Kontraproduktif

Saya rasa, serangan terakhir dari kubu kontra-FPI terhadap FPI melalui berbagai gambar, rekaman suara, dan video yang diduga perselingkuhan itu adalah sebuah blunder besar. Kontraproduktif, khususnya terkait upaya untuk meredakan tensi konflik antara FPI dan pihak yang secara langsung menyatakan kontra.

Pertama, hal itu justru akan menguatkan solidaritas dan sentimen para pendukung, kalangan, dan simpatisan kubu yang selama ini sehaluan dengan FPI. Solidaritas yang kian mengristal. Benar atau tidaknya rekaman perselingkuhan itu akan menjadi tidak penting lagi, karena pendukung dan simpatisan ini hanya akan memandang dan fokus pada fakta bahwa ada serangan yang serius dari kubu lawan.

Kedua, melihat antagonisme yang muncul ke permukaan terkait FPI akhir-akhir ini, pihak yang secara langsung dan secara institusional langsung menyatakan bermusuhan dengan FPI, lalu pihak-pihak atau kalangan yang getol membagikan rekaman dugaan perselingkuhan, rasanya skenario situasi yang ingin diciptakan oleh penyebar rekaman menjadi terlalu mudah bagi kubu FPI untuk menunjuk serta mengarahkan tuduhan dan serangan baliknya kepada siapa.

Sebuah situasi yang justru malah kian memperuncing dan memperpanas pertarungan. Kecuali memang ada pihak yang sengaja dan ingin menciptakan kondisi demikian.

Ketiga, Rizieq Shihab mungkin saja jatuh dengan serangan ini, lalu surut. Atau bisa saja bertahan dan tak terpengaruh. Tapi, apapun yang akan terjadi terhadap Rizieq menjadi tidak penting lagi, ketika solidaritas dan sentimen pendukung dan simpatisan kubu ini terlanjur tersulut. Lalu dibakar oleh hal-hal yang akan mereka labeli sebagai “ancaman nyata kubu lawan yang kafir”, khususnya setelah serangan terakhir ini.

Rizieq, sejak era reformasi bergulir, sudah dua kali masuk penjara karena kasus pidana, dan hal tersebut tak membunuh FPI dan pandangan pengikutnya terhadap pria yang biasa dipanggil kalangannya dengan ‘habib’ itu.

Yang harus kita ingat adalah, dalam pertentangan dan polemik sosial politik akhir-akhir ini, khususnya terkait FPI, “FPI” bukanlah sebuah kubu yang hanya terdiri dari ormas FPI semata, melainkan di dalamnya ikut berkubu (bukan bergabung dalam organisasi, tapi bersatu dalam satu kubu karena bersimpati) sebagai satu kubu dan barisan simpatisan gerakan yang berasal dari ormas-ormas Islam tertentu yang merasa sejalan dengan gerakan dan arah politik yang digalang FPI. Perkubuan mereka sebagian juga karena dukungan politik atau digerakkan oleh kepentingan elite politik. Secara ideologi, ada yang wahabi, adapula yang aswaja. Itulah mengapa di Surabaya kemarin, misalnya, tempat yang secara kultural seharusnya sulit bagi berkembangnya kelompok garis keras, puluhan ribu orang tetap mendatangi acara Gerakan Subuh Berjamaah di Masjid Al Falah yang menghadirkan Bachtiar Nasir (Ketua GNPF MUI) dan Rizieq, meski sebelumnya ada demo menolak FPI oleh berbagai elemen di kota ini.

Yang perlu selalu kita ingat juga adalah bahwa FPI, sebagaimana NU, adalah sama-sama Ahlussunah Wal jamaah. Mereka mengakui Pancasila dan NKRI sebagaimana NU. Berbeda misalnya dengan HTI atau ormas wahabi lainnya yang pro-khilafah. Situasi ini membuat, di akar rumput, FPI relatif mudah menarik simpati warga NU. Meski banyak juga yang menolak FPI.

Antagonisme yang menciptakan situasi di mana umat Islam seolah hanya dipilihkan dua opsi label ini sesungguhnya sangat merepotkan. Dua opsi tersebut adalah pro atau kontra FPI. Persoalannya, dua pilihan tersebut kini bermakna politik praktis. Yang Pro FPI akan dicap sebagai kubu kontra PDIP-Ahok-Jokowi, sementara yang kontra FPI akan dipandang sebagai kubu sekuler dan memusuhi Islam. Dalam situasi yang demikian, banyak kalangan yang cenderung diam meski tak menyukai sepak terjang FPI sekalipun. Terlebih, secara institusional, dua ormas Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah tak pernah menyatakan sikap resminya melawan FPI dan kubunya. Berbeda misalnya dengan PDIP. Sebagian ada yang memilih bergabung dengan kubu gerakan Islam karena secara kultural dan politis selama ini mereka berseberangan dengan kelompok PDIP atau kubu nasionalis sekuler.

Gerakan PDIP menggandeng kubu NU dan Muhammadiyah secara lebih luas melawan FPI dan para pendukungnya pun juga bukan hal yang mudah. Di masa lalu, PDIP dan Megawati-lah yang diuntungkan dari aksi-aksi FPI dan kelompok Islam garis keras saat menjatuhkan Gus Dur dari kursi kepresidenan. Sesuatu yang masih membekas di benak sebagian kalangan NU dan pendukung Gus Dur, yang merasa pada saat serangan politik terhadap Gus Dur itu terjadi, PDIP tak turut memback-up Gus Dur.

Oleh karena itu, saya hanya percaya, pertentangan ini hanya akan reda jika pemerintah mau berdiri secara adil di atas semua dan berdialog, memfasilitasi. Masing-masing kubu harus bisa berkomunikasi dengan cara yang wajar. Bukan lewat provokasi-provokasi di medsos dan agitasi-agitasi di lapangan. Terkait rekaman dugaan perselingkuhan ini, semua pihak harus bisa menahan diri. Karena reaksi negatif hanya menguntungkan kubu yang sengaja membuat kekisruhan.

Pendekatan massa dan pendekatan keamanan hanya akan menciptakan antagonisme yang kian liar dan kontraproduktif antar dua kubu. Peredaan ketegangan ini setidaknya hal penting untuk jangka pendek ini. Hal selanjutnya yang juga tak kalah penting dalam upaya melawan fundamentalisme ataupun intoleransi adalah menghindari cara-cara yang sebenarnya juga justru intoleran. Seruan toleransi juga hanya akan dipandang sebagai omong kosong jika di balik seruan itu adalah milik parpol tertentu atau politisi tertentu untuk kepentingan politik praktisnya.

Gerakan kampanye dan ajakan toleransi semestinya yang bisa membuat semua kalangan yang menolak ekstremisme merasa nyaman, bukan dikotakkan, terlebih dimanfaatkan.

Mohamad Burhanudin