Literasi

Betapa mengerikan membayangkan kondisi negara dengan tingkat minat baca paling rendah kedua di dunia. Negara dengan masyarakat kampusnya yang lebih disibukkan dengan keriuhan soal-soal yang sesungguhnya bukan saja acap tidak begitu jelas semangat akademiknya; tapi bahkan tak jarang segala keramaian yang seolah-olah kegiatan akademik pun sesungguhnya diam-diam tengah memangkirkan orientasi akademiknya. Yang segera terbayang di kepala saya adalah saudara, teman, anggota keluarga, dan diri saya sendiri, yang tentu saja sulit mengelak dari ‘arus besar’ yang begitu mencemaskan itu.

Pengenalan akan dunia tulis-baca seharusnya memang sudah tertanam kuat jauh-jauh hari sejak masa sekolah-sekolah dasar & menengah sebelum memasuki perguruan tinggi. Namun itu saja tidak cukup. Peran keluarga dan lingkungan pun harus proaktif dalam pembentukan kesadaran ihwal pentingnya budaya literasi ini. Bahkan, peran aktif keluarga begitu sentral; karena dari situlah karakter yang kuat akan tumbuh dan terbentuk.

Saya pikir, sudah saatnya kampus musti kembali ke khitahnya. Masyarakat kampus tidak boleh lagi menjadi bagian dari penyebab miskinnya pengetahuan. Salah satunya dengan mengembalikan etos literasi yang, kita akui atau tidak, memang telah lama absen berganti dengan etos pragmatis-kapitalistik yang menggunakan ‘timbangan ekonomi’ sebagai satu-satunya alat ukur yang dianggap paling sah. Kesadaran saya ini barangkali terkesan terlambat. ‘Pertobatan akademik’ yang mungkin salah waktu. Tapi, jika saya boleh membela diri,  ini tentu saja tetap lebih baik: daripada tidak sama sekali!

Di dunia sastra,  misalnya, Gus Mus termasuk terlambat hadir. Mungkin, karena dia merasa harus belajar lebih dulu dengan membaca karya orang lain sebanyak-banyaknya. Maka sebelum mengawali menulis puisi pada 1980-an, dia sudah membaca karya-karya penyair besar. Mula-mula dari karya sastrawan islam klasik. Kemudian, ia pun merambah karya-karya Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ismail, dan segudang penyair Indonesia lainnya.Tentang menulis cerpen, Gus Mus mengaku belajar kepada cerpenis-penyair-perupa Danarto.

Saat ini saya mulai, dan terus, membaca karya-karya apa pun yang menarik minat akademik saya; membandingkan antar-satu karya dengan karya yang lain; sehingga, dengan cara ini—pada karya sastra, misalnya—saya berharap bisa mengenali gaya bercerita mereka; bahkan sampai pada kepribadian tiap pengarangnya.

Membeli buku seseorang bukan berarti harus selalu setuju dengan apa yang ditulisnya. Membacanya bukan juga berati harus sepakat dengan ideologi yang terkandung di dalamnya. Tetapi semata-mata untuk pengetahuan. Mencari pengetahuan dari berbagai paradigma ysng berbeda-beda. Karena seiring dengan perkembangan pengetahuan seperti itu, akan datang pula kedewasaan dalam bersikap.

Sedikit demi sedikit, saya pun mulai bisa mengenal gaya Orhan Pamuk, Albert Camus, Jean Paul Sartre, Paulo Coelho, Milan Kundera, Haruki Murakami, Leo Tolstoy, Jorge Luis Borges, Ernest Hemingway, Gabriel Garcia Marquez, George Orwell, Franz Kafka sampai Edgar Keret.

Dari penulis sebangsa, saya sangat menyukai karya-karya Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Budi Darma, Pramoedya Ananta Toer, dan, tentu saja, Umar Kayam. Karya-karya Leila S. Chudori, Ayu Utami, Goenawan Mohamad, Eka Kurniawan, Seno Gumira Aji Darma sampai yang paling muda, Faisal Odang, merupakan karya-karya yang juga tak kurang memesona selera sastrawi saya.

Dan, semakin saya banyak membaca karya-karya mereka, saya pun sampai pada kesadaran: betapa terbatasnya pengetahuan saya. Betapa sempitnya cakrawala literer saya. Hanya secuil. Saya pun lantas teringat adagium Socrates: “Hakikat pengetahuan adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa”. Mari membangun budaya literasi untuk generasi yang lebih baik!

M. Ridho Kholid (Penyuka Sastra)