Kasepuhan Ciptagelar

Sebuah desa bernama Ciptagelar yang berada di Sukabumi, Jawa Barat. Ada sekitar 29.000 jiwa yang hidup wilayah tersebut dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani. Menggunakan system panen satu kali dalam setahun, berbeda dengan system yang dilakukan petani pada umumnya. Meskipun hanya dengan panen satu kali dalam setahun padi yang dihasilkan mampu bertahan 3-5 tahun  sebagai stok lumbung pangan ke depan untuk menghidupi warga yang berada di daerah tersebut.

Yoyo Yogasmana salah satu warga serta salah satu tokoh masyarakat mengatakan sebuah konsep kehidupan yang dijalani oleh penduduk ciptagelar dari para leluhur terdahulu yaitu menganggap beras adalah kehidupan, ketika seseorang menjual beras maka secara tidak langsung mereka menjual kehidupan. Dalam adat dan budaya mereka menjual beras merupakan dosa besar dengan konsep beras adalah kehidupan dan kehidupan identik dengan nyawa, apabila beras dijual maka dapat diartikan menjual nyawa, jadi menjual beras sama halnya dengan menjual kehidupan. Begitulah konsep yang tetap terjaga sehingga warga Ciptagelar melarang untuk menjual beras. Berdasarkan konsep dari leluhur terdahulu mereka dikatakan bahwa setiap yang mau hidup pasti mau menanam.

Ketika musim tanam padi (ngaseuk) warga Ciptagelar masih menggunakan adat tradisi serta budaya yang telah leluhur mereka lakukan sejak dahulu kala secara turun temurun. Meskipun hanya menggunakan tradisi dari leluhur mereka, tanpa adanya teknologi modern yang digunakan pada umumnya sampai pada saat musim panen (mapit), hasil dari bahan pangan yang mereka tanam selalu saja mencapai hasil yang lebih dibandingkan menggunakan bahan kimia walau hanya melakukan penanaman bahan pangan satu kali dalam setahun.

Dibalik kentalnya adat dan budaya yang mereka lakukan dalam hal bercocok tanam guna memenuhi pangan, mereka tidak ingin tertinggal dengan kemajuan teknologi yang ada pada zaman modern. Abah Ugi, seorang tokoh masyarakat yang menggantikan posisi ayahnya. Ia memiliki hobi bermusik serta mengembangkan berbagai macam alat elektronik yang dipelajarinya ketika mengenyam pendidikan di luar desanya. Dengan segala pengetahuan yang ia miliki, Abah Ugi mampu membuat terobosan baru dalam hal membuat alat guna mempermudah pekerjaan masyarakat dalam kehidupan di desanya tersebut. Bermodalkan pengetahuan tersebut ia bisa membuat alat telekomunikasi, pemancar tv lokal serta pemerataan listrik yang sumber energinya berasal dari tabir surya dan turbin yang dibuat dari bahan bahan bekas meski sebagian, secara gotong royong.

Segala teknologi yang dibuat di Ciptagelar merupakan hasil kreatifitas warga secara mandiri guna mengelola segala sumber daya alam yang ada tanpa harus merusak dan mencemari keadaan alam sekitar, sehingga warga dapat hidup berdampingan dengan alam sampai pada keturunan-keturuan mereka di masa yang akan datang.

Berdasarkan konsep kehidupan yang telah mereka dapatkan dari leluhur mereka, warga Ciptaglar merasakan kesejahteraan dan kedamaian di dalam kehidupan bermasyarakat. Bersama gotong royong, membangun solidaritas, hidup dengan sosialisme, mereka memikirkan keberlangsungan hidup warganya yang disiapkan sejak dini. Meskipun masih terdapat kekhawatiran akan adanya perubahan pola hidup masyarakat mereka karena adanya perkembangan zaman. Namun mereka tetap berusaha untuk mempertahankan adat istiadat serta budaya yang telah mereka terima dari para leluhur terdahulu untuk menjamin kehidupan mereka agar tetap sejahtera. Sehingga warga Ciptagelar mengisolasikan diri dari segala perkembangan zaman yang dapat mengancam tradisi yang telah mereka lakukan hingga saat ini.

Melihat kehidupan masyarakat Ciptagelar yang sejahtera meski mengisolasikan diri mereka bersamaan dengan adat istiadat serta budayanya dari perkembangan zaman, terbesit pertanyaan dalam benak, mengapa pemerintah Indonesia tidak mempelajari kehidupan mereka untuk membuat kesejahteraan di bangsa ini? Padahal mungkin saja dengan mengadopsi kehidupan dari leluhur terdahulu di bangsa ini, tidak dipungkiri dapat membuat kesejahteraan yang merata dalam masyarakat Indonesia. Mengapa pemerintahan malah mengadopsi budaya asing yang jelas jelas merugikan bagi bangsa ini? Dalam hal teknologi, bolehlah bangsa ini mengadopsi dari bangsa asing guna membantu pekerjaan masyarakat agar lebih mudah, tetapi masih dalam konteks tidak mencemari dan merusak alam sekitar. Tetapi untuk bahan pangan, bangsa ini terkenal sangat kaya akan segala bentuk hasil alam sejak dahulu dari para leluhur yang hidup berdampingan dengan alam. Apakah pemerintah menggunakan gengsinya agar dapat bersaing dengan bangsa lain? Apakan pemerintah terlalu terobsesi membuat bangsa ini maju, tanpa melihat keberagaman adat istiadat serta budaya yang telah dianut selama ribuan tahun? Kemudian bagaimana bila gengsi dan obesi tersebut sudah tercapai dengan mengorbankan identitas bangsa yang terkenal ramah, solid dalam segala hal, gotong royong dan berjiwa sosial yang tinggi?

Andai saja semua tradisi positif yang diturunkan oleh para leluhur terdahulu dapat terjaga dan berlangsung hinga saat ini, mungkin saja bangsa yang besar ini bisa bersaing dengan bangsa lain menggunakan identitas asli bangsa ini tanpa harus mengadopsi budaya asing untuk membuat Negara ini maju yang kemudian menghilangkan identitas bangsa secara perlahan-lahan.

Fahriyani (Pegiat Jurai Siwo Corner)