Kebebasan, Keberagaman dan Toleransi

Titik terpenting perbedaan manusia dengan ciptaan Tuhan lainnya adalah iradah (free will), kebebasan untuk memilih jalan kebajikan (taqwa) atau jalan kejahatan (fujur). Kebebasan sebagai kodrat kemanusiaan dari Tuhan menjadi hak asasi yang didapat sejak lahir, sehingga harus dijaga dan dilindungi. Setiap bentuk perampasan terhadap kebebasan pada dasarnya adalah pelanggaran terhadap hak dasar dan pencideraan terhadap kodrat dari Tuhan.

Ketika Tuhan menetapkan kebebasan memilih antara fujur dan taqwa, sesungguhnya Tuhan sudah memosisikan manusia sebagai ciptaan unggul dan dewasa dengan akal-budinya, sehingga berhak menentukan jalan hidup yang dianggap benar dengan segala konsekuensi yang akan ditanggung.

Kebebasan itu secara konsisten dan berlanjut dijaga hatta ketika Tuhan mengirimkan utusan (rasul) sebagai penyeru dan pengingat kepada kaum yang lalai, pun telah diwanti-wanti bahwa tugas utama para rasul itu hanyalah pengingat (innama anta muzakkir) bukan penentu dan pemaksa pilihan mereka (lasta ‘alaihim bi mushoithir).

Namun, di usia dunia yang mulai menua, kebebasan kembali ditafsir dan diperdebatkan, beberapa kelompok menolak keberagaman, atas nama penegak kebenaran yang mahasuci, mereka memaksakan setiap orang yang berbeda untuk tunduk-patuh dan ikut atas kebenaran interpretasi mereka.

Sebenarnya kebebasan juga tidak berarti dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas, batasan-batasan kebebasan adalah kebebasan itu sendiri. Kebebasan individu akan dibatasi oleh kebebasan orang lain, semisal orang bebas mendengarkan musik sekeras-kerasnya akan dibatasi oleh kebebasan orang yang juga bebas untuk menikmati ketenangan tanpa kebisingan suara musik, kebebasan untuk belajar dan tidur nyenyak. Orang bebas untuk menjalankan ibadah puasa, dan di sisi lain orang juga bebas untuk tidak berpuasa.

Bertemunya antar kebebasan itulah yang melahirkan toleransi, kesepakatan-kesepakatan dan aturan-aturan yang disepakati bersama, tanpa harus saling menggusur dan meniadakan.

Imajinasi dan Utopia

Eksemplar sejarah kebebasan di tengah keragaman merupakan perjalanan panjang yang tidak pernah sepi dari pemaksaan untuk ikut dan tunduk pada pilihan-pilihan mayoritas atau tirani kekuasaan. Kekuasaan dan mayoritas selalu menganggap kelompok-kelompok minoritas berpotensi mengancam sehingga harus dipaksa mengamini tafsir dan kemauan mayoritas, mereka tak boleh diberikan pilihan-pilihan bebas.

Ada banyak faktor yang ikut menjadi penyebab lahirnya tradisi nir-tolerasi ini. Pertama, adanya klaim kebenaran yang berlebihan oleh satu kelompok, bahwa kelompok merekalah yang paling benar sehingga menolak dialog. Dalam kondisi yang demikian, kebenaran tidak lagi menjadi milik semua namun hanya milik dan privilese sebuah kelompok dan golongan saja. Kelompok dan golongan ini selalu beranggapan bahwa merekalah repsentasi dari seluruh kebenaran. Ketiadaan dialog demi pertukaran perspektif dan pencarian titik temu (common denominator) ini pada akhirnya hanya menghasilkan eksklusifme dan fanatisme, yang memicu friksi dan disharmoni di masyarakat.

Kedua, adanya monopoli tafsir kebenaran, dalam arti bahwa klaim kebenaran yang berlebihan pada etape selanjutnya melahirkan sakralisasi terhadap tafsir kebenaran. Sakralisasi terhadap tafsir kebenaran tertentu sering diregulasi dan ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu pula. Penjagaan terhadap dominasi kekuasan dan rezim, cenderung berjalan beriringan dengan monopoli tafsir kebenaran. Interpretasi yang berbeda lantas diberangus oleh rezim politik dengan alasan meresahkan masyarakat.

Ketiga, status quo, adanya imajinasi dan utopia berlebihan akan lahirnya kerajaan kebenaran yang tunggal dan kekhawatiran atas ancaman kemapanan. Hal ini adalah bentuk lain dari sakralisasi rezim kebenaran yang berkuasa dan monopoli tafsir, sehingga atas nama kebenaran melakukan kekerasan dan praktik-praktik intimidasi serta pembatasan terhadap kelompok yang berbeda, baik berupa pengenaan stigma sesat sehingga harus ditobatkan dan dikembalikan kepada ajaran yang benar sampai pada praktek penghalalan darah atas kepercayaan yang berbeda.

Membangun Sebuah Jembatan

Tesis terpenting dari kehidupan adalah menyelenggarakan kebebasan, mengetengahkan keadilan, melahirkan kesejahteraan, dan mengundangkan kebersamaan. Arti penting kebebasan karena memang kebebasan adalah hak yang dari lahir sudah melekat dalam kehidupan, dengannya manusia hidup dan menghidupi. Arti penting keadilan, karena hadirnya ideologi dan sistem apapun di dunia ini demi tegaknya keadilan.

Arti penting kesejahteraan karena manusia pada hakikatnya adalah homo economicus yang selalu haus keuntungan, sehingga diperlukan rotasi kekayaan dan minimalisir penderitaan, saling berbagi dan peduli. Arti penting persamaan, karena setiap manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya lahir sebagai sebuah kerumunan yang hidup dan matinya di tempat yang sama, sehingga dengan keterbatasannya bukan harus dibedakan melainkan harus saling bekerjasama dalam segala hal demi kebersamaan.

Tesis dan tugas ini semakin penting dilaksanakan di tengah semakin marak dan kuatnya pembentukan laskar-laskar yang mengklaim sebagai pewaris sah kebenaran, dan negara meresponnya sebagai kekuatan dan alat baru melanggengkan kekuasaan dengan cara membentur-benturkan kekuatan-kekuatan ini, bahkan kelompok-kelompok yang pada dasarnya bodoh ini, mulai disiapkan sebagai basis kekuatan bela negara yang dilatih.

Lebih bodoh dan membuat gregetan lagi, kelompok-kelompok berbasis agama dengan mudahnya terprovokasi dengan isu-isu murahan bahkan cenderung berisi fitnah yang disebar oleh media-media online yang sesungguhnya juga mencari penghidupan dari adsense dengan mengandalkan jumlah pengunjung, semisal isu penghapusan perda syari’ah, seakan-akan penghapusan perda yang mayoritas merupakan kebijakan daerah copy-paste tersebut adalah menghapus syari’ah, padahal menghapus perda adalah menghapus perda bukan menghapus syari’ah.

Fenomena tersebut, melahirkan problem proses interaksi sosial yang terbangun alam konteks tribus-society, di mana setiap kontestasi ide dan wacana-wacana serta argumentasi publik tidak menemukan katalisnya dengan baik dalam lingkungan sosial, konteks inilah yang dalam istilah Anthony Giddens (1985) membentuk keterpecahan kolektif di kalangan agen-agen pembaharu, antara practical consciousness (kesadaran praktis) dan diskursive consciousness (kesadaran wacana).

Untuk itu, penting menjadi renungan apa yang diutarakan oleh Martin Ivany agar kita melakukan pembelajaran sosial-politik secara utuh tentang bagaimana hidup di dalam masyarakat asosiatif, yang mengajarkan toleransi, plural, dan memiliki otonomi individu yang autentik, sehingga kita tidak menjadi sektarian, berebut kebenaran sepetak yang memilah-milah kelompok untuk berbuat kebajikan, melainkan menempatkan kecerdasan dan keshalihan sebagai mode of existency di atas setiap identitas dan entitas.

 

Penulis : Rahmatul lUmmah (Pengelola Sai Wawai Publishing)