Merdeka untuk Mengasihi

Spiritualitas adalah area aksi dan karya Roh yang dicirikan dengan kemerdekaan. Sebagaimana halnya dengan perjalanan bangsa Yahudi yang keluar dari tanah perbudakkan menuju tanah yang dijanjikan dimengerti sebagai sebuah perjalanan dalam rangka untuk mengalami pengalaman akan kemerdekaan, belajar untuk mengenal Allah yang telah memerdekakannya, maka demikian juga dengan spiritualitas adalah sebagai tempat untuk mengalami pengalaman akan kemerdekaan serta untuk belajar mengenal Allah. Dalam perjalanan untuk mencari Allah inilah semua aspek kehidupan yang ada dalam komunitas dicakup dan mendapatkan sentuhan.

Menurut Gutierrez, Yesus telah memberi kita sebuah contoh kemerdekaan, sebuah kemerdekaan untuk melayani satu dengan yang lain. Yesus telah memasrahkan hidupnya, bukan dengan paksaan, tetapi dengan bebas melalui keputusan yang Dia buat sendiri sebagi wudud nyata kasih dengan yang lain. Kesediaan-Nya untuk solider dengan yang lain, terutama dengan orang yang ada di bawah kuasa kematian ( kemiskinan dan ketidakadilan ) adalah bentuk dari kasih-Nya yang konkret dan nyata.

Dalam rangka untuk memahami arti kemerdekaan, Gutierrez memanfaatkan pemikiran dari Thomas Aquinas. Thomas Aquinas, menurut Gutierrez membedakan antara merdeka dari dan merdeka untuk. “Merdeka dari” ini mempunyai arti merdeka dari dosa, pementingan diri ( selfishness ), ketidakadilan. Kesemunya ini mensyaratkan adanya pembebasan. Sedangkan “merdeka untuk” di sini mempunyai arti merdeka untuk mengasihi, merdeka untuk bersekutu ( communion ).

Pencapaian kasih dan persekutuan adalah tataran final dalam pembebasan. “Merdeka untuk mengasihi” menurut Gutierrez memilik makna yang luar biasa di Amerika Latin karena menyiratkan adanya proses pembebasan. Dalam analisa finalnya, Gutierrez mengatakan demikian : “to set free is to give life.” Jika kita ditentukan bebas maka artinya adalah kita dimampukan untuk memberi hidup pada yang lain, membangun persekutuan dengan Allah dan sesama. Menurut Gutierrez ada lima karakteristik spiritualitas yang berkembang di Amerika Latin. Kita akan melihatnya satu persatu secara singkat.

Pertobatan adalah Syarat Solidaritas

Pertobatan adalah titik pijak setiap perjalanan spiritual. Sebagai awal dari perjalanan yang harus ditempuh, pertobatan adalah sesuatu hal sangat penting. Bahkan oleh Yesus pertobatan dijadikan syarat untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Ketika seseorang sudah memutuskan untuk mengikut Yesus maka artinya orang tersebut pun sudah memutuskan untuk menempuh sebuah jalan yang baru di dalam hidupnya. Dengan melakukan dosa, kita mengingkari kasih dan menghalangi hadirnya Kerajaan Allah. Dan sebaliknya, dengan melakukan pertobatan sebagai awal dari perjalanan yang baru, kita mentransformasi hidup kita dan karena itu kita kembali kepada sesama. Melalui pertobatan, kita menghadirkan kasih dan Kerajaan Allah.  Dengan demikian, melalui jalan pertobatan itu pula kita memeriksa tanggungjawab kita terhadap situasi yang tidak adil dan yang menindas. Dengan membangun relasi dengan Allah, dan membangun solidaritas dengan yang lain, kita terlibat dalam menciptakan masyrakat yang adil dan manusiawi.

Pada gilirannya, kepercayaan pada Allah menjadi hal yang penting dalam jalan pertobatan ini. Meskipun demikian, kita di sini harus memahami bahwa mempercayai Allah bukanlah sekedar mengakui eksistensi atau adanya Allah, tetapi bersedia masuk ke dalam persekutuan dengan Allah dan dengan sesama manusia. Di dalam membangun relasi dengan Allah maupun dengan yang lain, ada dimensi personal yang tak terelakkan. Seorang yang menolak hidup bersama dengan yang lain, menolak kemanusiaan, maka itu sama artinya dengan menolak Allah. Mengapa ? Karena keduanya, bersekutu dengan Allah dan bersekutu dengan manusia adalah suatu persekutuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Keduanya seperti dua sisi dari satu koin yang sama.

Pertobatan dalam konteks Amerika Latin adalah dengan menjadi solider dengan mereka yang ada di bawah kuasa kematian. Bertobat dengan demikian menjadi solider dengan mereka yang diperlakukan tidak adil dan yang miskin. Oleh karena itu, Gereja dalam hidup bergerejanya haruslah solider dengan mereka yang diperlakukan tidak adil dan yang miskin. Gereja harus mendahulukan mereka sebagai sebuah opsi.

Dalam solidaritas, baik aspek spiritual maupun material diperhatikan. Kebutuhan-kebutuhan material orang-orang yang miskin menjadi unsur yang juga penting di dalam spiritualitas yang dikembangkan di Amerika Latin. Di sana aspek fisik tidak diabaikan begitu saja. Orang Kristen di sana justru sangat menekankan pentingnya ekspresi tubuh dari kehidupan Kristiani. Mereka sangat menekankan hak tubuh dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu kebutuhan akan makanan, kesehatan, rumah dan segala macamnya sangat diperhatikan. Tujuannya adalah untuk membebaskan tubuh dari kuasa kematian.

Ada hal penting yang harus diperhatikan dalam menempuh jalan hidup yang baru, yakni keteguhan hati dan konsistensi. Dalam situasi yang penuh dengan konflik, dan dalam situasi yang penuh dengan penindasan, orang-orang yang terlibat dalam praksis pembebasan sangat memerlukan keteguhan hati dan konsistensi. Dan, keteguhan hati itu sendiri bersumber pada pengharapan pada Tuhan.

Rahmat adalah Atmosfer Perjuangan Yang Berdaya-guna

Dalam perjuangan untuk melawan kemiskinan dan ketidakadilan, kita tidak saja hanya dengan menganalisa akar-akar atau yang menyebabkan adanya ketidakadilan, tetapi juga perlu mempertimbangkan perjumpaan Allah sebagai dasar solidaritas yang otentik. Perjumpaan dengan Allah yang personal ini adalah karunia Allah. Pengalaman akan perjumpaan dengan Allah ini adalah sesuatu yang sentral dan fundamental dalam kehidupan Kristiani. Dengan mendasarkan pada 1 Yohanes 4 : 19, Gutierrez mengemukakan pendapat bahwa segala sesuatu dimulai dari rahmat Allah yang telah lebih dulu mengasihi manusia. Karunia kasih Allah adalah sumber dari ada kita. Kita diciptakan oleh kasih dan untuk kasih. Dan rahmat kasih Allah ini sama artinya dengan Allah yang mendahulukan orang yang miskin.

Dalam perjumpaan dengan orang yang lain, membangun komunitas dengan yang lain, relasi kita dengan Allah adalah prasyaratnya. Kita tidak mungkin memisahkan keduanya. Yesus Kristus adalah Allah dan manusia mempunyai arti bahwa Dia-lah yang menjadi jalan ke Bapa dan juga jalan untuk mengakui yang lain sebagai saudara. Dengan demikian pengalaman akan kasih kasih Allah adalah a basic datum of the Chritian faith. Pengalaman yang demikianlah yang menjadi pengalaman spiritual di Amerika Latin.

Pengalaman akan rahmat, Allah yang mengasihi kita terlebih dulu membutuhkan keterlibatan kita dengan yang lain. Mengasihi orang lain ini di awali dengan kebutuhan-kebutuhan konkret orang lain. Gutierrez mengatakan demikian : ”Love is respectful of others and therefore feels obliged to base its action on an analysis of their situation and needs. Ini adalah kasih yang otentik. Kasih ini mengandung penghargaan dan penghormatan kepada orang lain. Dari sanalah orang yang mengasihi mewajibkan dirinya untuk melakukan aksi berdasar pada analisa situasi dan kebutuhan – kebutuhan konkret mereka.

Kegembiraan adalah Kemenangan Yang Mengatasi Penderitaan

Untuk memperjuangkan nasib orang yang miskin dan yang tertindas bukanlah perkara yang gampang. Perjuangan ini membutuhkan pengorbanan yang dapat saja menghantarkan orang pada kematian. Di Amerika Latin, kemartiran adalah pengalaman spiritual untuk memperjuangkan orang yang miskin dan yang diperlakukan tidak adil.

Dalam semangat Paskah, orang-orang yang berkomitmen memperjuangkan orang yang miskin. Ini adalah sebuah penyerahan diri yang total. Pemberian diri ini memang dapat membawa pada kematian secara fisik, namun sebagai pengalaman spiritual ini dipahami sebagai bentuk kepercayaan pada Allah yang hidup. Dalam kegimbaraan paskah mereka mempunyai pengharapan pada kebangkitan, dan pengharapan itu sendiri adalah yang hakiki dalam kekristenan. Yesus yang sudah mengalahkan kematian dan bangkit inilah yang menjadi pengharapan mereka. Pengharapan inilah yang menginspirasikan orang untuk melawan kematian yang tidak adil akibat kemiskinan dan ketidakadilan.

Spiritualitas Kanak-kanak adalah Syarat Komitmen terhadap Kaum Miskin

Spiritualitas kemiskinan yang otentik adalah dengan jalan berkomitmen hidup, berjuang bersama dengan mereka yang miskin melawan kemiskinan. Menjadi miskin dipahami Gutierrez sebagai jalan untuk merasakan, mengenal, berpikir, menciptakan teman, mengasihi, mempercayai, menderita, merayakan dan berdoa. Kemiskinan telah menciptakan dunianya sendiri. Untuk itu, berkomitmen dengan orang yang miskin adalah dengan memasuki dunia tersebut. Dari sanalah kita mewartakan kabar gembira bagi semua orang. Dengan solider dengan orang yang miskin, kita memprotes dan melawan kemiskinan dan ketidakadilan.

Gutierrez sendiri mengidentifikasikan spiritualitas kemiskinan dengan spiritualitas kanak-kanak.  Spiritualitas kanak-kanak inilah yang menjadi syarat untuk memasuki dunia orangi-orang yang miskin, dan karena itu setiap orang yang terlibat dalam praksis pembebasan perlu membangun spiritualitas ini. Spiritualitas kanak-kanak inilah yang memungkinkan adanya komitmen yang otentik dengan mereka yang miskin. Spiritualitas ini ditandai dengan keterbukaan kepada Allah, yang selalu mengharapkan segala sesuatunya hanya pada Allah saja. Dengan spiritualitas kanak-kanak ini pula seorang dapat memasuki kerajaan Allah dan bersama-sama dengan mereka yang miskin membangun kerajaan Allah.

Komunitas : Keluar dari Kesendirian

Sebagaimana halnya bangsa Yahudi mengalami pengalaman akan kesepian di padang gurun, demikian pula seorang yang berjuang melawan kemiskinan dan ketidakadilan di Amerika Latin akan mengalami pengalaman kesepian. Pengalaman akan kesepian ini adalah aspek yang mendalam di dalam perjumpaan dengan Allah. Dengan bersolider dengan orang yang miskin, seseorang ada dalam bahaya. Ia harus menghadapi tantangan demi tantangan. Ia akan mengalami penderitaan. Mereka melihat kemiskinan terus berlangsung dan nampak seperti tidak ada akhirnya. Mereka harus berjalan menembus malam gelap ketidakadilan (The dark night of injustice ).

Pengalaman akan kesepian inilah yang nantinya akan membawa pada semakin mendalamnya penghayatan akan hidup komunitas. Pengalaman akan kesepian ini yang memunculkan kehausan pada persekutuan (Communion). Dalam pengalaman akan kesendirian, kita menghayati relasi kita dengan Allah, dan inilah yang menjadi syarat bagi adanya komunitas yang otentik. Di sini persoalannya bukan kesendirian kemudian komunitas, tetapi dalam komunitaslah seorang mengalami kesendirian.

Dalam komunitaslah orang dapat menempuh jalan yang penuh bahaya ini. Di dalam komunitaslah seseorang dapat mendengar, menerima, dan mewartakan karunia dan rahmat Tuhan, serta ikut berjuang demi mewujudkan nilai-nilai kerajaan yang diwartakan Yesus. Komunitas adalah juga tempat di mana kita mengingat kematian dan kebangkitan Tuhan. Mereka dapat merayakan perjamuan kudus ( ekaristi ) sebagai ucapan syulur kepada Bapa yang telah berbagi dengan kita dalam tubuh kematian dan kebangkitan Kristus. Gereja dengan demikian juga mengalami momen-momen kesendirian sama seperti halnya saat-saat sharing komunitas. Gereja adalah sakramen sejarah kerajaan kehidupan

 

 

Penulis : Eko Nugroho (Rohaniawan)

Artikel ini disarikan dari karya Gustavo Gutierrez, We Drink From Our Own Wells, New York : Orbis Books, 1984