Jujur dan Ku Tandai Kau!

Gejala sosial yang berkembang di masyarakat, semakin menjauhkan orang dari perilaku jujur dan percaya diri. Di berbagai tempat kita sering menemukan orang yang berpura-pura kaya atau yang berpura-pura miskin. Mahasiswa dan mahasiswi bergaya trendy menggunakan pakaian dengan model terbaru, pura-pura hilang ingatan emak-nya di kampung bermandi peluh menggendong padi, sebagai buruh. Tak jujur dan tak percaya diri untuk hidup apa adanya.

Berbanding terbalik, banyak pejabat dan orang kaya juga berpura-pura miskin, ketika berhadapan dengan proposal sumbangan, permintaan terlibat dalam kegiatan sosial, atau saat bertemu dengan orang-orang miskin yang perlu bantuan. Tak jujur dan kikir.

Namun, biasanya ketika mereka membutuhkan simpati dan dukungan rakyat, mereka tak sungkan menggunakan simbol-simbol kejelataan rakyat, makan nasi aking meski sesudahnya sakit perut karena ususnya yang manja dan tipis, menggunakan sandal jepit walau tak ada pantas-pantasnya, masuk ke lorong-lorong pemukiman yang kumuh dan bau, walau harus sambil menutup hidup. Tak jujur, bangun citra dan pasti pamrih.

Belakangan juga, kita dijejali pemberitaan media, tentang perempuan ABG yang masih berseragam putih abu-abu, mengaku anak jendral dan membentak-bentak Polwan sambil mengacungkan jari telunjuk dan berteriak “ku tandai kau!”.

Bukan hanya itu, banyak hal-hal lucu yang sudah lazim kita saksikan di sekitar kita, sepeda motor dan mobil ditandai dengan stiker-stiker tertentu seolah hendak memberi isyarat “keluarga pejabat, keluarga tentara, atau keluarga institusi-institusi yang terhormat” sehingga yang bersangkutan juga harus dihormati.

Duh Biyung, gejala sosial macam apa ini? Sebegitu sulitnyakah menjadi orang yang jujur dan menjadi pribadi apa adanya, pribadi yang keukeh dengan autentisitasnya di tengah maraknya slogan ‘Be Your Self’ dari para motivator? Bagaimanapula menjelaskan fenomena sosial seperti ini?

Fenomena sosial yang melampui tanda dan kenyataan sebenarnya. Yasraf Amir Pilliang menjelaskan ini sebagai gejala hiperrealitas atau hipersemiotika. Foucoult menyebutnya sebagai kedalaman yang lenyap oleh kedangkalan, yang lambat akan tergerus oleh kecepatan, yang kurus dan kegemukan akan lenyap oleh yang berdada bidang dan bertubuh sintal, orang beramai-ramai menyembah simbol dan merayakan hal-hal kekinian. Adorno dan Baudrillard menyebut gejala ini sebagai ciri dari masyarakat komoditas dan konsumsi.

Tren bohong ini, meskipun diakui sebagai sebagai sesuatu yang salah semakin memperjelas kenyataan bahwa manusia semakin takluk pada gemilau materialisme yang dipoles dan bungkus dengan citra modern. Jujur dan apa adanya menjadi hal yang tak diminati.

Fenomena foto dengan kamera 360, memoles wajah yang penuh jerawat menjadi semulus kulit bayi, memamerkan jidat hitam sebagai tanda rajin salat, update status sedang bangun di sepertiga malam, puasa Senin dan Kamis, numpang foto narsis di mobil-mobil mewah hingga memposting aktifitas yang menunjukkan sedang berada di cafe-cafe mewah dengan makanan-makanan enak.

Budaya materialisme yang serba konsumtif dan instan ini, bergerak secara pasti menyentuh bagian-bagian terpenting dari kehidupan, mulai dari mode, style, ucap dan sikap, yang didesakkan, dipraktikkan, dan dikampanyekan sehingga nyaris semua orang mengaminkannya baik secara sadar maupun setengah sadar. Rasionalisasi dan landasan pikirnya cukup sederhana, menguntungkan atau tidak!

Maka, memasang stiker berlogo institusi tertentu jika dianggap menguntungkan dan bisa menakut-nakuti orang, khususnya polisi satuan lalu lintas, tempel saja. Tak perlu berpikir bahwa sesungguhnya sikap itu justeru menggerus autentisitas, kepercayaan diri dan menunjukkan bahwa yang bersangkutan sebenarnya bukanlah siapa-siapa, selain dari ‘hanya’ orang kerdil yang berlindung di balik kebesaran stiker.

Menguntungkan atau merugikan dalam cara pandang materialisme, bisa dipastikan mengabaikan nilai-nilai yang tak tampak. Maka, menjadi tidak penting sejati dan apa adanya kehidupan sebenarnya, karena yang terpenting adalah cover dan penampilan.

Pun, dalam konteks yang berbeda menjadi tidak penting kebaikan-kebaikan menyantuni dan memberi makan orang miskin jika tak menguntungkan secara materi dan tidak menambah gengsi kemodernan, kecuali menjelang dan mendekati pemilu.

Rasional dan logis adalah membantu, menjamu, dan melayani orang-orang kaya karena itu terkait soal gengsi, soal modernitas, soal tongkrongan. Jika anda miskin memiliki komunitas miskin, maka jangan pernah bermimpi mengajak perusahaan atau orang-orang kaya terlibat, mereka tidak akan tertarik, kecuali anda melobinya menggunakan mobil mewah, meyakinkan kegiatannya akan digelar di gedung mewah.

Untuk mengurai dunia yang dilipat ini, Foucault menempelinya dengan istilahironi heronisasi (irony of heronization). Di bawah ironi heronisasi ini, manusia modern terus-menerus mencoba menemukan jati dirinya. Semua orang ingin menjadi icon pop, sebagai sentrum. Namun, sayangnya mereka yang mencari jati dirinya itu, justeru berjalan semakin menjauh dari jatidiri yang dicarinya. Mereka sedang membudidayakan kebodohan. Kebahagiaan artifisial. Kesenangan instan.

Ya Sudahlah, jika kebohongan, berlindung di balik kebesaran nama orang lain sudah menjadi pilihan gaya hidup, jika tak ada lagi nilai-nilai asketis (kesederhanaan, kejujuran, dan rela berkorban), yang ada mungkin hanya snobisme, karena masyarakat konsumen tidak lagi bekerja demi memenuhi kebutuhan, melainkan memenuhi gaya hidup, maka marilah kita nikmati fragmen pesimisme dalam novel Senja di Jakarta-nya Mochtar Lubis. “..karena manusia tidak percaya pada manusia, tidak percaya bahwa manusia sama manusia bisa dan harus sama-sama hidup. Si komunis begitu, si demokrat begitu, si imperialis begitu, si merdeka begitu. Semuanya sama saja. Bahwa tidak guna cape-cape bertukar pikiran seperti ini. paling benar ialah urus diri sendiri, cari kebahagiaan sendiri menurut kehendak sendiri, dan persetan dengan dunia ini?”

 

Dan, Ku Tandai Kau!!!

 

Penulis : Rahmatul Ummah