Konferensi di Zaman Kegelapan

MINUM kopi, tak bisa terlepas dari sejarah dan kepahitan hidup sebagai bangsa jajahan. Orang-orang bermental inlander, korban tanam paksa, koloni yang dikerjarodikan, sampai dengan aroma yang begitu memikat. Serta tentu saja, sentimen anti Arab.

Kopi adalah saksi semuanya. Menggerakkan orang-orang sederhana, lebih halusnya bodoh, hanya dengan pengetahuan politik sedikit saja. Setelah semua mesin penjajahan bekerja, “orang-orang bodoh” rela menanam kopi, broker-broker kopi yang punya budak, serdadu dan antek yang mendadak priyayi, bisa menikmati hidup dengan pesta pora di rumah bundar, menggelar pesta dansa dan hidup jor-joran.

Di Hindia Timur inilah, keringat warga jajahan korban cultuurstelsel, diabadikan dengan nama menu “Java Coffee”. Minuman mahal, kelas atas yang tersedia hanya di kedai-kedai kopi pilihan. Kedai kopi bahkan sejak abad ke-16, dianggap mampu mengubah citra dan cara pandang. Orang-orang Turki yang dibenci warga Inggris, bahkan menjadi merk sebuah kedai. Yaitu, “Turk’s Head“.

Pergulatan soal kopi sebagai produk yang memengaruhi kaum lelaki, menjadi obat sekaligus kelas sosial, teman diskusi sekaligus awal bentuk-bentuk perlawanan, tercatat sudah ada di Eropa sejak abad ke-16 sampai pada abad ketujuhbelas. Masih lestari sampai saat ini dengan berbagai varian tambahan, meski mulai mencerabut inti sebuah kedai. Yakni, ruang diskusi.

Di Kota Metro, gaung dan geloranya baru ada di awal 2017. Hal ini menjadi penanda, sisi menarik dari kemajuan peradaban. Eropa hanya menikmati minuman kopi, mereka jauh lebih dulu berpikir tentang bagaimana menguasai dunia.

Indonesia, warganya menanam kopi namun tak tahu bagaimana menikmati wine hitam yang menggeser fermentasi anggur itu, dan menariknya, baru sekarang akan dimulai di Kota Metro. Yang katanya, kota pendidikan.

Butuh waktu tiga abad untuk sadar, sodara-sodara. Tiga ratus tahun lebih. Sama dengan usia VOC mengendalikan budak dan mengadudomba orang-orang pribumi.

Di Kota Metro saat ini tak ada tanaman kopi, juga tidak punya kedai yang berkualitas menyajikan kopi secara baik, sekarang saatnya menyerap seluruhnya, bangsa dan kemajuan peradaban para penikmat kopi.

Satu hal yang perlu diingat, perbudakan, darah dan keringat para petani kopi tanpa punya tanah itu bukan dihisap para Kompeni. Namun priyayi pribumi yang tak ingin kehilangan gaya hidup mewahnya juga ikut terlibat, mereka menjadi perantara, menikmati adonan derita “orang-orang kalah”. Menariknya, ini yang akan dibangkitkan kembali di Kota Metro? Justru oleh sekelompok orang-orang “kalah” itu sendiri. Anak-anak muda marginal yang bagi saya, ghuroba. Mereka terasing dalam modernitas yang sering menghibur diri dengan ajaran, beruntunglah orang-orang yang terasing.

Sebagai daerah sisa-sisa koloni, daerah bekas program transmigran, Metro punya sejarah panjang tentang DAM, irigasi dan afdheling atau bergen. Namun selama beberapa dekade, kota itu berhasil menjadi magnet untuk anak-anak muda bermukim, untuk sekolah atau mengadu nasib dalam industri kreatif maupun di sektor jasa.

Heboh lahirnya Konferensi Kedai Kopi (K3) yang digelorakan anak-anak muda dalam Cangkir Kamisan, membuat saya ingat. Kalau tidak salah, pernah membaca tulisan, kira-kira begini (maaf saya lupa sumbernya), karakter Max Havelaar yang banyak mengulas tentang petani kopi yang tak mendapat upah layak itu, akhirnya memberi gambaran tentang kejamnya kolonialisme. Kemudian membuat organisasi pendukung Fair Trade di Swiss berupaya untuk menjadi mediator kopi yang adil. Dimana jika kita minum kopi di warung kopi yang mahal, Fair Trade Organization berusaha meningkatkan harkat para penanam kopinya atau membantu masyarakat yang berhasil menanam kopi dengan baik yang selalu tidak bisa menjualnya dengan harga wajar akibat permainan calo kopi serakah seperti tokoh Droogstoppel dalam novel Max Havelaar.

Apa latar lahirnya K3? Ingin menikmati cuilan aroma penjajahan, atau berusaha bangkit menjadi lembaga semacam Fair Trade di Eropa itu? Atau bahkan sekadar upaya menyusun ulang untuk memulai sejarah di Inggris pada abad ke-17?

Saya tidak punya kapasitas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Namun izinkan saya bercerita seputar perdagangan kopi di Lampung.

Dulu, pasca sukses kolonisasi, program transmigrasi sudah mulai berhasil dengan panennya buah kopi yang rasanya lebih “full body taste.” Beberapa pendatang yang biasanya membuka toko kelontong, mulai masuk langsung ke petani-petani kopi. Sebut saja “Orang Itu” melakukan transaksi dengan berjalan mendaki ke bukit-bukit, menemui mereka di gubuk-gubuk yang mengandalkan air tandon hujan, lalu ada juragan tanah di bagian bawah yang rumahnya di pinggir jalan, mengumpulkan dan menyimpan atas permintaan Orang itu. Lalu menggunakan mobil yang anak-anak mengejar sembari menghirup asap knalpotnya sambil teriak-teriak, mobil, mobil, mobil. Orang Itu membawanya ke Tanjungkarang. Sebuah kota bandar, satu-satunya kota di ujung pulau Sumatera yang sudah ada pelabuhan.

Orang Itu awalnya menampung kopi di gudang, yang gedungnya pun masih menyewa. Lambat laun, pabrik kayu kian redup, bahkan mulai gulung tikar karena pasokan bahan bakunya kian langka. Berhasil dialihfungsikan jadi gudang.

Orang Itu punya ciri-ciri seperti Yajuj Majuj, datang bergerombol dan jumlahnya tak pernah berkurang, terus bertambah dan menguasai semua sektor kehidupan. Termasuk elektronik dan tentu saja semua hasil bumi, kopi ada di dalamnya.

Pada soal kopi ini, mereka punya ketekunan usaha sampai terkenal agar semangatnya dimiliki setiap pribadi yang sedang berjuang menuntut ilmu. Ada satu orang, yang tak ada hari tanpa dirinya memegang biji kopi, sampai dia paham betul jumlah kadar air sekarung kopi hanya dengan memegang dan menempelkan segenggam kopi di keningnya.

Semua yang butuh kopi di belahan dunia mana pun, sudah mengenalnya. Anaknya juga tersebar, ada yang di Perancis, leluasa menjelajah Eropa, dan ada yang menikah, lalu bermukim di Italia. Saudara-saudaranya berdatangan, ada yang membuka kopi bubuk lalu diberi merk, ada yang menjual dan merajai pasar tradisional, tanpa merk, ada yang konsentrasi mengirim (pemasok) ke berbagai produsen kopi kemasan.

Sampailah pada kesadaran anak perempuannya yang sudah menjelajah Eropa dan merasakan berbagai kenikmatan kedai kopi di dunia barat. Ketika dewasa dan pulang, sebagai anak tertua, dia punya kewenangan mengintip pembukuan ayahnya. Kagetlah dia, ternyata beberapa kedai kopi di Eropa yang diminumnya, pemasok biji kopinya adalah ayahnya, orang Itu.

Terpikirlah, melipatgandakan keuntungan jika dijual bukan sebatas biji, namun setelah diroster dan dipilah dengan berbagai jenis olahan. Artinya, butuh kedai sendiri sebagai percontohan. Kedai kopi modern, butuh pendamping, bukan sebatas agar kekinian namun sebagai strategi merengkuh pasar anak muda yang belum familiar dengan minuman pahit penambah stamina itu. Kafenya harus punya citra modern, diundanglah adiknya yang di Italia. Suami adiknya asli orang Italia dan menggeluti usaha makanan khas negara itu. Sampailah ketemu formula, meracik berbagai makanan pendamping khas Italia di kedai kopi miliknya. Satu-satunya kedai yang menyiapkan berbagai jenis kopi dalam berbagai model penyajian, punya pendamping khas makanan Italia.

Benar, tak butuh waktu lama, ekspansi keluarga orang Itu dalam bisnis kopi bukan sebatas biji, bahkan kedai, dan berbagai alat meracik kopi sudah dikuasai. Di jalan-jalan protokol dan di pusat keramaian, sudah ada kedainya. Karyawannya, anak-anak muda yang bergilir bukan sebatas waktu kerja, tetapi juga bergantian di semua sebaran kedai yang dimilikinya.

Sekarang, bukan saja menguasai ekspor kopi, produk kopi berkualitas dari biji sampai bubuk, kedai sampai jualan mesin kedai kopi, sudah dikuasai pasarnya. Anak-anak muda yang akan membuka peruntungan dengan usaha “kedai kopi” dari alat dan bahan, mengambil dari tempat orang Itu.

Agen-agennya, sudah langsung turun ke Petani, jika memetik dan merawatnya begini, ini duitnya. Petani tak kuasa menolak uang tunai yang menggiurkan. Ada orang yang iseng masuk gelombang bisnis kopi itu dengan modal lima miliar. Tak butuh waktu lama. Tempo empat bulan, dua miliar uang modalnya sudah habis karena salah taksir harga. Salah menghitung kadar air dan selalu merugi meski punya biji kopi pilihan yang dikumpulkan, karena buntu hendak dijual kemana atau tertahan terlalu lama.

Era penjajahan, tak ada yang lebih kejam selain politik. Sekarang, era kemerdekaan, tidak ada yang lebih kejam selain dunia bisnis. Politik bahkan menjadi varian dan model kegemaran bermain domino di meja menghabiskan uang jatah hiburan tiap pekan para wirausahawan model orang Itu. Artinya, pengusaha yang akan masuk gelanggang politik di era kemerdekaan di negara tanpa daulat ini? Yang model demokrasinya maha mengerikan dimana negara adikuasa yang mengklaim bapak demokrasi saja tak berani mempraktikkan, Kades sampai Presiden, DPRD sampai DPD dan DPR, dipilih secara langsung, peran pengusaha sangat adigang, adigung, adiguna karena semua penguasa butuh legitimasi orang itu. Yang menjauh dan berusaha menjaga kedaulatan, keok, bahkan tergusur sebelum proses penetapan calon.

Menariknya, konfrensi kedai kopi itu akan kemana dalam peta bisnis semacam ini? Saya terkial-kial, tertawa sendiri sekaligus merasakan pedih, bayangkan. Semangat kreatif sejak mendesain logo warung, negosiasi dan meyakinkan banyak orang untuk kerja sosial dalam mewujudkan dunia literasi, mengembalikan esensi ngopi yang baristanya bukan sebatas SPG atau kelas pelayan, melainkan mahasiswa pascasarjana, yang ketika menyodorkan cangkir menanyakan, apa buku yang sudah dibaca? Apa info terbaru? Sampai bagaimana respon anda tentang kebijakan mencabut subsidi listrik? Atau seputar berita aktual. Mendadak, sudah diluncurkan kedai kopi yang sejenis di tempat lain, dengan jenis logo dan desain merk kedai yang sama, hanya beda “Ten” dengan “Three”. Saya hanya mau bilang, selamat datang di dunia bisnis, sodara. Tentu sembari tertawa. Sekaligus mengulang kalimat teman kami. Baik dan kreatif saja tidak cukup. Mungkin sodara-sodara, sesekali perlu belajar ijon dan bagaimana mudharabah itu digunakan untuk “alat” memukul tengkuk orang-orang miskin agar tak pernah bisa bangkit. Modal kreatif saja di zaman kegelapan apalagi di kotamu yang “bukan lagi” kota pendidikan itu, tak bisa hidup.

Betapa sulit dan susah payah kalian buat perpustakaan, ruang literasi, pusat obrolan ilmu dan ruang ngopi, sampai ada yang rela mengangkut ratusan buku hanya untuk meminjamkan dan membuka ruang baca di tempat terbuka, ini luar biasa biadab dalam sejarah kota pendidikan. Yang bisa jadi jika ada di era kolonial saja, pemerintah Hindia Belanda pasti akan menyekolahkan anak-anak “gila” macam begini ke negaranya agar kemudian tidak menganggu penindasan dan melestarikan kebodohan.

Bisa dibayangkan, surat-surat cengeng soal kegelisahan atas tertinggalnya pendidikan kaum perempuan di zaman penjajahan, begitu penuh empati diperlakukan para Sinyo, sampai kemudian diangkat jadi pahlawan dan disebut “habis gelap terbitlah terang”. Kok iya, ada setelah merdeka justru lebih parah nasib para pejuang pendidikan? Penderitaan anak-anak muda kreatif, mesti tertatih-tatih untuk bangkit. Namun yang pasti, saya ingin menyatakan satu hal. Yaitu, selamat datang dikejamnya dunia bisnis, sodara-sodara!

Mungkin kini sudah masuk zaman kalabendu. Zaman dimana marak fitnah dan orang bodoh yang diberi wewenang mengurusi kebutuhan publik. Maka, kalau dilihat dari sejarah kebangkitan Eropa, terutama Inggris, konferensi kedai kopi adalah jawabnya. Akan tetapi, perlu dihitung juga break even point, NPV atau IRR-nya. Tapi tenang saja, Orang Itu saja bias, kenapa sodara-sodara yang jauh lebih hebat tidak bisa! Pasti bisa. Yakusa, lah ya.(*)

Endri Y (Penikmat Kopi)