungguhnya palu-arit dianggap cukup mewakili semua kelompok pekerja.

Di Indonesia, kehadiran simbol palu arit ini diawali dengan kehadiran organisasi Indische Sociaal Democratische Vereeniging(ISDV) yangdibawa seorang sosialis Belanda Henk Seneevliet pada tahun 1914, bersama 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, Social Democratic Worker’s Party  (SDAP) dan Partai Sosialis Belanda(Social-Democratic Party /SDP) kemudian berubah nama menjadi  SDP komunis, dan organisasi belum sama sekali menggunakan logo atau lambang palu-arit bersilang.

Para anggota Belanda dari ISDV baru sebatas memperkenalkan ide-ide Marxis untuk mengedukasi orang-orang Indonesia mencari cara untuk menentang kekuasaan kolonial. Organisasi ini pertama kalinya juga menyerukan kemerdekaan dan menerbitkan publikasi pertama berbahasa Indonesia Soeara Merdeka tahun 1917 dan diikuti oleh Soeara Rakyat.

Pada Kongres ISDV di Semarang , Mei 1920 , nama organisasi ini diubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia (PKH). Semaun adalah ketua partai dan Darsono menjabat sebagai wakil ketua. Sekretaris, bendahara, dan tiga dari lima anggota komite adalah orang Belanda (Edward Djanner Sinaga, 1960), dan pada periode inilah baru simbol palu-arit bersilang itu digunakan.

PKH adalah partai komunis Asia pertama yang menjadi bagian dari Komunis Internasional, dan Henk Sneevliet mewakili partai pada kongres kedua Komunis Internasional 1921. Pada tahun 1921 ini jugalah yang menjadi awal lahirnya kecurigaan terhadap Henk Sneevliet melakukan infiltrasi dan menyebarkan pengaruh dan pikiran-pikirannya yang dianggap tidak mengakar karena berasal dari Eropa.

Pada kongres Serikat Islam (SI) yang keenam 6-10 Oktober 1921, Abdul Muis dan Agus Salim mendesak perlunya disiplin partai yang melarang keanggotaan rangkap, anggota SI harus memilih organisasi SI atau organisasi lain. Beberapa anggota muda SI yang aktif di PKH seperti Semaoen, Darsono, Tan Malaka, Alimin Prawirodirdjo  merasa kecewa. Dari sinilah juga bermula awal terbelahnya SI menjadi SI Putih dan SI Merah, SI Putih di pimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan SI Merah dipimpin Semaoen.

Darsono yang saat itu menjadi Ketua SI Semarang, dikecam oleh Agus Salim karena tetap mendukung PKH, dan Darsono membalas dengan mengecam balik kebijakan keuangan HOS Tjokroaminoto dan SI Semarang juga menentang pencampuran agama dan politik dalam SI.

Terjadinya perbedaan pendapat itu akhirnya berpengaruh terhadap Perjuangan Pergerakan Indonesia dan di saat yang sama akhirnya pemerintah kolonial Belanda menyerukan tentang pembatasan kegiatan politik, dan Sarekat Islam (SI) memutuskan untuk lebih fokus pada urusan agama, meninggalkan komunis sebagai satu-satunya organisasi nasionalis yang aktif(Edward Djanner Sinaga, 1960: 7).

Pada awal tahun 1922 Tan Malaka dan Semaun yang berada jauh di Moskow untuk menghadiri Far Eastern Labor Conference, mencoba untuk mengubah pemogokan terhadap pekerja pegadaian pemerintah menjadi pemogokan nasional untuk mencakup semua serikat buruh Indonesia, namun gagal. Tan Malaka ditangkap dan diberi pilihan antara pengasingan internal atau eksternal. Dia memilih yang terakhir dan berangkat ke Rusia.

Pada tanggal 22 September, Serikat Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (Persatuan Vakbonded Hindia) dibentuk, yang diawali dengan upaya menghimpun semua serikat buruh dalam satu organisasi, sekembalinya Semaun dari Rusia pada Mei 1922, dan pada kongres Komintern kelima pada tahun 1924, ia menekankan bahwa prioritas utama dari partai-partai komunis adalah untuk mendapatkan kontrol dari persatuan buruh, karena tidak mungkin ada revolusi yang sukses tanpa persatuan kelas buruh ini. Pada 1924 nama partai ini sekali lagi diubah, menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pada Mei 1925, Komite Exec dari Komintern dalam rapat pleno memerintahkan komunis di Indonesia untuk membentuk sebuah front anti-imperialis bersatu dengan organisasi nasionalis non-komunis, tetapi unsur-unsur ekstremis didominasi oleh Alimin dan Musso menyerukan revolusi untuk menggulingkan pemerintahan kolonial Belanda.

Pada November 1926 PKI memimpin pemberontakan melawan pemerintahan kolonial di Jawa Barat dan Sumatera barat . PKI mengumumkan terbentuknya sebuah republik  Bersama Alimin, Musso yang merupakan salah satu pemimpin PKI di era tersebut sedang tidak berada di Indonesia. Ia sedang melakukan pembicaraan dengan Tan malaka yang tidak setuju dengan langkah pemberontakan tersebut.

Pemberontakan ini akhirnya dihancurkan dengan brutal oleh penguasa kolonial. Ribuan orang dibunuh dan sekitar 13.000 orang ditahan, 4.500 dipenjara, sejumlah 1.308 yang umumnya kader-kader partai diasingkan, dan 823 dikirim ke Boven Digul  sebuah kamp tahanan di Papua.

Perlawanan ini akhirnya juga diikuti oleh SI dengan membentuk PSII, yang sebelumnya telah merubah Centraal Sarekat Islam (CSI) menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) pada tahun 1923, dan pada tahun 1929, PSI  menyatakan bahwa tujuan perjuangan adalah mencapai kemedekaan nasional. Karena tujuannya yang jelas itulah PSI ditambah namanya dengan Indonesia sehingga menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Pada tahun itu juga PSII menggabungkan diri dengan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang plural (sumber: wikipedia.org).

Jadi, sesungguhnya simbol palu arit  adalah simbol perlawanan kaum buruh dan petani serta seluruh pekerja untuk melawan kolonialisme dan imprealisme, dan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah alat dan media perjuangan untuk menghimpun seluruh komponen yang beragam, meski kemudian beberapa organ yang bergabung memilih keluar dan memisahkan diri, serta memilih media dan alat perjuangan yang lain.

Pertanyaan yang menarik, yang perlu dijawab apakah setiap orang yang menggunakan simbol palu arit, membaca buku-buku kiri, memakai kaos dan koar-koar di media sosial mengerti dan memiliki semangat perlawanan dan perjuangan yang sama, sebagaimana makna ideologis dan filosofis di balik simbol palu arit tersebut? Wallahu a’lam.

 

Penulis : Rahmatul Ummah

 

Catatan:

Tulisan ini bersumber dari beberapa bacaan yang kemudian disusun dan ditulis secara acak dengan redaksional yang tidak lagi sama persis dengan sumber aslinya, seperti Buku Muso, Si Merah di Simpang Jalan, Buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 karya M.C. Ricklefs Bab 15 Langkah-Langkah Pertama Menuju Kebangkitan Nasional (hal. 352-387), sedikit dari Buku di Bawah Bendera Revolusi khususnya terkait dengan bahasan-bahasan Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme dan Buku Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945.