Kartini bersama Literasi

Penulis : Supriyadi Nawa Aksara

Hari Kartini–harus diakui dengan sedih–kerap dirayakan kebanyakan orang dengan sejenis laku bebodoran: lomba mirip Kartini, kontes Kartini dan Kartono, dan macam-macam seremonial artifisial lainnya.
Kita paham setiap orang punya cara berbeda dalam mengenang kepahlawanan Kartini. Siapa saja bebas untuk tanpa ragu mengumbar pujian kepada Kartini dengan caranya masing-masing. Namun pencinta sejati Kartini wajib merasa dilecehkan atas perbuatan neko-neko itu. Horison wawasan kita seakan dikerdilkan oleh gejala pendangkalan pemahaman tentang siapa Kartini. Bila fenomena ini dianggap lumrah dan dibiarkan terus menerus, niscaya nilai kepahlawanan Kartini perlahan-lahan luruh. Lantas anak cucu kita nanti dapat warisan pengetahuan apa tentang Kartini?
Mari menugasi diri untuk membaca (kembali) buku “Panggil Aku Kartini Saja” karya Pramoedya Ananta Toer. Buku itu salah satu dari yang paling apik menggelar kisah tentang Kartini. Pramoedya Ananta Toer dengan piawai mengartikulasikan setiap jengkal jejak hidup Kartini. Dengan bekal pengalaman menjelajahi buku itu kita bisa terhindar dari cara memandang sosok Kartini terbatas pada segi simbol belaka.
Kartini lahir di Jepara, Hindia Belanda, 21 April 1879. Ketika dilahirkan, Kartini tak kuasa menolak takdir menjadi putri bangsawan Jawa: Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Karena itu, sejak masih bocah Kartini tumbuh dalam tatanan ekonomi-sosial-budaya-politik patriarkhis dan berhimpitan dengan feodalisme yang menubuh pada kaum kolonial Belanda. Alhasil, Kartini, seperti halnya anak perempuan lainnya di zaman itu, tumbuh dalam belenggu “takdir”: sumur, dapur, kasur.

Betapapun sulit jalan hidup Kartini, pada akhirnya ia tumbuh menjadi remaja “literate” yang kebak gagasan-gagasan liberatif. Sewaktu kecil ia memperoleh kesempatan mengenyam bangku sekolah. Di zaman kolonial Belanda, gerbang pendidikan tertutup rapat bagi anak-anak pribumi, kecuali anak bangsawan. “Berkah” pendidikan itulah jadi cikal-bakal kepekaan dan kesadaran Kartini atas nestapa kaum tertindas.

Cita-cita Kartini untuk membela hak-hak kaum pribumi menemui tikungan-tikungan tajam. Ia sempat berada di kebimbangan tak bisa menuntaskan sekolahnya di Europese Lagere School (ELS) karena dipingit. Kendati demikian, ia tidak larut dalam masa-masa murung. Di tengah masa sulit itu, ia justru berhasil membangkitkan gairah literasi. Ia semakin keranjingan membaca buku. Bahkan, ia mulai berpikiran dan tergoda untuk menulis, di samping menjalin persahabatan dengan Rosa Abendanon yang telah mendukung dan menyumbang banyak inspirasi bagi Kartini.

Kartini sadar, bila dipaksakan dengan kekuatan fisik, perjuangannya bakal sia-sia belaka. Maka, ia mengencangkan tekad untuk berjuang lewat kekuatan aksara. Ia mulai tekun membaca buku-buku dan surat kabar Eropa. Wacana-wacana dalam “De Locomotief”, surat kabar lokal asuhan Pieter Brooshoof, merupakan bacaan wajib Kartini. Ia juga rutin membaca kiriman majalah “Leestrommel”, yang mengupas tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Kartini, lewat ziarah bukunya, sukses memperluas cakrawala pengetahuan; mempertajam daya kritis; dan memahirkan keterampilan menulis. Di kemudian hari, Kartini berusaha bicara, menyapa, dan menyentuh orang-orang yang lain dengan menulis. Kartini ingin menanggapi penjajahan Belanda dengan tulisan. Ia lantas menuangkan gagasannya dalam tulisan-tulisan, lalu beberapa di antaranya diterbitkan oleh salah satu majalah wanita Belanda yang biasa ia baca: “De Hollandsche Lelie”.

Melalui tulisan-tulisannya, Kartini dengan lantang menyuarakan perlawanan atas ketidakadilan kaum kolonial Belanda. Ia menuntut persamaan hak, menentang feodalisme, dan melawan ekploitasi atas rakyat pribumi.

Yang mesti dicatat, kekuatan Kartini untuk menggugat segala bentuk penjajahan itu sebenarnya tumbuh pasca pergulatannya dengan dunia literasi. Juga hasil dialog intensif dengan sejumlah korensponden yang andil mengekskalasi kesadaran Kartini. Maka, perjuangan Kartini melawan penjajah, harus dingat dalam-dalam, adalah perjuangan dengan memanggul senjata literasi.

Perjuangan Kartini kian menggelora ketika ia memperoleh donasi wawasan dari De Stille Kraacht karya Louis Coperus, roman-feminis karya Goekoop de-Jong Van Beek, juga Die Waffen Nieder, roman anti-perang karya Berta Von Suttner. Estelle Zeehandelaar, remaja sosialis asal Belanda, juga patut diapresiasi. Estelle dengan setia meladeni Kartini untuk bertukar gagasan lewat surat-menyurat, termasuk menjadi pendengar yang sabar ketika Kartini hendak mencurahkan segala isi hatinya.

Bukan main kegairahan Kartini berjuang bersama literasi. Dialah oase inspirasi bagi para pejuang wanita yang ingin melawan dengan strategi berbeda. Ia pahlawan mulia yang memuliakan literasi. Kita tentu “terlarang” untuk memperingati hari Kartini dengan asal-asalan.