Lihatlah Bejatnya Moral Guru Kita

SABTU, 7 Mei saya melihat konvoi kendaraan bermotor yang dikendarai anak-anak SMA. Bajunya sudah dicorat-coret. Sayang, saya tak menyaksikan pose-pose nungging dan rok yang digunting seperti di instagram beberapa waktu lalu. Namun cukup membatin, alangkah mesra anak perempuan itu memeluk pinggang lelakinya. Keduanya sama-sama berseragam putih abu-abu yang penuh cat pilok.

Sejak dari Kalianda, sampai Tanjungan, saya melihat mereka menuju arah timur. Semakin banyak di sekitar tarahan. Sempat melirik ke arah kiri, kerumunan anak-anak itu, sibuk melukis di punggung atau di baju. Ada juga perempuan berjilbab yang penuh pilok pada semua kerudung, baju dan roknya, sedang sibuk melukis semacam tanda tangan dengan spidol di dada pelajar lelaki.

Saya senang melihat mereka. Cukup keren. Tidak seperti masa saya SMA. Jangan lagi kenal corat-coret dan menguasai jalan raya dengan konvoinya. Saya dan teman-teman sangat terbelakang soal itu. Bayangkan, cat pilok ketika itu harganya sudah Rp.3500. Beras, sekilo masih Rp.1750. Uang paling besar dilihat Rp.500 yang bergambar monyet.

Sekarang, cat pilok seharga vocer pulsa mereka. Dan anak-anak itu, pasti tak merisaukan soal beras. Lihatlah sepeda motor dan baju-baju seragamnya, sudah modis dan keren.

Tiba-tiba saya teringat, betapa bejatnya moral guru di sekolah saat ini. Guru-guru perempuan mereka yang shelfie dengan goyang dan memonyong-monyongkan bibir. Guru-guru yang mencabuli murid dan mengajarkan anak-anak SMA membuka situs redtube. Saya terus mengamati jalur mereka dari mana berasal dan hendak kemana di sore hari ini.

Mungkin, yang ke arah Kalianda, hendak merayakan kelulusan di pantai-pantai Lampung Selatan yang sepi, atau di resort yang murah sewanya. Baru saya ngeh, setelah sampai pintu masuk Tanjung Selaki. Serombongan sepeda motor dengan baju SMA yang dicorat-coret, menuju arah ke luar. Ada yang ke arah Kalianda, ada yang ke arah Bandarlampung. Entah pula, mereka SMK, MA atau SMA. Saya tak mau pusing atau berkengingan berhenti untuk memotret mereka. Saya takut, kalau dianggap guru mereka, lalu mereka menyalurkan kekesalan dengan mengeroyok saya.

Saya hanya terus mengamati cara mereka berboncengan. Mirip seperti pacar saya, yang tanpa beban memeluk pinggang. Ada memang yang perempuan membonceng perempuan. Lelaki membonceng lelaki. Tentu saja mereka tak pakai helm. Di pertigaan Panjang, ada empat polisi duduk-duduk, puluhan anak-anak itu dengan bebas, masih menguasai jalanan.

Dulu, saya diajari membuat manifesto pelajar. Tidak ada murid bodoh, yang ada adalah guru yang tak bisa mendidik. Kemudian, melihat trand kuliah keguruan karena dorongan ingin jadi guru sebab, sertifikasi dan peluang kerja di bidang itu ketika lulus, menjadikan orang tua, memaksa anak-anaknya mengambil jurusan keguruan. Meski sang anak berbakat jadi model, jadi peneliti, jadi ahli sejarah, dan sebagainya.

Mendengar siaran radio, anak yang mendapat nilai UN tertinggi, untuk IPA dari SMA 2 Bandarlampung (negeri). IPS diraih anak SMA Alkautsar (swasta), dan SMK, anak dari Pagar Dewa, Lampung Barat (negeri). Sambil mengamati kebejatan guru-guru SMA itu, saya mempertanyakan, kenapa peraih nilai tertinggi bukan SMA yang mengaku Bertaraf Internasional yang beaya masuknya sak hoh hah itu? Ini kita bahas lain kali saja. Kita fokus pada kebejatan guru saja.

Pertama, anak-anak itu tidak salah ketika meletupkan rasa gembira dengan hanya mencorat-coret baju. Itu wajar saja, bahkan cenderung baik. Dibanding anak-anak yang sok mengadakan kegiatan di hari kelulusan seperti bagi-bagi sembako ke anak yatim, rihlah, sosialisasi bahaya narkoba, dan kegiatan yang sama sekali tak mencerminkan kebahagiaan. Kegiatan yang mencerminkan dilakukan anak-anak yang orang tuanya melarat. Kita mesti pada kasihan anak-anak SMA yang tidak gembira itu. Meski kemudian kita bisa memuji, moral gurunya baik. Tidak berpikir melepas anak-anak labil dan bingung dengan tanpa kegiatan. Belum lagi ditambah ancaman serta menakut-nakuti, hendak kuliah dimana, jurusan apa, mau jadi apa, punya beaya kuliah tidak, akan kerja dimana, atau sudah punya persiapan dengan modal Rp.3juta, beli tiket jadi karyawan kontrak di Jabodetabek. Tentunya, seraya memalsukan identitas, membuang KTP yang berbau Lampung.

Kedua, kerusakan mental guru yang anak-anak SMA-nya konvoi sepeda motor, pasti orang-orang apatis yang sama sekali tak punya jiwa sebagai guru. Mereka yang merasa, tugasnya sudah selesai ketika telah mengantar anak-anaknya lulus UN. Bagaimana sulitnya dalam MKKS, merumuskan agar pelajarnya lulus UN semua bagi yang sekolah swasta sebab, berkorelasi pada penerimaan siswa baru. Alamat tak dapat murid jika banyak pelajarnya tak lulus UN. Di sekolah negeri, tak usah dibahas. Memangnya ada guru yang bagus di sekolah negeri?

Sampai di depan Dunkin Donat, ada anak perempuan yang bajunya sudah dicorat-coret, berlari-lari kecil memegang helm. Terdengar orang-orang bersorak, dia berlari sembari tertunduk dan sepertinya malu. Tapi entahlah, malu atau justru bangga, menunjukkan kelulusannya. Inilah point ketiga, akibat guru yang gagal mendidik. Bagaimana cara meluapkan kegembiraan, merayakan kelulusan dan menyatakan, masa depan setelah lulus tentang hidup yang sangat berat.

Masuk perguruan tinggi negeri, mahal. Masih perlu ditambah, pintar. Kalau tak lulus penerimaan mahasiswa baru, tes yang sulit dan beaya daftar ulang yang mahal, bisa membuat anak-anak SMA itu frustasi. Akhirnya marah dengan orang tuanya yang miskin. Bayangkan, ribuan anak itu akan ke mana? Dunia kerja tak ada lapangan sebanyak itu. Kampus, kursinya, terbatas. Jika guru benar-benar mengajarkan peta rasional itu, saya meyakini, anak-anak itu pasti menangis setelah tahu lulus SMA yang berarti tamat riwayatnya menjalani masa-masa terindah dalam hidupnya.

Apalagi yang orang tuanya melarat. Anak yang orang tuanya kaya raya pun, pasti bingung hendak kuliah dimana dan mengambil jurusan apa. Sebab, puluhan mata pelajaran yang kemudian menjadi sampah pengetahuan itu, benar-benar tak menambah keahlian.

Jadi, jangan marah ketika anak-anak kita pulang dengan seragam hancur karena warna cat pilok. Akan tetapi, kita perlu kasihan, salah tempat menyekolahkan anak serta diajar guru yang bejat moral.

Guru yang rusak moralnya, bukan pada sisi ajaran. Melainkan ditandai dengan anak muridnya setelah lulus, kemudian pesta pora seperti habis bebas dari penjara. Lantas, sang guru menepuk dada dan gembira karena anak muridnya lulus semua. Guru yang baik, guru yang menangis, kasihan pada pelajar yang baru lulus itu. Nak, hendak kemana kamu setelah SMA?! Kamu dari Lampung, tak mungkinlah masuk kedokteran UI atau kerja di Astra

 

Penulis : Endri