Minimnya Critical Thinking di Kampus Kita

Sebagai pembimbing dan beberapa kali menguji skripsi mahasiswa, saya seringkali menemukan dan membaca skripsi yang pada bab metodeloginya terdapat statement; “skripsi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif”.

Saya agak terganggu awalnya dan bertanya kenapa mayoritas mahasiswa saya menggunakan cara ini. Apa karena ikut-ikutan skripsi sebelumnya atau memang budaya mahasiswa Indonesia? dan yang paling ekstrem Apakah juga karena dosen metodologinya tidak pernah mengajarkan metode lain dalam penelitian? .

Akhirnya saya menemukan jawabannya juga. Ketika mengikuti EAP di IALF jakarta baru-baru ini saya menemukan sebuah buku menarik tentang perbedaan style of thinking mahasiswa Asia dan Eropa.Tulisan berikut ini adalah ringkasan dari buku tersebut.(Ballard dan Clancy: study Abroad: A Manual for Asian Studies. KL: Longman 1984) .

Sebagai contoh seorang mahasiswa Asia asal Jepang ketika meneliti tentang pemikiran ekonomi Milton Friedman. Sang mahasiswa mulai dengan mendeskipsikan dengan detail tentang latar belakang keluarga dan kehidupan personal Friedman. Kemudian sang mahasiswa hanya meringkas pemikiran Friedman tanpa memberi komentar dan kritik apapun.

Sudah barang tentu saja esay ini dikritik oleh dosennya yang orang barat. Apa relevannya informasi yang seabrek-abrek tentang Friedman. Tidak ada analisis tentang pemikiran sang ekonom dan apa bukti-bukti  yang diperoleh untuk memperkuat pendapat Friedman.

Dari contoh orang Jepang ini kira-kira menggambarkan apa yang umumnya terjadi di mahasiswa saya yaitu kurang berpikir kritis. Mahasiswa Asia dan khususnya Indonesia dalam belajar di bangku kuliah hanya dengan “mengingat” informasi yang diberikan sang dosen dan menggunakan pemecahan masalah pun telah disediakan oleh sang dosen. Model ini disebut penulis dengan istilah pendekatan belajar “reproduksi”.

Sistem pemebelajaran model ini di negara-negara barat hanya diterapkan pada anak sekolah dasar yang memang belum mampu berpikir analisis, namun di Indonesia sistem pemebelajaran seperti ini masih berlaku di bangku kuliah bahkan S3. Dalam penulisan esay atau skripsi metode reproduksi hanya merangkum, menggambarkan, identifikasi serta mengaplikaiskan formula atau informasi.

Sedangkan Seorang mahasiswa yang memiliki cara berpikir kritis   melakukan lebih dari itu, yaitu: mempertanyakan, menilai dan mengkombinasikan kembali ide dan informasi yg didapat kedalam sebuah argument. Idealnya dalam pada level perguruan tinggi pendekatan belajar menggunakan metode yang disebut analytical approach (critical thinking).

Pada metode ini mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mengingat informasi yang didapat dari dosen tapi juga mempertanyakannya dan berpikir kritis terhadap pengetahuan yang ia dapat. Selanjutnya seorang mahasiswa ketika naik level master dan Ph.D dituntut untuk berpikir spekulatif yaitu memulai research independent untuk menemukan kemungkinan dan penjelasan lain tentang sebuah masalah penelitian.

 

Penulis : Budi Kurniawan ( Dosen FISIP Unila)