Membaca Buku

Saat mengakhiri pidatonya pada pembukaan Pekan Frankfurt Book Fair di Frankfurt Messe, Jerman, tahun 2015 silam, Goenawan Mohamad berujar tegas bahwa “menyambut kelahiran buku tak hanya berarti memamerkan kekenesan para pengarang.” Bagi penyair yang juga esais terbaik Indonesia itu, ia “juga tak hanya berarti memajang sejumlah besar komoditi di sebuah pasar yang ramai.” Kita sungguh bernasib baik. Kita patut hidup bahagia; pun mati dengan bahagia. Kita terlanjur lahir di wilayah bebas buta huruf dalam pengertian sebenarnya. Bukan ‘buta huruf’ yang sering kita baca dalam salah satu karya Seno Gumira Ajidarma. Kadang rumit dan begitu membingungkan, memang: buku-buku “kanan” dan buku-buku “kiri” jadi seragam. Buku baik dan buku buruk pun dengan asik diam-diam bersenggama di rak toko buku loak yang sama.

Secara akademis, buku-buku kiri pun konon cuma bermanfaat untuk mahasiswa. Tapi, mungkin, kita sebenarnya tak bernasib baik. Kita patut bersedih; pun mati dengan penyesalan. Kita terlanjur lahir menjadi manusia ‘sekadar eja’: meraba, menerka, menduga. Manusia sekadar eja yang terperosok ke liang kegamangan tatkala membaca segepok kertas karya Camus. “Ini buku kiri; ini buku kanan“; balas kita yang tak bosan-bosannya mengembara di belantara aksara dan kata-kata. Ada satu waktu ketika buku-buku kiri ternyata meresahkan. Zaman Orde Baru, buku-buku kiri dilarang untuk diedarkan. Baru-baru ini, gejala itu tampaknya muncul lagi. Dan, luka yang mungkin belum lagi sembuh akan terulang sakitnya. Mungkin malah akan tergurat luka baru. Sebab, seperti dilansir CNN, di toko buku besar seperti Gramedia, misalnya, tak ada lagi buku-buku mengenai paham marxisme dan leninisme yang biasa berdiri tegak di etalase maupun rak-rak buku mereka.

Fakta itu dapat dengan mudah dijumpai saat para pembaca setia buku menyambangi sejumlah toko buku besar. Lenyap. Rontok satu demi satu. Hilang entah ke mana. Lebih dari itu, Literatur mengenai peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang kerap dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia pun tak terlihat di rak-rak buku. Yang tersisa hanya karya Tan Malaka: salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia; dan segelintir buku ‘kiri’, yang masih dipajang di etalase Gramedia. Barangkali kita akhirnya seperti balita yang rela ‘menerima segala’ dengan takzim. Kita segera menjadi pasrah atau menjadi geram dan kemudian muncul pertanyaan: ada apa? Tidak ada lagi kebebasan. Termasuk tentu saja, “kebebasan untuk membaca semua karya.”

Yang menjadi dugaan sementara: ternyata di zaman penuh kecurigaan ini, yang mahal dan tak mampu terbeli: prasangka baik. Tidak baik suuzon tetapi juga harus selektif dengan siapa kita harus husnuzon. Kita mesti sudah tahu siapa yg tepat untuk diberi empati dan kapan kita harus “tak peduli”. Padahal, bagi saya pribadi, membaca sebuah buku bukan berarti selalu setuju; membaca bukan juga berarti selalu sepakat dengan ideologi yang terkandung di dalamnya. Bagi para penggiat ilmu pengetahuan, seperti yang juga saya lakukan, misalnya, membaca adalah lajur tak henti palagan kebangkitan belajar. Kelindan antara mafhum dan merasai. Kita bahagia dengan membaca; pun kita bisa bingung karenanya. Kita limpung. Kita bahkan khawatir akan hidup; mati bahagia atau malah sebaliknya.

Lucius Anneus Seneca pernah bersabda: ‘ada terlalu banyak buku berkualitas rata-rata yang hadir untuk menghibur pikiranmu. Oleh karena itu, bacalah hanya buku-buku yang tanpa ragu dianggap bagus.’ Buku sesungguhnya adalah hegemoni yang muncul berkat kepiawaian berlogika pun berbahasa. Yang menjadi masalah: bagi saya, orang tak boleh sekedar berada di tengah—dan berdiam di tempat yang ‘aman’—bila ingin memberikan kontribusi untuk dunia yg kemudian bisa dikenang selama berabad-abad. Jadi, di mana pun berdiri, usahakan selalu mengambil sisi. Pada akhirnya, kita sesungguhnya tak menemukan jawaban dari membaca; tetapi justru mendapatkan banyak pertanyaan dan tugas yang bikin kita lupa akan “kanan” dan “kiri” Mengutip kata dari Gordon More,“Kaum buta huruf abad ke-21 bukan orang yang tidak membaca dan menulis, tapi orang yang tidak mampu belajar, melupakan apa yang pernah dipelajari, dan belajar kembali semua hal yang ia pelajari.”

Ridho Cholid (Dosen IAIN Raden Intan Lampung)