Jokowi Itu China, Komunis dan Juga Syiah

Globalisasi itu produk Amerika dan Eropa. Eurasia terintegrasi adalah produknya Rusia. Globalisasi bertarung dengan Integrasi Eurasia dalam formatnya yang riil menimbulkan gesekan di Asia Barat dan Asia tengah yang keduanya kaya minyak.

Afghanistan adalah titik mula penting yang dari situ Amerika akan mendapat pijakan kuat berupa ladang minyak milyaran barel dan juga landasan perang yang dapat menjepit Iran dari sisi Timur selain Arab Saudi, Bahrain, Qatar dan lain-lain negara Arab di sisi barat. Rusia sulit di kutak kutik di Khazakstan, dan daerah sekitarnya yang juga kaya minyak. 29 Milyar Barel minyak adalah jumlah yang lumayan membuat Putin tidak terlalu kelaparan minyak mentah. Yang menggiurkan Putin adalah Suriah yang telah bekerjasama dengan Iran untuk pipanisasi minyak ke Eropa. Selain biaya eksplorasinya murah, segala ceceran tehnis penjualan sangat mudah.

Problemnya, bukan hanya Rusia yang ngiler melihat itu semua, Qatar dan Turki juga tertarik dalam skema gas bumi suriah. Entah di penjualan, pipanisasi ataupun eksplorasi.

Ditengah kebuntuan negosiasi Gas Bumi itulah, konflik suriah meletus. Bagian paling mudah untuk dibenturkan dari sosio cultural masyarakat kepala panas disana adalah isu pembunuhan atas nama agama. Konflik Madzhab Sunni-Syiah.

Jika di Asia Barat Golbalisasi harus berperang untuk Biaya Bahan Baku, maka di Asia, Eropa, China dan Jepang, Globalisasi harus bertarung demi C-M’ versus One Belt One Road (OBOR) Xi Jinping.

Globalisasi adalah produknya Amerika dan Eropa. New Silk Road adalah produknya China. Jalur perdagangan ini menciptakan beberapa koridor ekonomi yang membentang lebih dari 60 negara di seluruh dunia. Mengintegrasikan Asia, Eropa, dan juga Afrika baik di wilayah darat maupun laut.

Indonesia adalah salah satu bagian penting dari jalur tersebut dan karena itulah maka Poros Maritim Indonesia didukung penuh dalam skema infrastruktur yang juga memang di dukung china via Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

Indonesia adalah negara yang sejak tahun 50-an memang dibombardir dengan jutaan dolar bantuan dan investasi Amerika yang dilengkapi dengan kanal industrialisasi Jepang yang high tech. Jika anda melihat indonesia saat ini sangat Japan centris, itu karena amerika yang mau…

Ditengah dominasi Nipon yang memasarkan barang jadi dan Amerika – Eropa yang lapar Bahan baku atas nama Nasionalisme dan NKRI harga mati sejak tahun 60-an, datanglah ide menjadikan indonesia sebagai bagian Poros Maritim Dunia yang juga bagian dari Jalur Perdagangan One Bealt One Road-China pada tahun 2014.

Salah satu bagian paling mengerikan dari itu semua adalah idenya untuk membuat terusan di Thailand, mempersingkat jalur perjalanan dan menjadikan Sabang sebagai pengganti Singapura. Tentu saja selain itu industrialis bahan baku yang sebelumnya berbendera Amerika sangat khawatir jika nantinya, diawali dengan berbagai bantuan, indonesia signing kontrak dengan perusahaan minyak raksasa dari rusia.

Di tengah ketegangan atas situasi hilangnya status indonesia sebagai penyedia tenaga kerja murah, sumber daya murah dan pembelanja paling gila-gilaan,dan hancurnya dominasi Singapura sebagai yang terdepan dalam lalu lintas perdagangan asia tenggara, kelompok lama yang terafiliasi dengan kekuatan Poros yang pro Globalisasi telah membuat sebutan baru untuk Jokowi yang tampaknya lebih nyaman berdekatan dengn China yang memberi bantuan dana dengan biaya bunga lebih rendah. Sebutan mereka ialah: “China” dan “Komunis”. Isu yang sama dengan isu yang dihembuskan secara masiv di masyarakat.

Oh iya jangan lupa, karena Iran adalah Suplier andalan Gas Bumi selain Suriah dalam keseluruhan skema “One Bealt One Road” dan “Eurasia Terintegrasi” itu maka karena itulah Jokowi juga otomatis seorang Syiah.

Isu yang sama yang dihembuskan mereka secara masif di masyarakat.

“O” aja ya kan?

Khairun Fajri Arief