Masyarakat yang Tantrum Sosial dan Dinding Tuhan yang Bisa Bicara

Bukan hal yang mengagetkan  ketika mendengar bahwa tersangka terorisme di Bekasi, Dian Yulia Novi mengetahui ajaran-ajaran radikalnya itu melalui Facebook. Dian Yulia bukanlah yang pertama dan juga saya pastikan bukanlah yang terakhir dari keseluruhan situasi ini. Ada banyak contoh lain di antara pelaku terorisme yang tertangkap di Indonesia yang ternyata mengambil pelajaran keagamaannya yang ekstrem tersebut dari Internet.  Ayman Az Zawahiri bahkan mengatakan bahwa ½ dari peperangan ini sebenarnya adalah peperangan Media.  Mahmoud Eid menyebut itu sebagai “Terroredia” yang  merujuk kepada hubungan simbiosis yang sebetulnya mutualistis antara Terrorisme yang membutuhkan ruang eksistensi dan Media yang terkait dengan kebutuhan Oplag, Iklan ataupun Hit yang sangat terkait dengan seberapa jauh ia dapat mengesplorasi kedalaman atau kebaruan sebuah berita untuk kepentingan pembaca. Dan berita mengenai terorisme, sama-sama kita ketahui, mengisi bagian yang besar dari pemberitaan kita selama 16 tahun terakhir. Bahkan kalau mau jujur, isu terorisme adalah bisnis yang berpotensi luarbiasa dari kaca mata media. Seperti halnya control data, bisnis di balik  isu terorisme sangat potensial. Karena, yang bisa dijual, spektrumnya luas dan melingkupi semua aspek.

Perbedaan Cara Merekrut

Dalam konteks pola rekrutmen dan hubungannya dengan media, ada sedikit perbedaan yang sepertinya halus namun jika diperhatikan agak mengerikan, jika dulu Al-Qaida dan Jamaah Islamiyah ditunjuk sebagai biang kerok kekerasan, maka kini Islamic State atau IS ditunjuk sebagai pihak yang paling bertanggungjawab.

Dahulu, bagaimanapun, poros kekerasan itu masih merupakan kelanjutan dari Jihad semesta yang didengungkan oleh Abdullah Azzam dan dilanjutkan oleh Osama Bin Laden dan Ayman Az Zawahiri. Poros itu disemai langsung melalui radikalisasi di kantong-kantong muslim puritan di Pakistan, ditambah jumlah individunya lewat situasi yang semakin tegang di asia tenggara (melalui figur Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir) dimatangkan dalam perang melawan Uni Soviet di Afghanistan, dan propaganda disebar melalui jaringan-jaringan halaqah garis keras (ketua PKS Lutfi Hasan Ishaq dahulu juga merupakan alumni afghanistan) sehingga kaderisasi untuk apa yang mereka sebut Mujahid, berjalan linear melalui rekrutmen langsung dan berjenjang yang sepenuhnya memperhatikan kualitas keagamaan dan tehnis para rekrutan. Dengan demikian, dapat kita lihat bahwa para pelaku terorisme sebelum 2010 umumnya adalah orang-orang yang relatif  terpelajar, mengerti argumen-argumen keagamaan dan terdidik secara tehnis di lapangan.

Dalam kasus yang agak kebelakang, pasca maraknya media Sosial, banyak contoh dari para teroris yang tidak lagi terkait dengan pola rekrutmen yang konvensional melainkan melalui Media Sosial.  Dampaknya, rekrutmen atas apa yang kita sebut mujahid di lapangan, terjadi dengan cara begitu cair, tidak langsung, dan sangat mudah, namun dampaknya munculah kelompok-kelompok ekstremis yang sepenuhnya tidak terdidik , mengandalkan informasi sepotong-sepotong, sangat agitatif dan karena persepsinya yang jauh lebih tidak utuh atas persepsi keagamaan, ia jadi lebih tertutup, lebih  defensif dan karenanya ia jadi lebih gampang untuk dieksploitasi

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan TV One atas pengantin Jihad Dian Yulia Novi dan Nur Solihin, tampak sekali bahwa mereka sendiri kedodoran jika dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik, terutama saat harus mempertanggung jawabkannya lewat argumentasi berbasis dalil agama. Mereka bahkan kesulitan mengutip kembali hadits tentang jihad, sangat kesulitan berbahasa arab dan dalam hal ini mereka tampak sekali selalu berlindung dibalik hadits bahwa “Islam adalah asing dan akan kembali asing” untuk memberi basis legitimasi atas ketidak logisan tindakan yang mereka lakukan.

Bagian menarik lainnya adalah fakta bahwa semua itu dilakukan setelah melalui apa yang disebut sebagai “Kaderisasi Online”. Dalam kasus Dian Yulia Novi, ia mengaku diremote oleh pentolan ISIS bernama Bahrun Naim. Bahrun Naim bukanlah seorang awam dalam dunia Cyber Crime, ia bersama Santoso pernah melakukan pembobolan sebuah situs Forex dan memperoleh dana Fa’i dalam jumlah milyaran yang sebagian digelapkan oleh salah seorang mitra kerja mereka saat itu.

Pola menyemai bibit radikalisme melalui media Online sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru, namun dengan adanya Media Sosial, itu bisa berjalan dengan lebih mudah, interaktif dan relatif lebih sulit dilacak. Di Indonesia sendiri ,salah satu kasus Cyber Terrorism yang mencuat adalah situs anshar.net. Situs anshar.net adalah situs yang digunakan oleh kelompok teroris Nurdin M.Top untuk menyebarluaskan paham terrorisme. Didalamnya termuat cara melakukan teror seperti cara melakukan pengeboman, menentukan lokasi terror bahkan mengenali jenis-jenis bahan peledak dan senjata. Selain itu situs ini juga menyebarkan orasi  Nurdin M Top serta penayangan adegan pelaku bom bunuh diri. Tersangka pelaku pembuat situs ini adalah mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Semarang Agung Prabowo(24) yang memakai nama Cyber max fiderman dan Agung Styadi (30), dosen fakultas Teknik Informasi Stikubank Semarang.  Semua familiar dalam dunia Online.

Tantrum Sosial

Dalam dunia online, kita tidak sulit untuk menemukan apapun yang ditulis oleh siapapun. Perasaan terancam  secara masiv yang menimpa umat Islam, problem-problem keseharian yang menggumpal menjadi frustasi yang tak terdeskripsikan, kebutuhan atas informasi baru yang tidak dapat dipenuhi lewat media reguler yang sering dikatakan mereka sebagai media partisan, manipulatif dan membenci umat, membuat media-media online atau akun-akun media sosial dengan bentuk paling absurd sekalipun memperoleh basis pembaca yang cukup signifikan selama apa yang ditulisnya adalah informasi yang memberi legitimasi atas kecenderungan mereka (Post Truth).  Maka bermunculanlah media-media “alternatif” yang tidak cukup layak disebut media namun memberi bahan bakar memadai untuk melegitimasi persepsi yang memang sudah ada, memunculkan apa yang disebut sebagai “Tantrum Sosial” .

Bagi yang telah memiliki anak balita, tidak sulit untuk memahami apa yang disebut sebagai Tantrum. Itu adalah sebuah situasi ketika si kecil marah, menangis terus menerus dan cenderung mengamuk atas ketidak mampuannya menyampaikan keluhan secara verbal dan menyalurkan emosi secara terstruktur kepada lingkungannya disaat ia mengalami masalah. Gejalanya mudah dikenali, saat keinginannya tidak terpenuhi, atau saat ia gagal melakukan sebuah hal, ia akan mengamuk, menangis dan kadang kala melampiaskannya pada barang-barang di sekitarnya. Banyak psikolog yang menyampaikan bahwa ini adalah sebentuk frustasi pada anak.

Umat islam juga demikian, selain kolonialisme terang-terangan yang menimpa beberapa negara muslim, penjajahan atas Palestina yang tidak juga menemukan titik terang, ketertindasan umat secara laten dalam hampir semua bidang kehidupan, bahkan kurangnya literasi yang memadai dalam dunia Islam, memunculkan apa yang disebut “Tantrum Sosial.” Itu adalah situasi ketika semua frustasi dalam situasi yang tidak mampu ia bahasakan secara ilmiah -karena kurangnya literatur yang tidak dapat diperolehnya secara mudah-ditambah ketidak mampuannya mengakses segala kelengkapan modernitas secara sportif, melahirkan perasaan kalah, kemuakan yang tidak dapat dikatakan secara mudah lewat bahasa dialogis sebagaimana disarankan oleh para ahli agama yang cerdas berkacamata lewat meja kerjanya yang berpendingin udara. Hasil bersihnya adalah orang-orang yang mengamuk untuk melampiaskan perasaan frustasinya kepada entah apa targetnya, namun biasanya terhadap apa-apa yang mereka sebut sebagai simbol-simbol Imperialisme Kafir.

Problem ini adalah problem mendalam yang tidak dapat dikatakan melalui saluran-saluran resmi lewat media formal yang lebih suka mengutip narasi sejarah dan informasi terbaratkan, lewat kacamata barat, dan tentu saja untuk kepentingan barat,  yang semua ini menurut para pembaca informasi sederhana namun ingin menegakkan izzah agama itu, adalah cerminan kemauan musuh-musuh islam.

Persepsi mereka atas problem ini tentu tidak juga salah, sejak tahun 1958-1965, dana Ford  dan Rockefeler Foundation masuk melalui  apa yang disebut Howard Jones sebagai “perjuangan jangka panjang untuk otak Indonesia,” melahirkan apa-apa yang hingga 50 tahun kedepan adalah sarjana-sarjana tercerahkan yang mengelola hajat hidup orang banyak di Indonesia yang dimulai lewat riset-riset di Berkeley, MIT (kepala risetnya Max Milikan adalah petinggi CIA)  maupun Cornel University. Targetnya terdengar luar biasa namun tendensinya jelas; ” …membangun ruang interdisiplin untuk membangun teori pembangunan Indonesia yang lebih komprehensif” dan setelah melalui penolakan yang eksplisit atas kerangka pembangunan Indonesia yang non kolonialis, salah seorang peneliti yang paling terkenal, Cliffort Geertz, menyodorkan karyanya: Agricultural Involution yang kelak terkenal hingga 50 tahun kemudian dan menyodorkan solusi atas kekurangan pangan Indonesia dengan cara mengelola petak lahan yang semakin menyusut di pedesaan dengan intensifikasi pertanian, modernisasi alat-alat, bimbingan tehnis dan kapitalisasi penggarap.

Tidak sampai 25 tahun kemudian, semua yang dilakukan itu menunjukkan hasil yang cukup memadai, swasembada beras dan posisi Indonesia sebagai negara yang stabil. Yang dilupakan oleh para ahli tersebut, yang hadir berbarengan dengan modernisasi pedesaan dan Intensifikasi Pertanian itu adalah hancurnya “benteng aman dunia” dari banyak masyarakat Indonesia dan kelak menyisakan frustasi dari masyarakat yang tidak terkatakan dan tidak terbahasakan dengan benar.

Dinding Media yang Bisa Bicara

Pada beberapa puluh tahun sebelumnya, pada basis masyarakat pedagang, tumbuh bibit borjuasi nasional yang pertama, Sarekat Islam. Beberapa waktu setelah berdirinya, Sarekat Islam mengalami radikalisasi sistematis berkat kekuatan Poros Perlawanan yang dimotori Semaun melalui Sarekat Islam Semarang yang memobilisasi pemogokan dan penerbitan media-media radikal.

Faktor utama pendorong timbulnya situasi itu ialah Liberalisasi Ekonomi ditangan pemodal swasta sehingga nusantara hanya jadi bancakan pemodal Belanda, Afiliasi Feodal Lokal dengan Kapitalis untuk menghisap Rakyat, menurunnya produksi pangan karena lahan padi dikonversi menjadi lahan eksploitasi Tebu dan menurunkan tingkat kesejahteraan pangan, hingga akhirnya Proletarisasi rakyat sekedar menjadi buruh upahan.

Setelah 1 abad berlalu, yang ditemui Dian Yulia dan Nur Solihin di Indonesia adalah: Gurita Kapitalisme Internasional dan minimnya peran Negara, Liberalisasi Penuh Ekonomi dan Alat Produksi, minimnya produksi bernilai tambah dan terdegradasi menjadi eksportir bahan mentah, defisitnya produksi pangan yang menyebabkan bahan pangan mesti dicukupi melalui Impor, Sumber daya  yang dikuasai asing, ketidak mandirian secara ekonomi dan politisi yang sekedar menjadi tangan-tangan pemilik modal dan rendahnya nilai mata uang yang mencerminkan rendahnya kinerja ekonomi.

Bagian paling rumitnya, saat ini kita tidak memiliki satupun poros perlawanan yang cerdas dan mewakili rakyat atas situasi itu. Maka bertemulah masyarakat desa yang tercabut dari akar-akar budayanya  dengan masyarakat perkotaan yang serba rigid dan memerlukan kepastian multak, dalam sebuah wadah kegelisahan yang tidak diketahui apa ujung pangkalnya. Yang mereka tahu, solusi akhir adalah agama.

Maka berduyun-duyun mereka mencari solusi pada tetirah online dan ustadz perkotaan untuk meredakan kegelisahan. Solusi yang juga penuh kepastian dan segala sesuatu harus menyusut pada dimensinya: “Kembalikan segala sesuatu pada apa maunya Tuhan” dan oh ya, tentu saja, negara kita yang sial ini tidak mendasarkan diri pada kemauan Tuhan.

Mereka berdua hanya bisa berteriak dan menyimpan frustasi tanpa satupun yang bisa mengajari format yang benar untuk berkata-kata secara sistematis, sambil berharap reformasi atau perubahan sosial yang manapun mampu merubah situasi menjadi lebih baik.Hingga belasan tahun kemudian dan situasi tetap tidak juga mengalami perubahan. Ini persis dengan apa yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer tentang pendistribusian kemarahan. “Sang suami yang frustasi membawa frustasinya kerumah, ia marah kepada istrinya. Istrinya yang frustasi marah kepada anak-anaknya dan anak-anak yang frustasi itu akhirnya marah kepada babu. Jika sudah sampai pada bagian babu, maka segala sesuatu berhenti karena babu adalah manusia terakhir di bumi ini. Mereka hanya bisa mengadukan kegelisahan mereka di bilik-bilik mereka yang gelap kepada Tuhan.”

Ya, mereka yang gelisah itu hanya bisa mengadu kepada Tuhan. Bedanya, saat ini mereka berkata pada Tuhan melalui dinding-dinding media sosial. Dan Tuhan itu memberi sebuah pertanda, ya Bahrun Naim yang menjadi perantara-Nya.  Sebuah kabar gembira tentang dia yang segera akan menjadi pengantin surga…

Khairun Fajri Arief (Pengamat Sosial dan Keagamaan)