Korupsi

Suatu waktu pada 2010 silam, aku mendapat sebuah paket dari Jakarta berisi novel berjudul “Korupsi.” Rupanya Henri Chambert-Loir yang mengirim paket itu. Dia dikenal luas sebagai sarjana pakar Sastra Melayu, seorang Indonesianis berkebangsaan Prancis. Karena senang mendapat hadiah dari sang sahabat, aku langsung saja melahap novel itu.

Novel Korupsi ini ditulis oleh Tahar Ben Jelloun, seorang penulis dan penyair asal Maroko yang menuliskan karya-karyanya dalam bahasa Prancis. Buku ini mendapat ‘tempat’ tersendiri di kalangan sastrawan tanah air, karena karyanya ini terilhami oleh novel ‘Korupsi’ karya pengarang besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Pada awal 1990-an, Tahar Ben Jelloun berkunjung ke Indonesia. Saat itu, dia ingin sekali bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer yang sangat dikaguminya. Karena saat itu Pram tengah menjalani tahanan kota dan “demi kebaikan Pramoedya,” maka dia mengurungkan niatnya untuk bertemu Pram. Namun walau tak sempat bertemu muka dengan Pramoedya, selama di Jakarta, dia sempat membaca terjemahan bahasa Perancis (oleh sejarawan Denys Lombart) novel Korupsi karya Pramoedya yang akhirnya mengilhaminya untuk menulis novel serupa dengan latar Maroko.

Pada 1994, novelnya diterbitkan dengan judul L’Homme Rompu (Lelaki yang Patah). Dengan permainan kata “Rompu” (patah) adalah “corrompu” (korup) yang dia persembahkan untuk Pramoedya. Tidak itu saja, sebagian royalti dari penjualan novel ini juga dia berikan kepada Pramoedya. Sebagai ungkapan terima kasihnya, Pramoedya mengirimkan sepucuk surat pribadi yang menurut Tahar “ditulis dengan sangat indah”. Tahun 2010, barulah novel Tahar ini diterjemahkan langsung dari bahasa Perancis dan diberi judul yang sama persis dengan novel Pram: ‘Korupsi’.

Dalam novelnya ini Tahar mengisahkan tokoh Murad, seorang Insinyur lulusan perguruan tinggi di Prancis yang bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum di Casablanca, Maroko. Dia adalah wakil direktur Perencanaan Pembangunan dan Pembinaan, salah satu tugasnya adalah mempelajari berkas pembangunan yang diajukan ke Kementerian PU. Tanpa parafnya tak ada izin membangun.

Namun walau posisinya cukup tinggi, gaji Murad tak mencukupi untuk menghidupi istri dan kedua anaknya. Sebenarnya jabatan dan pekerjaannya yang ‘basah’ sangat memungkinkan dia memperoleh uang suap dari pihak-pihak yang membutuhkan legalitas dari dirinya, namun Murad memiliki prinsip untuk bekerja secara jujur dan tidak melakukan korupsi sehingga di kalangan rekan-rekan kerjanya dia mendapat reputasi sebagai “manusia besi”.

Sayangnya prinsip yang dipegang teguh oleh Murad tak sejalan dengan istri dan lingkungan kerjanya. Hilma, istrinya selalu mengomel dan menuntut ini dan itu, Hilma juga sering membandingkan kehidupan mereka dengan Haji Hamid, asisten Murad yang walau gajinya lebih kecil dari Murad, namun Hamid lebih kaya daripada mereka.

Keteguhan Murad untuk bekerja secara jujur juga membuat dia menjadi ganjalan bagi rekan-rekan kerjanya yang berusaha mendongkel Murad dari kedudukannya. Ketika atasan maupun asistennya melakukan korupsi, maka perilaku Murad yang bersih justru dianggap aneh, sampai-sampai direkturnya sendiri memberi wejangan agar Murad lebih ‘luwes’ dalam bekerja dan memberikan alasan-alasan yang masuk akal agar Murad juga melakukan korupsi seperti mereka.

Kehidupan ekonomi keluarganya yang serba kekurangan, salah satu anaknya yang sakit-sakitan, tekanan dari istri dan rekan-rekan kerjanya yang terus menggodanya agar melakukan korupsi lambat laun mulai menggoyahkan keyakinannya. Iman dan keteguhan prinsipnya benar-benar diuji ketika di dalam sebuah berkas yang harus ditandatanganinya terdapat segepok uang dirham. Ketika itu, hatinya galau karena uang itu lebih dari cukup untuk melunasi hutang-hutangnya, sekaligus untuk mengobati anaknya, namun jika uang itu diambilnya, maka runtuhlah prinsip anti-korupsi yang selama ini dia pegang teguh.

Tahar Ben Jelloun mengemas kisah Murad ini dengan memikat dan begitu hidup, pergolakan batin Murad terlukiskan dengan sangat baik, sehingga pembacanya diajak merasakan kegalauan hatinya dalam mempertahankan prinsipnya. Wejangan panjang lebar dari atasan Murad yang mencoba merasionalisasikan tindakan korupsi terkesan begitu masuk akal dan meyakinkan sehingga tak hanya Murad, tapi pembaca novel ini pun mungkin akan sedikit membenarkan apa yang dikatakan direkturnya itu.

Munculnya tokoh Nadia seorang janda cantik yang merupakan selingkuhan Murad turut mewarnai kisah ini.

Bagi Murad hanya Nadia-lah yang mengerti akan prinsip yang dianutnya, sehingga bisa dikatakan Nadia tempat di mana dia bisa melepaskan ketegangan yang dialaminya, baik di rumah maupun di pekerjaannya. Melalui perselingkuhannya dengan Nadia ini, maka Murad bukan seorang manusia sempurna, di satu sisi dia begitu kokoh mempertahankan prinsipnya sebagai pegawai yang ‘bersih’, namun di sisi lain dia memiliki kelemahan dalam hal wanita. Moralitasnya hanya pada negara, namun hal ihwal ini tidak berlaku dalam hal hubungannya dengan wanita.

Walau sepertinya novel ini merupakan cerita yang menyiratkan sebuah pesan moral pada pembacanya, namun untungnya kita tak akan terasa digurui, karena Tahar menuliskannya dalam ruang pergulatan batin Murad sebagai tokoh utamanya.

Pergulatan batin Murad dalam mempertahankan prinsipnya dan bagaimana ketika akhirnya dia harus mengambil risiko atas keputusan yang diambilnya, serta kisah cintanya dengan Nadia mengalir tanpa jeda di novel ini. Sepertinya memang penulis tak memberi kesempatan bagi pembacanya untuk berhenti membacanya, karena novel setebal 231 halaman ini ditulis tanpa ada pembagian bab. Untungnya kemahiran Tahar dalam merangkai kisah dengan lugas, tidak bertele-tele ditambah dengan terjemahan yang enak dibaca membuat novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi, sehingga kita mungkin saja akan bertungkus-lumus melahap novel ini dalam sekali duduk.

Fiksi yang cerkas ini juga merupakan cerminan atas kehidupan birokrasi masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan tingkat korupsi yang tinggi, karena korupsi sudah begitu mendarah daging dan menjadi sebuah hal ihwal yang wajar. Di novelnya ini, pada akhirnya Tahar memberikan gambaran pada kita, bagaimana seorang yang memiliki prinsip yang teguh untuk bekerja secara ‘bersih’ harus melawan arus dan menghadapi pelbagai tekanan dan sistem yang membuat perilaku korupsi menjadi begitu mudah dan mentradisi.

Muhammad Iqbal