Mamak Kenut dan Abnormalitas Politik

“Dalam masyarakat jejaring yang di dalamnya pengetahuan tidak lagi menjadi milik khas kaum tertentu, skema pengetahuan dan skema politik representatif terbukti tidak lagi cukup-diri. Ketidakcukupan (insufficiency) politik demokrasi representatif dalam memenuhi janji-janjinya telah menciptakan jalur demokrasi yang bergerak di luar norma kewajaran namun autentik dan mampu mempertahankan otonominya.” (Pierre Rosanvallon, Counter-Democracy, 274)

Mungkin memang diperlukan abnormalitas di tengah kekacauan dan society of distrust dalam istilah Rosanvallon, yaitu masyarakat demokratis yang tidak lagi mudah percaya pada elit politik dan kelembagaan demokrasi.

Tokoh Mamak Kenut, dalam buku Ke Negarabatin Mamak Kenut Kembali, tampil sebagai sosok yang abnormal, melompati kenormalan dan kelaziman, bicara suka-suka, menyela pembicaraan, kemudian berlalu pergi.

Mamak Kenut adalah pendobrak tatanan, entah itu tatanan keluarga, tatanan kota, tatanan jiwa, tatanan politik.Sosok pembangkang dan pendobrak yang selalu dibutuhkan, meski kontroversial tetapi menyehatkan bagi tatanan yang selalu punya kecenderungan memutlakkan diri.

Mamak Kenut, memang tak perlu dipahami terlalu rumit, sebagaimana ia tak pernah mau serius dan rumit membahas setiap masalah. Mamak Kenut yang nyeleneh, ngomong suka-suka, menyela, hadir dan kemudian pergi. Cukup, ketika hendak memahami Mamak Kenut, berkenalan saja dengan Udo Z. Karzi, penulis buku Ke Negarabatin Mamak Kenut Kembali ini, meski tak selalu memiliki tabiat dan watak yang sama persis.

Udo Z. Karzi dan Mamak Kenut, minimal memiliki keresahan, kegelisahan dan kegalauan yang sama, meski kedua tokoh ini resah dan gelisah secara serius, tapi mereka tak mau ribet dan rumit membincangnya.

Ke Negarabatin Mamak Kenut Kembali sebagaimana pendahulunya Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh selalu update dengan isu-isu aktual yang ada di sekitar kita. Mulai soal politik , pendidikan, sosial-budaya, moral hingga listrik yang byarpet.

Mamak Kenut, menurut Udo Z. Karzi hanya sketsa kaum muda terdidik yang bingung hendak melakukan apa. Mamak Kenut akhirnya Cuma bisa setia untuk berteriak-teriak kalut : “Mau jadi apa kami nantinya? Mengapa orang-orang tua tidak sadar-sadar juga? Mengapa korupsi, kolusi, dan nepotisme tetap subur? Mengapa jiwa feodalisme, paternalisme, antikritik, anti perubahan tak juga pergi dari kaum birokrat, legislator, dan petinggi-petinggi negeri?”

Kini, Ke Negarabatin Mamak Kenut Kembali, menyuarakan banyak hal. Mulai soal politik, sosial-budaya, pendidikan hingga isu-isu terkini, seperti korupsi, patung dan kota berhala serta listrik yang tak kunjung jelas kapan berhenti melakukan pemadaman,

Semua cerita yang disusun dengan tema acak itu, adalah celoteh keresahan. Seperti misalnya saat membicang Demokrasi Tanpa Demos (hal. 147), kawan-kawan Mamak Kenut dengan masygul menyimpulkan bahwa agaknya demokrasi telah menggeser ruang publik ke ruang domestik. Demokrasi tanpa publik, demokrasi tanpa demos. Konsolidasi politik dalam pemilu menempatkan tokoh-tokoh primordial sebagai identitas pertama dan utama.

Hal tersebut, menjadikan pelitik yang tadinya baek menjadi bejat, yang tadinya santun menjadi kurang ngajar, yang tadinya murah senyum menjadi suka marah-marah, yang tadinya suka traktir mejadi tambah pelit… tik … tik… (hal. 176).

Akhirnya, politik terkesan menanggalkan moral. Padahal seharusnya politik bergerak untuk membentuk masyarakat dan menciptakan kebaikan bersama (hal. 3). Tetapi, mana mungkin itu terjadi dalam politik di negeri ini, “Kalau Tuhan Aja di Korup, Apakah Etika Masih Laku?” Teriak Mamak Kenut (hal. 181) ketika merespon kasus dugaan korupsi dana haji yang menimpa Menteri Agama Suryadharma Ali, Mei tahun 2014 lalu.

Mamak Kenut ingin mengingatkan bahwa moral politik memang sudah menjadi barang langka di Republik ini. Sebagai perbandingan, Jepang Negeri Matahari Terbit itu mengenal budaya Bushido. Dalam prakteknya Perdana menteri yang merasa malu atas kesalahannya atau ketidakberhasilannya dalam melaksanakan tugas pasti mengundurkan diri dari jabatannya.

Apakah budaya Bushido di Jepang, bisa kita harapkan pada pejabat BUMN yang mengurusi listrik yang sudah seperti lampu disko (mati-hidup) setiap hari, tak peduli siang atau malam? Mamak Kenut tak berani memberikan jawaban apapun dalam tulisan Listrik Byarpet, Diskusi Pelitik, dan Puisi Antikorupsi.

Itulah Mamak Kenut, tak pernah tuntas membahas soal apalagi menjawabnya. Datang tiba-tiba, nyeletuk dan bicara suka-suka, menjadi kelebihan dan kelemahan Mamak Kenut, yang secara otomatis menjadi kelebihan dan kelemahan Bukuini, yang memang disusun dari kumpulan kolom sepanjang tahun 2009 – 2015.

Maka selain menyarankan pembaca untuk membaca buku ini sebagai bagian dari cara untuk memperkaya perspektif, mengetahui banyak hal yang berat dan serius tanpa harus mengerutkan dahi, maka bacalah Ke Negerabatin Mamak Kenut Kembali sembari menyeruput kopi, dan untuk Mamak Kenut, memang sudah saatnya kembali ke Negarabatin, bukan hanya sebagai tukang kritik, tapi kembali untuk bekerja mengembalikan moral dan budaya malu yang telah lama hilang.

 

Peresensi : Rahmatul Ummah (Pembaca Buku, Mengelola Penerbitan Lokal SWP di Metro)

 

Data Buku :

 

Judul                           : Ke Negarabatin Mamak Kenut Kembali

Penulis                        : Udo Z. Karzi

Penerbit                     : Pustaka Labrak, Maret 2016

Jumlah Halaman        : 231+iv halaman