Pak Poeze

Penulis : Ubaidillah Muchtar

Tahun berganti. Sepuluh tahun kemudian ia menelurkan bukunya tentang Tan yang 6 jilid itu. Ketika saya tanya apakah selama 45 tahun itu fokus di Tan saja. Ia jawab tidak. Sebab ia juga mengerjakan hal-hal lain. Akan tetapi setiap minggu ada satu atau dua hari untuk Tan Malaka.

Sudah 45 tahun ia menggeluti dan mendalami Tan Malaka. Ketertarikannya pertama kali dimulai tahun 1971. Waktu itu ia sedang menulis skripsi. Ketika kutanya apa judul skripsinya. Ia tertawa dan menggeleng kepala. Lupa. Namun yang ia ingat bahwa Tan Malaka orang besar dengan posisi luar biasa di partai namun jasanya tidak banyak dihargai.

Ketika itu ia pergi ke Jakarta. Orang pertama yang didatangi dan dikontaknya adalah sekretaris Tan Malaka. Melalui dia ia mendapatkan dan menghubungi hampir 100an nama yang diwawancarainya. Tentu saja semuanya tentang Tan.

Tahun berganti. Sepuluh tahun kemudian ia menelurkan bukunya tentang Tan yang 6 jilid itu. Ketika saya tanya apakah selama 45 tahun itu fokus di Tan saja. Ia jawab tidak. Sebab ia juga mengerjakan hal-hal lain. Akan tetapi setiap minggu ada satu atau dua hari untuk Tan Malaka.

Kami berbincang panjang. Termasuk mengenai soal sensitif Tan. Tan yang pernah berupaya menggagalkan kesepakatan partai atas pemberontakan 1926. Menurut ia benar bahwa Tan menolak 1926 karena tahu akan gagal. Juga termasuk mengirimkan 2 orang untuk membawa pesan ke Singapura: Sugono dan satu orang lagi.

Ia katakan tentu saja tuduhan atas Tan sebagai Trotskis berlebihan dan sangat kejam.

Teh dihidangkan ibu. Juga kue. Kami berbincang dan tertawa. Ia bertanya apakah kesan pertama ke Amsterdam. Kukatakan dingin dan rapi. Ia mempersilakan kami minum. Sekira sejam setengah kami di bawah. Kemudian ia menawarkan melihat koleksi surat asli Tan untuk sahabat-sahabatnya yang disimpan di lantai 2.

Kami menuju lantai dua. Wah, sebuah ruang penuh buku! Ia membagi koleksi berdasarkan deretnya. “Ini semua tentang Soekarno dan Hatta. Sementara untuk koleksi Tan Malaka di sudut sana,” terangnya.

Di sebuah sudut semua tentang Tan disimpan. Di dekatnya ada lemari besi. Ia membuka lemari dan mengeluarkan beberapa koleksi termasuk sebuah buku berbahasa Rusia yang langka karya Tan. Kira-kira judulnya “Indonesia, Timur dalam Kebangkitannya”. Sampulnya wayang tokoh Bima.

Di dekat lemari besi ada album coklat tua. Di album itu ia mengeluarkan beberapa kartu pos tulisan tangan Tan untuk sahabatnya. Juga sebuah surat untuk sahabat. Ketika kudekati tertera tahunnya 1916 di kartu pos tersebut ditulis dengan pensil.

Ini hari keempat saya berada di Amsterdam. Minggu, 24 April 2016. Kami di Stetweg 21, Castricum. Di rumah dia yang tekun dengan Tan Malaka: Harry A Poeze.

Sebelum kembali meneruskan perjalanan saat menuruni tangga saya bertanya. “Apakah Tan Malaka membawa pencerahan?” Ia dengan kelakar menjawab, “Saya sedang memikirkan kira-kira apa yang akan dikatakan Tan Malaka kepada saya kelak, ya? Hahaha.”

Terima kasih Pak.[]