Mengenang Permainan Tradisional

Penulis: Hifni Septina Carolina

Jika anak sudah kecanduan permainan digital, hal tersebut akan berdampak negatif misalnya luka pada retina karena paparan layar dari komputer maupun gadget, nyeri pada tulang punggung karena kebanyakan duduk, atau obesitas karena tidak banyak gerak dan kebanyakan ngemil saat bermain.

Dewasa ini, semakin jarang dijumpai anak kecil dan teman sebayanya bermain di depan rumah atau lingkungan sekitar. Semakin langkaditemui permainan dengan peralatan seadanya, murah dan mudah namun penuh dengan aktivitas motorik si anak sehingga gerak aktif, lincah, dan dapat berinteraksi satu sama lain.

Permainan tradisional tersebut seakan tergerus oleh zaman yang kian berkembang.Dan mungkin banyak diantara generasi muda–baik di kota maupun di desa–benar-benar tidak mengenali jenis permainan tradisional. Anak-anak sekarang beralih kepermainan digital yang ada di gadget ataupun smartphone. Bahkan tak sedikit dari orangtua yang memfasilitasi anaknya dengan gadget walaupun masih balita (bayi lima tahun). Sehingga anak-anak pun lebih banyak main di dalam rumahdan jarang untuk ke luar dan bermain bersama teman-teman.

Psikolog anak, Seto Mulyadi (2013) mengatakan bahwa ‘punahnya’ permainan tradisional anak-anak Indonesia disebabkan oleh terbatasnya fasilitas yang ada dan lingkungan yang mendukung terjadinya hal tersebut.  Dan tak jarang orangtua yang mendoktrin anaknya bahwa permainan tradisonal itu kuno, kotor dan jorok.Sehingga permainan tradisional pun mereka tinggalkan, dan menjadi asyik sendiri dengan gadget masing-masing.Padahal menurut pengalaman penulis, permainan tradisional begitu menyenangkan, seru dan menuntut kita untuk berinteraksi dengan teman.

Sebagai anak generasi 90-an, setidaknya penulis cukup puas merasakan permainan tradisional yang beragam jenisnya tersebut. Mulai dari petak umpet, pathok lele, engklek, gobak sodor, bentengan, congklak, lompat tali, gasin,  kelerang dan lain-lain. Atau kami juga sering bermain dengan membuat gubuk-gubukan dari daun pisang, merakit tembak-tembakan dari bambu, masak-masakan dengan segala macam warna daun, atau mengeksplor jenis-jenis tanaman yang ditemuinya misalnya ciplukan dan seterusnya.

Menurut penulis, masa anak-anak adalah masa yang tak pernah kenal lelah saat bermain dengan teman-teman hingga tak jarang orangtua menjemput hanya untuk menyuruh mandi.Dengan bermain kita dapat melakukan banyak gerak, dapat menumbuhkan empati dengan teman, atau berani mengakui kekalahan, bekerjasama dalam tim dan juga berinteraksi dengan alam. Bahkan material yang digunakan dalam permainan tersebut juga disediakan oleh alam atau lingkungan sekitar.

Namun, sekarang iniruang bermain anak semakin terbatas. Ditambah dengan banjirnya produk permainan digital yang lebih menarik minat anak.Anak-anak di desa bahkan memilih memakai uang saku mereka untuk ke warnet dan bermain games atau playstation. Menurut Elly Risman, jika permainan digital tersebut dimainkan dalam batas-batas wajar, bisa digunakan untuk membantu pasien yang tengah menjalani terapi fisik, merangsang anak untuk cekatan, merangsang perkembangan bahasa bagi anak-anak dislexia

Tapi jika anak sudah kecanduan permainan digital, hal tersebut akan berdampak negatif misalnya luka pada retina karena paparan layar dari komputer maupun gadget, nyeri pada tulang punggung karena kebanyakan duduk, atau obesitas karena tidak banyak gerak dan kebanyakan ngemil saat bermain. Selain dampak fisik, ada juga dampak psikologis bagi anak, perilaku anak yang tidak sabaran, acuh dan mengabaikan lingkungan sekitar karena terlalu asyik bermain dalam dunia maya tersebut. Serta menghilangkan sisi kepekaan sosial dari anak yang berakibat pada kehidupan di masa mendatang.

Sesungguhnya ada banyak nilai kebudayaan yang terkandung dalam permainan tradisional, misalnya tenggang rasa, gotong-royong, sportifitas, keberanian, dan lain-lain.Alangkah indahnya ketika melihat gelak tawa anak-anak saat main gobak sodor, kecerian saat bermain lompat tali, atur strategi saat bermain bentengan, adu kejelian saat bermain kelereng, atau bermain sportif dalam permainan petak umpet dan lain-lain.

Sehingga dapat dikatakan bahwa permainan tradisional merupakan peradaban masyarakat masa lalu yang perlu dilestarikan. Karena permainan tradisional sangat ekonomis dan tidak mengeluarkan biaya namun justru mengasah keterampilan anak dan kepekaan sosial serta memanfaatkan alam untuk sarana bermain. Semoga kita dapat mendidik anak-anak akan pentingnya nilai-nilai budaya yang semakin terkikis seiring dengan lunturnya beragam jenis permainan tradisional tersebut.[]