Kelamnya Dunia Pendidikan

Guratan tulisan ini untuk refleksi dunia pendidikan kita saat ini dengan judul “Kelamnya Dunia Pendidikan.” Kalau Pembaca tidak sepakat tentu saja tidak masalah dengan judul tersebut, karena memang hak pembaca untuk menolak judul dimaksud. Tetapi paling tidak, Saya hanya ingin menampilkan dan membuktikan sebuah “potret” kelam pendidikan kita yang belum bisa beranjak dari zaman “jahiliyah”nya. Betapa dari satu masa ke masa, dari tahun ke tahun, ternyata pendidikan kita belum memberikan kemajuan yang maksimal. Bahkan cenderung menunjukkan kemerosotan. Padahal, apabila dilakukan penelaahan secara seksama, maka yang dituntut oleh dunia pendidikan kita adalah masyarakat harus menghormati dunia pendidikan sebagai dunia yang paling anti dan paling peka terhadap berbagai macam dan bentuk yang disorientasi dari makna hakiki pendidikan itu sendiri. Maka sangat tidak etis jikalau pendidikan disangkutpautkan dengan penyelewengan-penyelewengan tersebut. Sekali lagi, tulisan saya ini hanya ingin melihat sisi kelam pendidikan kita yang semakin hari mengesankan ketidakberpihakan, ketidakadilan, bahkan mengesankan kebrutalan yang menjadi-jadi.

Bagaimana tidak dikatakan brutal, tanggal 2 Mei  yang secara “ritual” diperingati sebagai momentum bangkitnya pendidikan nasional kita, justru dicederai oleh sebuah insiden yang begitu tragis. “Insiden akademik” yang berakhir pada hilangnya “satu-satunya” nyawa yang dimiliki oleh Hj. Nuraini Lubis (63 tahun). Dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang dianggap oleh sesama rekan kerjanya memiliki loyalitas, berdedikasi tinggi dalam mendidik, harus meregang nyawa di tangan seorang mahasiswa lantaran karya ilmiah bernama SKRIPSI yang tak kunjung usai. Sekali lagi, inilah salah satu sisi kelam yang terjadi pada dunia pendidikan saat ini. Sementara di UIN Jakarta, seorang mahasiswa diduga mencuri komputer di perpustakaan kampus. Ini contoh kecil dari sisi kelam pendidikan kita saat ini. Dan Saya yakin masih banyak sisi-sisi kelam lainnya yang mungkin kita tidak pernah berfikir atau merasakannyaseb agai sebuah bentuk kemunduran dan kemandulan yang tersistematis, yang melibatkan tidak saja institusi pendidikan, akan tetapi pelaku pendidikan itu sendiri.

Sejatinya Hari Pendidikan Nasional adalah momentum yang menjadi refleksi sekaligus parameter yang menunjukkan “progress report” pendidikan kita. Namun, apa yang kita lihat pada hari/momentum itu? tak banyak yang berubah, dari tahun ke tahun, potret pendidikan di negeri ini seolah tak menunjukkan kemajuan yang berarti. Tahun demi tahun terus berganti, namun fakta ‘miris’ masih saja banyak ditemui. Bahkan, tak perlu jauh-jauh hingga ke luar Jawa, di pulau Jawa yang menjadi “katanya” menjadi “jantung” pendidikan di negeri ini pun masih banyak kejadian yang memprihatinkan. Lihat saja, ketika sebagian anak-anak sekolah pergi menuntut ilmu dengan akses pendidikan yang relatif mudah, di sebagian yang lain kita masih menemukan sebuah “perjuangan” lain demi mengenyam pendidikan. Melintasi jembatan darurat, menyeberangi derasnya arus sungai, naik turun bukit menjadi sebuah pemandangan “miris” yang terjadi di negeri ini. Sebuah perjuangan anak negeri atas nama niat besar dan luhur demi cita-cita dan mimpi-mimpi besar mereka.

Sementara itu, hal memprihatinkan juga bisa kita temui ketika kita melihat banyak liputan di media massa tanah air yang menyuguhkan fakta sebagian anak-anak Indonesia masih harus belajar di sekolah yang yang kurang atau bahkan kurang layak. Banyak sekolah yang rusak dan nyaris roboh masih menjadi tempat belajar para siswa kita, tidak hanya itu, sebagian juga masih merasakan belajar di tempat-tempat darurat, entah itu di pengungsian, barak, kandang ternak, rumah warga, rumah/tempat ibadah dan tempat-tempat yang kurang layak lainnya menjadi catatan tersendiri dalam dunia pendidikan kita.

Sisi gelap pendidikan kita, bukan sebatas pada sarana prasarana pendidikan dan akses menuju pendidikan saja. Dalam hal sistem pendidikan pun juga selalu menjadi sorotan banya kalangan. Masih segar dalam ingatan kita, carut marut Ujian Nasional (UN) tingkat SMA sederajat dan SMP sederajat beberapa waktu lalu juga semakin menambah daftar hitam sistem pendidikan. Dalam hal pengajaran pun, di negara kita semua pelajar seolah dituntut untuk menguasai semua bidang atau mata pelajaran, tentunya dengan “nilai” sebagai ukurannya. Itulah mengapa saat ini pendidikan ditempuh hanya berorientasikan pada nilai akhir yang diperoleh bukan lagi berorientasi pada seberapa besar ilmu yang bisa didapat dan diterapkan.

Biaya Pendidikan saat ini seakan menafikkan kemampuan ekonomi masyarakat kita. Mahalnya biaya pendidikan saat ini, semakin menambah catatan hitam pendidikan. Ketika akses pendidikan bagi rakyat miskin semakin terpinggirkan oleh mahalnya biaya yang harus mereka keluarkan. Meskipun memang saat ini bantuan pendidikan bagi rakyat miskin dari pemerintah mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, namun tetap saja belum berarti besar bagi pendidikan kita. Terlebih lagi ketika tuntutan hidup semakin mendesak mereka untuk lebih memilih mencari sesuap nasi dari pada bersekolah. Pemberlakuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) seakan menambah sekaligus menunjukkan bobrok dan hancurnya sistem pembiayaan Pendidikan Tinggi kita. Pemberlakuan sistem pembiayaan kuliah berbasis UKT, pada akhirnya diidentikkan dengan telah terjadinya kapitalisasi dalam pendidikan kita saat ini.

Potret kelam yang lainnya dari dunia pendidikan kita ditunjukkan oleh tingkat kesejahteraan sebagian tenaga pendidikan di Indonesia. Masih banyak guru-guru di Indonesia yang masih mendapatkan gaji minim dan jauh dibawah standar kebutuhan hidup layak. Dengan segala kebesaran hati, mereka masih berkenan memikul tugas mulia mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberantas kebodohan. Meskipun tidak memungkiri realitas bahwa mereka juga membutuhkan gaji yang layak agar juga bisa hidup dengan sejahtera.

Sekelumit potret buramnya pendidikan di negara kita, dan saya rasa masih banyak sisi-sisi gelap lainnya yang belum saya tuliskan di sini, harus dijadikan sebagai tonggak dalam membangun pendidikan kita yang lebih bekualitas. Harapan saya, semoga dengan seiring bergulirnya waktu, pendidikan kita semakin mengalami kemajuan hingga cita-cita luhur “mencerdaskan kehidupan bangsa” bisa benar-benar terwujud di negeri kita tercinta.

Suatu hal yang tidak terbantahkan bahwa pendidikan adalah penopang dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karenanya, dibutuhkan kekuatan yang besar dalam peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia agar tidak kalah bersaing dengan kualitas mutu sumber daya manusia di Negara-negara lain. Semoga!

Buyung Syukron (Dosen STAIN Jurai Siwo Metro)