There is No Stupid Question!

Jujur saya belum bisa melihat banyak perbedaan antara universitas tempat saya belajar di sini dan universitas tempat saya belajar di Indonesia serta universitas-univesitas di Metro. Beberapa perbedaan yang membuat perbedaan yang sangat jauh di ranking universitas global. Kalau dilihat dari infrastrukturnya memang “sedikit” lebih maju. Kenapa saya sebutkan hanya sedikit? Karena dengan mudah kita bisa menyusulnya.

Kualitas pengajarnya kurang lebih bisa diimbangi dengan universitas-univesitas di Indonesia. Banyak dosen-dosen di Indonesia termasuk kategori mahasiswa cemerlang, bahkan ketika mereka menempuh studi di luar negeri. Hal ini cukup membuat saya bangga bisa menjadi mahasiswanya. Cara mengajarnya juga lebih nyaman di Indonesia menurut saya. Para dosen tersebut ketika memberikan keterangan dan membuat saya lebih paham tentang apa yang dikatakannya.

Memang dalam jam terbang secara internasional dan produktivitas “scientific” mereka jauh lebih unggul, tapi bukan semata karena keunggulan SDM-nya, tetapi lebih “determinasinya”. Sebagai contoh, sebuah riset kecil tentang Biomass Pyrolysis untuk menjadi bahan bakar yang hanya ide ditahun 1990 terus dijalankan dengan yakin bahwa suatu saat ide yang sangat idealistis itu akan layak untuk dijual. 25 tahun riset itu berjalan dan akhirnya pada tahun lalu ide kecil itu layak dijual secara ekonomi.

Kembali pada beberapa hal yang menjadi perbedaan, memang beberapa hal (seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya) memang jauh berbeda dengan universitas di Indonesia.
Seperti halnya ketika ada ujian yang ‘ajaib’ menurut saya. Karena tanpa pemberitahuan yang cukup (itu menurut saya yang malas membaca email resmi kampus) dan kuliah yang cukup memberikan wawasan kepada saya, menuntut pemahaman yang cukup baik dari mahasiswa (kalau ingin lulus). Dan dalam rangka mencari sedikit pemahaman itu menuntut saya untuk mau membaca dengan seksama artikel demi artikel yang telah ditulis oleh sang “profesor”, yang biasanya saya enggan melakukannya. Cukup baca slidenya, beres!

Jujur ini lebih berkesan bagi saya. Saya teringat juga kata-kata Bu Edia (dosen saya waktu sarjana dulu) “Dosen yang menjelaskan dengan baik membuat mahasiswa malas belajar, dosen yang tidak baik ketika menjelaskan kuliah mendorong mahasiswanya belajar lebih jauh” (kurang lebih gitu).

Para pengajar juga membagi pengetahuan tentang riset yang sedang dilakukan dan menawarkan kepada seluruh mahasiswa “tidak melihat pandai atau tidak”, seperti sedang menjual dagangannya. Mereka (para pengajar tersebut) merasa semua ide yang muncul adalah “possibilities” yang bisa saja menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam risetnya. Originalitas bahkan keluguan seorang bocah pun bisa menjadi reminder atau inspirasi baru bagi mereka.

There Is No Stupid Question!” adalah ucapan para pengajar ketika membuka sesi tanya jawab. Hal ini bertentangan dengan apa yang teman SMA saya tanamkan dibenak saya, sampai saat ini, saya masih ingat ketika teman saya tersebut berkata kepada saya “jangan bertanya hal-hal yang membuat kamu terlihat bodoh”…ahhh saya menyesal kenapa nilai itu masih tertanam kuat di benak saya. Dan setiap Course (Mata Kuliah) memiliki studi ekskursi tersendiri, tidak perlu jauh-jauh seperti biasa di Indonesia yang harus “Waaah…”, cukup ambil aplikasi local di daerah sekitar kampus dari tiga studi ekskursi yang saya sudah lakukan hanya berjarak 15-30 menit dari kampus. Membuat saya, sebagai mahasiswa yang sedang belajar di situ sedikit lebih paham tentang apa yang diajarkan dan apa yang bisa saya lakukan nantinya berkaitan dengan course tersebut. Hal ini mengingatkan saya kepada kuliah Kimia Analitik dulu, kuliah yang saya anggap sangat rumit ternyata lebih mudah dipahami ketika telah melakukan praktikum.

Kerjasama! Ini yang paling penting dan paling tidak efektif menurut saya. Kerja kelompok adalah satu hal yang sangat aneh menurut saya jika anda hanya diberi waktu 10-15 menit untuk berdiskusi (bayangkan! perbedaan kultur, latarbelakang pendidikan dan usia. belum ngeyel-ngeyelan-nya, kesulitan berbahasa inggrisnya. Hadeh) tapi ini penting menurut saya, untuk membiasakan dan mengetahui betapa menjengkelkannya bekerja dalam tim dengan pressure yang tinggi.

Di level Universitas, meskipun ini juga saya alami di UNPAD, mereka selain bisa mendatangkan dosen dari fakultas lain dan dari Universitas lain untuk mengajar secara reguler. dan bekerjasama untuk membangun sebuah pusat riset dengan universitas-universitas lain. Dan kerjasama itu menjadikan pusat riset tersebut pusat riset “water technology” terbesar di Eropa. Kerjasama itu tidak diawali dengan inisiatif dari para universitas tersebut, tapi lebih karena dorongan pemerintah daerah setempat serta dengan menarik bisnis untuk berinvestasi kepada penelitian yang dilakukan serta menarik pemerintah pusat juga untuk men-suppport pusat riset tersebut. jika penasaran bisa check ke https://www.wetsus.nl/

Saya lupa menyebutkan bahwa saya belajar tidak di “main campus” tempat universitas saya berada, tetapi di universitas lainnya, bukan karena kami tidak memiliki cukup gedung, tetapi pemerintah lokal mendorong untuk program studi berbasis “water” ada di Kota ini, dan program studi tempat saya belajar memiliki program itu. ini sinergitas pemerintah daerah dengan universitas.

Satu hal tentang “infrastruktur” kampus yang bisa membuat saya takjub adalah perpustakaan mobilenya. Untuk informasi tempat saya belajar dan kampus utama terpisah sekitar 160 km, tetapi saya bisa mengakses hampir seluruh pustaka di perpustakaannya secara “online-tapi tertutup.” Yah,  untuk saya yang gaptek ya ini cukup canggih (tertawa).

Fizul Surya Abadi (Master of Enviromental and Energy Management (MEEM) Students/Staff Kantor Lingkungan Hidup Kota Metro)