Melawan dan Menggenggam Palu Arit

Tulisan ini harus rela saya tunda sebelum menyelesaikan pengantarnya dalam dua tulisan Hegemoni Sejarah dan Seribu Pertanyaan dan Palu Arit dan Perlawanan,  dua tulisan pengantar yang sebenarnya tidak murni berisi gagasan dari kepala saya sendiri,melainkan bersumber dari berbagai bahan bacaan.

Kenapa harus dimulai dari hegemoni sejarah dan pentingnya mengurai sejarah dan makna di balik simbol? Karena sangat penting untuk mengerti dan paham bagaimana sejarah ditulis dan bagaimana sejarah sebenarnya, sehingga kesalahpahaman yang cenderung mudah menuding kelompok lain sebagai ber-paham salah, atau baru paham kemudian berimplikasi pada klaim dan anggapan paham-paham lain yang berbeda sebagai paham baru.

Palu arit dalam perkembangannya identik dengan komunisme, walaupun perlu ditegaskan bahwa sesungguhnya tidak selamanya palu-arit adalah komunisme, dan tidak selamanya juga komunisme adalah anti-Tuhan dan tidak beragama! Sama halnya dengan tidak semua orang yang mejeng dengan kaos dan simbol palu arit adalah memiliki jiwa dan semangat melawan. Ada banyak dari mereka yang hanya numpang narsis, ngessokpengen tenar, atau malah ada yang patut dicurigai justeru hendak merusak sakralitas simbol, padahal sesungguhnya tidak paham bahkan cenderungsedang bersekongkol dengan pemodal.

Tapi, tak apalah, tetap saja menguntungkan. Minimal bagi mereka yang tidak ingin memelihara ketaktahuannya, akhirnya  berusaha untuk terus memburu dan membaca agar lebih tahu apa sebenarnya yang sedang diperbincangkan ini, karena sesungguhnya manusia yang sehat dan waras memiliki kecenderungan aktif untuk tahu dan selalu penasaran.

Kembali ke soal palu arit, sebenarnya jika soal simbol perlawanan semata tidak terlalu penting, namun karena ada filosofi dan ideologi yang melekat pada simbol dan logo itulah ia menjadi penting dan hidup. Sekuat apapun upaya untuk membunuh dan memusnahkannya, maka ia akan tetap hidup sebagaimana ide dan gagasan yang tak pernah bisa dikerangkeng dan dikekang. Untuk itulah, seseorang  yang membeli kaos berlogo palu arit disikapi secara beragam, tidak dipersepsikan sama saat orang betul-betul membeli arit atau palu dengan uang sebagai alat bayarnya.

Sebagai simbol komunisme, sudah pasti palu arit juga tidak bisa dihilangkan dan dimusnahkan, semakin dilarang akan semakin tumbuh dan membesar. Apalagi, ideologi komunisme yang selalu dilekatkan pada Marxisme-Leninisme adalah ideologi yang dianggap paling luas dan rinci yang pernah dikembangkan oleh manusia. Terkait awal kemunculannya sebagai ilmu pengetahuan dan filsafat serta sebagai respon balik atas teori pengetahuan sebelumnya, bisa kita bincangkan pada kesempatan lain.

Komunisme lahir bukanlah tiba-tiba brojol sebagaimana kehadiran Gajah Mada pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk di Majapahit, ada banya sosio-historis yang melatarinya, termasuk salah satunya adalah kemuakan banyak orang terhadap kekuasaan, pemodal dan elit agama yang bersekongkol mengangkangi kelas pekerja. Perilaku elit agama yang cenderung membiarkan kelaliman kekuasaan bahkan terkesan menjadi alat legitimasi baru untuk mengeksploitasi buruh dan kelas pekerja lainnya.

Lantas apakah lantaran ketaksukaan Karl Marx terhadap elit agama yang menghamba kekuasaan itu yang akhirnya menjadikan komunisme diidentikkan sebagai anti Tuhan dan agama? Mungkin bisa jadi.

Namun, ketika Karl Marx menegaskan agama sebagai candu sebagaimana ditulisnya dalam Toward the Critique of Hegel’s Philosophy of Right,“kenestapaan keagamaan, pada saat yang sama merupakan ungkapan kesengsaraan nyata dan sekaligus protes melawan penderitaan nyata tersebut. Agama adalah keluh kesahnya mahluk yang tertindas, jantungnya dunia yang tidak punya hati, karena itu ia merupakan roh dari suatu keadaan yang tak memiliki roh sama sekali. Ia adalah candu rakyat.” (Lihat dalam Michael Lowy, Teologi Pembebasan: Kritik Marxisme dan Marxisme Kritis. Yogyakarta: Insist Press, 2013. Hal. 2)

Marx melihat adanya pertentangan dalam tubuh agama sendiri, kadang ia muncul sebagai justifikasi kelas berkuasa tetapi juga muncul sebagai alat perjuangan kaum tertindas. Baru pada tahun 1846 dalam German Ideology, Marx melancarkan kritik pedasnya terhadap agama. Marx percaya bahwa agama sama halnya dengan ideologi, merupakan produk dari kesadaran manusia yang ditentukan oleh cara produksinya. Cara produksi feodalisme menentukan pandangan manusia terhadap agamanya begitu juga dengan cara produksi kapitalisme akan menentukan pandangan manusia pada agamanya.

Jadi, Marx sebenarnya bukan hendak menolak agama, melainkan protes terhadap cara beragama elit agama yang justeru cenderung menjadi justifikasi ketidakadilan dan kelaliman kekuasaan, hal yang sama juga pernah dilakukan sebelumnya oleh Martin Luther King terhadap Gereja.

Dalam konteks hari dan di sini, ada banyak elit agama yang menjadi pengkhianat kebenaran, bersekongkol dengan kekuasaan yang dzalim, bahkan tak sedikit juga yang menjadi penjilat terhadap Kolonial Belanda pada masa sebelum kemerdekaan dengan mengorbankan bangsa sendiri. Hal yang sama terjadi hari ini, ada banyak elit agama di kampung-kampung menjadi pintu masuk kekuasaan dan pemodal untuk merampas tanah warga secara legal.

Di beberapa daerah, strategi yang terus berulang dilakukan pemodal saat pertama kali hendak berinvestasi dan ‘memaksa’ rakyat menjual tanahnya adalah dengan cara mengumpulkan para tokoh, salah satunya adalah tokoh agama.

Menggunakan mimbar dan beberapa potongan dalil yang diambil dari kitab suci, rakyatpun akhirnya digiring untuk tidak menolak kemajuan dan modernitas, menerima hidup yang lebih bersih dan tertata sebagaimana konsep yang ditawarkan oleh para investor, muaranya adalah merampok secara legal hak-hak rakyat atas tanah dan air, perhatikanlah bagaimana proses pembanguna mall, hotel, tempat-tempat wisata termasuk yang lagi ngetrend  saat ini, reklamasi!

Ketika negara, agama dan pemodal bersatu mengangkangi rakyat. Ketika agama tidak lagi digerakkan untuk mengadvokasi kepentingan kelompok pekerja dan kaum miskin (mustadhafien), agama tidak pernah hadir di ruang publik untuk memperjuangkan nasib kelas menengah ke bawah, sementara negara dan pemodal sedang berasyik-masyuk mengangkangi mereka, maka tidak ada pilihan lain bagi kelas proletar ini untuk berpegang tangan, berdempet bahu dan bersilang kaki, bersatu untuk melawan.

Gambaran kondisi elit yang berada dipuncak kemapanan, memang selalu memiliki ruang yang lebar untuk lupa karena nikmat kekuasaan. Hal itulah yang menjadi alasan paling logis dan rasional, kenapa saat orang berada di lingkar apalagi di puncak kekuasaan, selalu anti terhadap perubahan bahkan cenderung mempertahankan sistem kekuasaannya dengan segala cara, jika terbentur aturan yang dibuatnya maka disiapkannya generasi yang bisa melestarikan kenyamanan itu, seperti anak, istri, kerabat atau sahabat terdekat.

Tak aneh pula, jika gubernur atau bupati/walikota menginginkan keluarga dan kerabatnya menjadi pengganti, begitupun di level kelembagaan agama, pewaris itu telah disiapkan sedemikian rupa, persoalan layak atau tidak menjadi pertimbangan belakangan. Intinya melestarikan kemapanan!

Ketatnya merebut posisi elit agama dalam kelembagaan agama, menjadikan progresifitas keagamaan menjadi lamban bahkan jalan di tempat, agama akhirnya hanya membahas soal-soal fiqhiyah yang dari zaman para sahabat hingga zaman internet kini, tak pernah usai.

Agama tidak pernah lagi hadir mengurusi dan mengadvokasi rakyat yang terus terdesak dan terpinggirkan dari tempatnya sendiri, bahkan nyaris tidak ada suara lantang elit agama tentang hukuman bagi koruptor, tak ada fatwa apapun yang kontekstual. Berbanding terbalik dengan fatwa-fatwa produk makanan, produk kosmetik, obat-obatan, hingga soal produk jilbab yang syar’i dan halal.

Umat atau rakyat yang tak mungkin ada peluang dan ruang untuk merebut posisi elit agama yang diwariskan itu, lebih-lebih hendak merebut kekuasaan tanpa modal apapun, hanya memungkinkan untuk melakukan perlawanan, dan simbolnya adalah palu arit. Maka bersatunya kaum tertindas, seolah menjadi ancaman baru, bagi penguasa yang mapan, bagi elit agama yang nyaman dengan posisinya termasuk bagi para cecunguk-cecunguknya.

Jika, logika berpikirnya seperti itu maka tak aneh jika yang teramcam terhadap simbol-simbol perlawanan itu adalah para elit kekuasaan yang anti perubahan, elit agama dan orang-orang bodoh bermodal congor yang diperalat.

 

Penulis : Rahmatul Ummah