Membangun Pemuda Membangun Desa

Penulis: Edi Jatmiko

Desa merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari ramahnya sebuah lingkungan yang asri, masyarakat yang kultural dan wajah dari kebhinekaan negara Indonesia. Masyarakat yang beragam tentunnya akan melahirkan nilai-nilai kearifan lokal dimana terdapat sebuah dimensi yang tidak bisa kita temui di kota-kota besar yang menjadi magnet bagi para generasi muda.

Kemajuan desa adalah menjadi tanggung jawab seluruh komponen yang ada di dalamnya, mulai dari aparat desa sebagai tangan pengusa, tokoh agama, adat dan pemuda. Semua berkesinambungan saling berkaitan untuk memajukan desa. Kemajuan desa bisa terlihat dari wajah pemuda hari ini, bagaimanapun juga pemuda hari ini adalah calon pemimpin masa depan, jika kita ingin melihat kondisi sebuah desa maju tidaknya maka lihatlah pemuda hari ini, pemuda sekarang adalah wajah desa 10 tahun kedepan.

Kita mengetahui bersama bahwa Generasi muda menjadi harapan bangsa, lantas bagaimana kita melihat pemuda desa dewasa ini? Jika sekiranya saat ini telah memasuki era global, sungguh banyak yang telah berubah, khususnya generasi pemuda desa. Kita telah kehilangan taringnya. Identitas pemuda sebagai yang progresif, sebagai pelopor perubahan, seakan telah hanyut ditelan masa justru identitas pemuda saat ini lebih banyak terkontruksi oleh kebudayaan populer.

Pemuda dewasa ini, lebih menghabiskan waktunya untuk memikirkan baju mereka atau handphone merk yang lebih baik fashionable, ketimbang memikirkan problem desa.
Perlunya dibangun sebuah ketokohan pemuda dalam rangka menyiapka peradaban desa yang berkemajuan sebagai calon generasi pemimpin, segala sesuatu perlu disiapkan sejak dini, maka kita harus mengambil peran kepemimpianan.

Setidaknnya kita melakunya dengan beberapa cara yaitu melalui keterampilan, peluang dan panggilan jiwa. Berbicara tentang keterampilan, masyarakat desa pada umumnya memiliki keterampilan yang sama satu sama lain, sehingga ini bisa menjadi peluang bagi kita untuk menggerakannya, selain itu masih banyak peluang disana yang bisa kita lakukan memberikan pembaharuan maupaun gebrakan.

Dalam membangun desa, ketulusan cita-cita dan kesungguhan niat kita diuji. Kalau soal citra, itu secara alami akan mengikuti bila kita melakukan semuanya dengNa baik. Karena disini dibutuhkan jiwa-jiwa yang besar dalam rangka perbaikan kondisi desa, sehingga pujian tidak membuatnya lalai. Kita perlunya “menyiapkan“ keresahan atau sejenis kondisi dimana ketidaknyamanan itu ada. Karena keresahan adalah sumber perubahan. Lantas dari mana kita bisa melakukannya ? kita bisa memulai dari diskusi, ngobrol berbicara tentang realita yang kita hadapi. Yang kita kaitkan dengan sebuah harapan, cita-cita dan tujuan yang ingin kita lahirkan bersama. Pemuda hari ini mengalami krisis teladan maka kita harus memulainnya sejak dini dengan peduli terhadap permasalahan- permasalahan yang ada di desa setidaknya kita melahirnya empati dalam hati.

Berbicara mengenai penggerak atau kepemimpinan di desa, ada satu ungkapan “ kebijakan orang tua dan semangat anak muda”. Maka seperti itulah sabaiknya kita, terus melakukan komunikasi dan bergandengan tangan dengan orang tua, jika kesejahterahan yang menjadi tujuannya, maka siapapun pemimpinannya itu menjadi hal yang sangat penting. Karena tujuan kita lebih kuat dari tujuan dan pelaksaannya. Sejak dulu saya percaya dengan kuatan cita-cita dan kerja nyata semua bisa terwujud, sebagaimana yang sering di katakan para pendahulu. kita tidak bisa memilih dari mana tanah kita akan dilahirkan, atau dari suku apa kita ini, tapi kita bisa memilih menjadi apa kita dimasa yang datang, jadi ini adalah sebuah keyakinan yang perlu kita pupuk dalam diri.

Kita sebagai pemuda pasti memiliki bermacam latar belakang keilmuan, Baik itu sarjana, master, ataupun doktor dari bermacam-macam disiplin ilmu. Ada yang dari kedokteran, kesehatan, pertanian, peternakan, perikanan dan lain sebagainya. Pada saat masih mahasiswa mungkin kita selalu digembar-gemborkan dengan Tridharma Perguruan Tinggi Yang mana salah satunya adalah “ Pengabdian Maasyarakat”. Artinya, setelah melewati tahap pendidikan dan penelitian tentu diharapkan kelak mahasiswa menjadi agen perubahan, salah satunya melalui bentuk pengabdian terhadap masyarakat di desa.

Salah satu pepatah populer mengatakan “Banyak Jalan Menuju Roma”. Untuk membangun desa memang banyak jalan, bisa melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, pertanian, perikanan dan lain sebagainya. Dari berbagai disiplin ilmu tadi kita bisa membangun bangsa ini. Hal ini juga dimaksudkan supaya ilmu yang kita dapat selama kuliah tidak mubazir, yang mana dulunya masuk kuliah harus jungkir balik ikut tes SNMPTN, kuliah 140-an SKS, skripsi dibela-belain tidak makan ‘satu bulan’, ya setidaknya ilmunya harus bisa diterapkan di desa, meskipun hanya sedikit.

Kontribusi pemuda dalam membangun desa nantinya akan memberikan kemajuan walaupun hannya sedikit, namun untuk menuju manfaat yang lebih banyak harus dimulai dari sedikit terlebi dahulu salah satu indikator membangun desa adalah mengerakan pemuda sebagai kunci perubahan disetiap lini.

Membangun desa memang banyak tantangannya. Gengsi menjadi sebab utama pesisisme kita untuk membangun desa. Oleh karena itu, hilangkan kegengsian itu dengan strategi bagaimana membangun semangat perubahan di desa. Dari sana kemudian kita berkontribusi, mulai dari desa untuk Indonesia.