Menghina atau Membela Islam?

Islam itu agung, tinggi dan dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya (ya’lu wa la yu’la alaih) persis seperti yang sering dikampanyekan oleh kelompok Muslim militan-konservatif.  Citra Islam pun sering dikampanyekan sebagai agama rahmatan lil alamin (agama kasih bagi semesta alam).

Namun, apakah gerakan turun ke jalan 4 November 2016 bisa menjadi petunjuk dan keagungan, ketinggian dan rahmatan lil alamin Islam? Atau justeru lebih menggambarkan sikap pemeluk agama yang lebih gampang digerakkan emosinya (baca; ototnya) daripada respon instelektualnya (baca; otaknya)?

Saya secara subyektif menilai, justeru fenomena turun ke jalan, sebagai sikap berlebihan, panik yang mafsadatnya lebih besar daripada maslahahnya, bahkan terkesan seperti aksi yang ditunggangi dan dimobilisasi untuk tujuan dan kepentingan politik Pilkada DKI, bukan untuk membela Islam. Meski di satu sisi sebenarnya aksi tersebut memberikan pelajaran berart dan penting bagi Ahok betapa pentingnya sebagai pemimpin menjadi teladan bukan hanya sikap dan kebijakannya, tetapi juga tutur kata.

Risalah Penistaan Islam

Islam sebenarnya bukan kali pertama dinistakan dan dianggap sebagai agama kebohongan. Sejak awal kehadiran Islam, berbagai macam penolakan telah terjadi. Sejarah merekam dengan baik, bagaimana sikap Rasulullah ketika agama yang dibawanya dihina dan dinistakan, ia dicaci dan dilempari batu di kota Tha’if, beliau tak panik bahkan justeru mendoakan penduduk kota tersebut diberi kebaikan di masa datang, dan menolak tawaran malaikat Jibril untuk menghancurkan kota tersebut sebagai hukuman terhadap penduduknya yang telah melempari dan menghina Islam dan Rasulullah.

Sejarah juga mencatat, peristiwa ketika Rasulullah dihina dan ajaran yang dibawanya (Islam) dianggap sebagai dongeng dan cerita bohongoleh seorang pengemis buta setiap hari, tetapi Rasulullah membalasanya dengan  memberi makan dan menyuapi si pengemis buta itu setiap hari hingga beliau wafat, atau bagaimana Rasulullah menjadi orang yang datang paling pertama untuk menjenguk seorang Yahudi yang sakit, padahal si Yahudi tersebut adalah orang yang paling membenci dan memusuhi beliau.

Tak ada satupun riwayat yang bisa dijadikan alasan untuk membalas penistaan dan penghinaan agama dalam Islam dengan melakukan aksi apalagi menjadi dalil untuk menghalalkan caci maki dan sumpah serapah, meski di dalam negara demokrasi menyatakan pendapat dan kebebasan berekspresi sangat dijamin, tetapi keteladanan Rasulullah justeru menunjukkan fakta terbalik, memaafkan, mendoakan dan membalasnya dengan kebaikan. Dan keteladanan Rasulullah yang wajib diikuti adalah membalas setiap penghinaan dengan mendoakan si penghina mendapatkan petunjuk kebaikan, agar lebih bisa menjaga moral dan lisannya.

Dalam lembar sejarah, wacana penistaan Islam baru muncul sebagai gerakan yang dipolitisasi pertama kali ketika kekuasaan Islam tercabik karena konflik internal, bahkan bukan hanya soal penistaan, berbarengan dengan itu pula muncul pemalsuan hadits, argumen-argumen politik yang disandarkan kepada Nabi, sebagai strategi politik dan cara untuk mendapatkan legitimasi Kitab Suci.

Jika dirunut dan ditelusuri sebagaimana ditulis oleh Mun’im Sirry dalam tulisan Ahok, Penistaan Agama, dan Defisit Percaya Diri Kaum Muslim, tidak ditemukan satu bab pun dalam kitab fiqih klasik yang memuat soal sabb al din (penodaan agama). Mun’im menduga ulama yang pertama kali mencatat soal penodaan agama adalah Taqiuddin al-Subki pada abad ke-14, yang kemudian diikuti oleh Ibnu Taimiyah yang menulis buku khusus berjudul al-Sharim al-Maslul ‘ala Syatim al Rasul(Pedang yang Terhunus Bagi Orang yang Menghina Rasul).

Menurut Mun’im,  secara politik dunia Muslim abad ke-14 mengalami turbulansi yang hebat karena perpecahan kekuasaan Islam menjadi kerajaan-kerajaan yang saling berperang. Belum lagi, banyak wilayah Muslim yang jatuh kembali ke tangan pasukan salib. Psikologi umat yang galau ditambah kemandekan intelektual (taqlid) yang kian memburuk memunculkan perasaan insecured dan gampang baper. Maka, tuduhan penistaan menjadi senjata ampuh menggencet pandangan yang berbeda.

Panggung Politik

Susah rasanya untuk menolak tudingan tak ada yang mencari panggung politik di isu penistaan agama yang ditudingkan kepada Ahok, ketika Ahok dianggap sebagai calon petahana yang berpeluang paling besar untuk kembali memenangkan Pilkada DKI, Februari 2017 nanti. Indikatornya jelas, Ahok ditangkap dan dipenjarakan, sehingga ia tidak ikut berkompetisi dalam pemilihan nanti, strategi culas menjegal lawan politik dengan memperalat agama.

Apatah lagi, aksi 4 November menggerakkan segenap orang dari berbagai daerah. Berangkat (diangkut) dengan bus-bus ber-AC menuju Jakarta, sebuah preseure yang secara tidak langsung telah mengintervensi hukum dan penegak hukum untuk segera menangkap Ahok (bukan memproses) sebagaimana hukum semestinya dijalani.

Penistaan agama rasa politik Pilkada ini seakan-akan menjadi jalan terakhir bagi kelompok Islam politik untuk menghabisi Ahok. Intinya Ahok harus ditangkap dan dipenjarakan, dengan begitu pencalonannya secara otomatis batal. Sebuah sikap yang sebenarnya sangat beresiko dan melahirkan konsekuensi yang sama buruknya. Aksi 4 November akan semakin menegaskan wajah Islam yang intoleran, bengis dan kasar, termasuk menegaskan wajah yang penakut dan pengecut bertarung secara fair, beraninya keroyokan dan show force.

Di sisi lain, menjadikan Ahok bulan-bulanan aksi yang dicaci dan disumpahi secara terus menerus, akan menstigma dia sebagai tokoh yang teraniaya, lemah dan layak dikasihani, padahal sebenarnya dia tak kalah bengis, fasis dan kejam terhadap rakyat dengan proyek penggusuran yang refresif dan selalu melibatkan kekuatan polisi dan tentara. Aksi demonstrasi, sekali lagi hanya akan bermanfaat menjadi panggung politik para politisi daripada gerakan pembelaan terhadap Islam yang universal dan rahmatan lil ‘alamin.

Menjegal Ahok

Melawan dan mengalahkan Ahok semestinya dilakukan dengan mengutarakan konsep dan jawaban atas soal-soal Jakarta yang tidak mampu diselesaikan oleh Ahok secara baik. Ada banyak data dan fakta kegagalan Ahok dalam membangun Jakarta yangtak manusiawi. Soal reklamasi dan penggusuran yang direncanakan di 325 lokasi, adalah salah satu soal “kegagalan” Ahok yang mesti dijawab secara tepat dan benar oleh calon lain.

Jika dianggap kebijakan Ahok selama ini tidak humanis, calon kepala daerah lain harus mengajukan tawaran konsep dan gagasan yang lebih riil untuk pembangunan Jakarta lebih baik, sebagai bentuk respon intelektual. Bukan merespon “menguatnya” Ahok, dengan panik, paranoid dan menjadikan agama sebagai alat tunggangan untuk menjegal dan memuaskan syahwat dan ambisi-ambisi politik pribadi.

Agama diyakini sebagai jalan hidup, solusi dan jawaban atas setiap permasalahan dan soal. Oleh karenanya, agama mesti diletakkan untuk mendedah dan membedah kerumitan-kerumitan. Teks, interteks dan konteks pembacaan Al Qur’an harus diarahkan untuk menjawab soal kesenjangan, kemiskinan, kebodohan, kekumuhan sekaligus menjawab soal tercerabutnya nilai-nilai kemanusiaan warga kota, bukan dibaca dan interpretasi hanya untuk menyelesaikan soal bacot dan omongan tak penting Ahok, dengan menghabiskan waktu berbulan-bulan.

Sekali lagi, kontekstualisasi ajaran agama harus sudah diposisikan pada tataran yang lebih praksis. Jika Ahok dianggap tidak layak memimpin Jakarta, maka tunjukkanlah ketaklayakannya dan tunjukkan siapa yang layak, apa konsep dan gagasan utamanya untuk membangun Jakarta, yang berbeda, lebih unggul dan manusiawi daripada konsep dan gagasan utama Ahok. Jangan hanya bisa berlindung di balik dalil agama, untuk menunjukkan ketakberdayaan dan kepanikan.

Jika anda hendak membela Islam, maka anda semua bertanggungjawab untuk menghadirkan Islam yang sejuk, ramah, toleran, diminati dan menjadi kegandrungan semua orang, sesuai misi nubuat;wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin, bukan sebaliknya menjadikan Islam semakin diingkari, ditakuti karena dianggap tak ramah.

Rahmatul Ummah (Komunitas Cangkir Kamisan)