Musim Gandrung Gerung

Rocky Gerung hanyalah seorang filosof Ibu Kota yang resah terhadap realita sekarang. Ia bukan pembela Islamisme, begitu rekam jejaknya. Pun tak aneh bila musim memilih penguasa ia berada di kubu sebaliknya. Meski tentu saja dengan jubah akademis.

Hari ini Rocky Gerung seolah palagan perlawanan dan wakili jutaan perasaan pas islamis di tanah air atas tikaman membabinajis alat penguasa dalam kebebasan bersuara. Kampanye melawan berita dusta dan provokatif oleh para pendukung penguasa malah dicemasi dengan kritis oleh Gerung. Melalui diktum bernas dan mudah dipahami awam, ia ungkap perlawanan. Betapa problem melawan berita bohong (hoaks) justru ada di pihak penguasa.

Dan Gerung pun berjuntaian harum namanya di banyak pabrik olah kata para islamis. Hal yang tak terbayangkan sebelumnya dari sosok pembela ideologi Kiri dalam kapasitas sengaja akademisi. Gerung seakan wakil melawan penindasan penguasa melalui alat dan relawannya. Gerung seolah kita, dan kita cukup terwakili oleh Gerung. Sebuah penyederhanaan tipikal islamis memang. Terlebih saat melawan kekuatan besar maka adanya pihak sejurusan menjadi berkah. Abaikan hal-hal lain.

Menyimpati Gerung bolehlah. Ini tentu saja mesti ditindaklanjuti mengingat posisinya sekarang mungkin saja “rentan”.  Ia akan dimasukkan sebagai lawan dan musuh utama gegara ucapan mengungkai perilaku penguasa. Siapa bisa menjamin Rocky Gerung bakal aman dan nyaman setelah “berani” melawan para koleganya yang belakangan bersaf rapat di pihak penguasa?

Nah, di sinilah seyogianya mereka yang mendukung keberanian Gerung dalam menyigi perilaku penguasa melanjutkan ke pengawasan. Siapa tahu Gerung besok tinggal nama; mendadak ia diwartakan telah tidak lagi berembus napas alias meninggalkan dunia selamanya. Jangan tanya ada apa dan mengapa ia mendadak tiada.[]

Yusuf Maulana